Belajar dari Pohon Akasia

Di jalan depan kantor suami, berderet tumbuh pohon akasia. Mungkin umurnya baru 10-15 tahun (aku tak pandai menaksir umur pohon), masih kecil. Suatu pagi, iseng memperhatikan salah satu dari pohon itu, tercetuslah perkataan ke suami, “Mas, kasihan ya, pohon akasia itu…”

“Emang kenapa?” tanyanya tak mengerti.

“Lihat deh, masih kecil gitu benalunya sudah banyak.”

“Oh…” komentar suami datar, tak terlalu tertarik.

Tapi buatku, aku benar-benar sedih melihatnya. Daun pohon akasia yang kecil jarang-jarang, kontras sekali dengan daun benalu yang tumbuh di batangnya: lebar dan lebat. Aku membayangkan di dalam, sel-sel kayunya bertarung mempertahankan makanan dari jarahan akar-akar benalu.

Sore harinya, ketika jalan pulang, aku melewati pohon akasia yang lain. Kali ini pohonnya besar, mungkin usianya sudah puluhan tahun. Daunnya rimbun dengan batang-batang yang kokoh. Aku kagum, “Wah, kuat sekali Akasia ini.” Sambil bergumam sendiri aku melihat ke atas, ke rimbun dedaunan. Dan terkejutlah aku karena kulihat bertengger di sana: benalu yang tumbuh dengan lebatnya.

Tiba-tiba dalam hati aku terpikir, akasia ini tentu dulunya juga melewati masa kecil. Mungkin ketika kecil nasibnya tak jauh beda dengan akasia di depan kantor suami: tumbuh kembang-kempis digerogoti benalu. Namun dia berhasil bertahan, melewati masa-masa sulit itu. Kini ia telah besar dan dewasa. Benalu itu tetap ada, tapi dibanding tubuhnya yang besar, benalu itu bukan apa-apa.

Satu yang bisa kupetik: masalah akan tetap ada dimanapun dan kapanpun. Namun dengan kebesaran jiwa dalam menghadapinya, masalah-masalah itu akan menjadi kerdil dengan sendirinya. Sebaliknya, masalah-masalah itu juga yang akan melatih kekuatan dan ketahanan kita. Kebesaran jiwa akan kita dapat ketika kita telah berhasil melewatinya. Sepertinya Tuhan memang sengaja menciptakan masalah untuk membuat kita dewasa.

NB: Sedang “sedikit” ragu. Minder lagi. Bisakah aku nanti menjadi ibu yang baik untuk anakku?! Saat ini saja aku belum bisa dekat dengan anak kecil. Tapi aku percaya, anakkulah nanti yang akan membuatku dewasa, memaksaku belajar untuk menjadi ibu yang terbaik baginya. Semangat!


Gambar bukan pohon akasia sih, dan tlah diambil dengan semena-mena dari sini. :p

About these ads

8 pemikiran pada “Belajar dari Pohon Akasia

  1. haaai, kunjungan balik :D

    minder aku baca tulisanmuuu! :P

    pasti bisaaa, naluri akan muncul sendiri. naluri menyayangi, melidungi, dan memberikan yang terbaik :)

    ayoo terus belajaaar kita :)

  2. nur itu perempuan yang hebat, lho..
    seringkali kemampuan nur jauh melebihi apa yang nur anggapkan pada dirinya sendiri..
    aku yakin, nur akan menjadi ibu yang hebat..
    dengan sifat tekun, semangat, dan kecerdasan yang nur miliki, insya Allah, keyakinanku akan terwujud..

    *maaf kalo berle, cuma menyampaikan apa yang aku lihat pada diri nur.. yang lebih percaya diri, ya.. :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s