Sayonara, atashi no tomodachi…

Saat kita kehilangan sesuatu, saat itulah kita merasakan, betapa berartinya hal itu untuk kita.

Hah, berlebihan sekali. Sebenarnya yang akan terjadi adalah: awal bulan depan, seorang kawanku akan pergi bekerja di sebuah kota di luar Pulau Jawa. Ini gara-gara instansi tempat dia bekerja menugaskannya di tempat itu.

Setelah lulus kuliah, aku jarang sekali bertemu dengannya (baru sekali). Bertukar kabar pun hanya kadang-kadang dilakukan. Hubungan perkawanan kami selama ini memang seperti simbiosis parasitisme. Dia pohon dan aku benalu, yang selalu minta tolong ini itu padanya.

Aku punya banyak sekali hutang budi padanya.

Ketika kuliah dulu, tiap ada liburan, tentu aku ingin pulang ke Kota Kelahiran nun jauh di Jawa Timur. Untuk langsung sampai kesana (soalè bisa juga kalo mau oper-oper ke Surabaya atau Jombang) hanya ada 3 pilihan: Kereta Api Eksekutif (200ribuan), bus eksekutif (180 ribuan), dan kereta ekonomi Matarmaja (55 ribu). Berhubung statusku masih anak kuliah yang bergantung 100% pada subsidi orang tua, tak beranilah aku pilih yang eksekutif-eksekutif itu. Sementara jika memilih kereta ekonomi, perjalanan jauh itu harus ditempuh selama 18 jam ++ (plus macet2nya). Sementara mengingat keadaan kereta ekonomi yang “penuh dinamika” (pemalakan, pencopetan, penindasan, dll), aku selalu diwanti-wanti ibu’ agar tidak pergi seorang diri. Dalam rangka mencari kawan sejalan itu, biasanya aku bertanya (yang sebenarnya adalah meminta tolong) pada teman-teman sekotaku: Adakah yang pulang tanggal segini? Bolehkah aku turut serta di rombongan? Tapi jawaban yang kuterima seringkali: Wah, aku pulang tanggal segini…(ga cocok tanggal) Aku pulang ma Mas-ku tuh…(masa aku mau jadi “obat nyamuk”) Aku naik kereta eksekutif…(ga mungkin bareng) Coba tanya si fulan deh… (ga mau nolong) Jadilah aku sendirian, ga tau harus nanya siapa lagi, setelah terlempar-lempar sedemikian rupa oleh teman-temanku sendiri…

Di saat putus asa seperti itu aku menghubunginya. Dan jawaban yang ia berikan: Iya, aku pulang tanggal segini. Sama si ini dan si itu. Mau ikut? Gampang wès…

Duh, leganya. Kelegaan yang diberikan olehnya, menjanjikan kepastian pada orang yang sudah hampir putus asa, itulah yang menyebabkanku berasa sangat berhutang budi padanya. Dan itu sudah sering kali dia lakukan, selain pertolongan dan bantuan lain yang tak bisa kusebut di sini. Mungkin kalau aku cerita ini padanya, dia akan dengan entengnya bilang: Halah, Nur, biasa aè!! Ngono aè kok dipikir.

Andai aku sudah mencicil pembayaran hutang budi itu paling tidak sedikit saja, mungkin aku nggak akan kepikiran segitunya. Tapi yang terjadi, dia tak pernah meminta tolong apa pun padaku, sehingga aku tak pernah punya kesempatan untuk membalas kebaikannya. Justru aku yang masih juga minta tolong ini itu, menambah panjang list hutang budiku.

Tapi tak apalah. Dia mungkin sungguh-sungguh tak pernah mengharapkan aku membayarnya. Dan juga saatnya bagiku untuk dewasa. Menjadi berani dengan pulang seorang diri (Kemarin udah lho! Dan ternyata baik-baik saja tuh! Nyampe rumah dengan selamat meski naek Matar seperti biasa) Saatnya aku tak lagi bergantung pada pertolongannya.

Selamat jalan Kawan… Semoga engkau bahagia di tempat baru. Semoga mendapat lingkungan kerja yang menyenangkan. Amin… ^_^

Oh, ya, tambahan, berhubung sungai di sana besar-besar, semoga ga sering kebanjiran… (kaya di Jakarta ga kebanjiran aja) 😀

Iklan

7 thoughts on “Sayonara, atashi no tomodachi…

  1. “Saat kita kehilangan sesuatu, saat itulah kita merasakan, betapa berartinya hal itu untuk kita”

    Bener banget itu, Nur… ^_^

    Jangan sedih ya, Nur. Kalau jodoh, pasti akan bertemu lagi. 🙂

  2. Mbak Fairuz dan Saudara Faris:
    Waduh…aduh…kenapa semua orang salah sangka gini ya?
    Kan biasa aja…kok jadi ngomongin jodoh2?! ckckck…

  3. Ping-balik: Pergilah, kawan… | Cahaya Rembulan Usai Hari Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s