Menabung Yuk! (part 2)

Masih melanjutkan yang kemarin. Yang ini pelajaran singkat yang kudapat dari Mbak Kos (maaf Mbak, ga ijin dulu ^^), rekan sekerja, dan orang tuaku sendiri. Mereka semua ini merupakan orang-orang yang sudah pernah merasakan “pahit manisnya” investasi. Hehehe… Jika ada yang tidak setuju, sekali lagi, ini sekedar masukan buat pertimbangan. OK! Berikut ringkasannya:

Investasi? Hmm…WAJIB! Menabung itu perlu, tapi tabungan adalah uang yang idle yang nilainya bisa terhempas oleh inflasi. Tabungan diperlukan untuk meng-handle kebutuhan yang mendesak. Nah, kalo “berasa” tabungan sudah “lebih dari cukup” untuk itu, ga ada salahnya tabungan didepositokan. Bunga lebih tinggi dan uang pun lebih aman. Eh, bunga bank kan haram? Tenang. Kan sekarang sudah ada deposito syariah yang insyaallah lebih menentramkan. ^_^

Orang yang pengin “main” aman bisa berinvestasi dengan emas atau tanah. Yang ini aman banget dari resiko inflasi, karena nilainya semakin lama semakin tinggi (asal ga dicuri atau tanahnya dalam sengketa aja).

Bentuk lain dari investasi adalah asuransi. Ada banyak tipe asuransi yang tersedia saat ini, antara lain:

  • ŸAsuransi Jiwa

Asuransi jiwa bagus, tapi hanya kalo kita sudah punya seseorang yang bergantung pada pendapatan kita. Misal: ada suami/ istri, anak-anak, atau adik yang kehidupannya bergantung pada kita. Suatu contoh: Sepasang pengantin baru, istri tidak bekerja, anak masih kecil pula. Sedang menyicil suatu rumah mungil mereka. Lalu tiba-tiba sang suami meninggal. Tanpa asuransi, sang istri yang nggak bekerja itu harus menghadapi kenyataan bahwa dia kehilangan pendapatan (karena cuma bergantung pada suami), punya tanggungan baru (si anak), dan harus membayar cicilan hutang rumah! Betapa berat beban sang istri. Di sinilah peran asuransi membantu beban ahli waris. Namun, bagi yang belum punya tanggungan (aku misalnya: belum nikah dan adikku masih di bawah tanggungan orang tuaku) asuransi jenis ini masih belum terlalu diperlukan.

Bagaimana kalo suami istri sama-sama bekerja? Biar suami aja kali ya, kan dia yang harusnya bertanggung jawab atas kita (istri)? Hoho, jangan terlalu egois, Jeng! Bagaimana kalau ganti kita yang tiba-tiba meninggal? Sementara selama ini biaya hidup dan hutang-hutang ditanggung berdua. Kan kasihan juga suami ditinggal dengan banyak tanggungan yang harus dibayarnya sendirian?!

  • ŸAsuransi Kesehatan

Asuransi kesehatan diperlukan kalau kita bener-bener yakin kalo kita bakal punya penyakit berat. Ini bisa dilihat berdasarkan riwayat kesehatan: apa kita emang sakit-sakitan, apa ortu pernah punya penyakit berat? Kalo berasa sehat-sehat aja (amin), biasa hidup sehat, atau leluhur ga pernah masuk rumah sakit gara-gara penyakit berat, aku rasa asuransi ini nggak perlu-perlu amat. (Tapi tergantung pribadi masing-masing juga sih!)

  • ŸAsuransi Pendidikan

Ga perlu diambil! Waduh, kok jadi galak banget. Iya, soalnya pelajaran ini dari ortuku sendiri. Uang asuransi yang dijanjikan akan diberikan setelah sekian tahun, karena nilainya sesuai dengan ketetapan di muka, gara-gara inflasi sekarang jadi hampir tak bernilai. Apalagi biaya pendidikan semakin lama semakin mahal. Selain itu, uang ini oleh perusahaan asuransi biasanya diinvestasikan ke bentuk lain. Jadi sama aja dengan minjemin uang mereka. Pokoknya untung di mereka ga enak di kita deh! Kalau ingin mempersiapkan uang pendidikan buat anak-anak, lebih baik uang itu dipisahkan dari pendapatan, diinvestasikan sendiri dalam bentuk lain (sesuai pilihan kita), dan jangan di-uthek-uthek sampai benar-benar diperlukan, misal: pas anak mau masuk sekolah.

  • ŸAsuransi Rumah

Hmm…dari rekan sekerjaku. Mbak ini sudah mengasuransikan rumahnya di daerah Rawamangun, dulu, dengan nilai pokok 400 juta. Ternyata sekarang rumah di daerah situ rata-rata sudah bernilai 1,5 M (minimal). Jadi, kalo ada apa-apa dengan rumah itu, si Mbak cuma bisa mendapat ganti rugi sebesar maksimal 400 juta. Rugi dunk! Di sisi lain, dengan posisinya yang berada di daerah aman (hmm, elit lah!), kecil juga kemungkinan bakal ada kebakaran dsb. Jadi, bisa dibilang asuransi tersebut sia-sia. (Masih berdasarkan pendapat rekan sekerjaku itu, lho!)

  • ŸAsuransi Mobil

Daripada asuransi rumah, asuransi mobil masih lebih berguna. Hehehe…Ini karena seringnya terjadi kejadian tidak mengenakkan terhadap mobil (Jakarta gitu…). Tapi bisa juga Anda tidak mengambilnya kalo berasa (sekali lagi “berasa”!) sebagai pengemudi yang hati-hati dan selalu menjaga kendaraan dengan baik, sehingga kejadian-kejadian terburuk kecil sekali kemungkinan terjadi. :p

Mo tsuzuku… (masih berlanjut, jangan bosen, ya!) ^^

Iklan

3 thoughts on “Menabung Yuk! (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s