Yatta!

Yatta!!! Akhirnya, aku membelinya: Album ”Kiss” dari Laruku!

Alhamdulillah karena kemarin mendapat rezeki yang lumayan, aku bisa melaksanakan nadzarku (bukan nadzar, tapi nafsu itu… kqkqkq) Sekalian juga mumpung lagi jalan ke atrium (kan jarang-jarang aku main ke mall)

kiss

Awalnya aku sedikit kecewa pas ndengerin lagu pertama, ”Waduh ni kan Laruku versi nge-rock”. Sementara aku suka Laruku versi kalem, alias lagu-lagu yang easy listening aja. Ternyata, setelah mendengarkan dengan seksama untuk kedua kalinya, aku langsung mendapat 3 lagu favoritku: My Heart Draws a Dream, Link (yang emang sudah jadi favoritku dari dulu, di sini dia di repackage aja), dan Hurry Xmas. Kayaè mending dibahas satu-satu aja kali ya… Tetapi berhubung aku ga ngerti dunia musik, pendapatku ini ya berdasar enak-ga enak didenger aja ^_^

1. Seventh Heaven
Menggebrak di awal dengan nuansa yang ”rock abiz”, aku jadi pengin meng-skip aja lagu ini (ga tahan ndengernya) 😀
2. Pretty Girl
Lagu ciptaan Ken ini juga berisik, tapi reff-nya lumayan enak (enak apa lucu ya?!), jadi masih bisa didengerin.
3. My Heart Draws a Dream
Hmm…romantis! Kalo pake bahasaku sih ”tinggi ke langit”. Suaranya Haido-kun itu lho…
4. Sunadokei
Lagu ini musik dan liriknya dibikin oleh Tetsu-chan. Kunilai 4 dari 5 point deh.
5. Spiral
Karena 100% dibikin oleh Yukihiro sang Drummer yang suka musik alternatif dan dance, aku awalnya under estimate ma lagu ini. Tapi ternyata enak! Lagunya lumayan seru!
6. Alone El La Vida
Nah, secara dari dulu aku suka suara orkestra di lagu-lagu Laruku, tentu saja aku langsung suka lagu ini. Lagian lagunya kalem gitu. Sayangnya ada musik aneh (kaya orang baris-berbaris) di bagian tengah (setelah aksi Ken).
7. Daybreak’s Bell
Entah kenapa ndengerin lagu ini bikin aku mikir: ”Kayaè seru juga kalo lagu ini dijadikan soundtrack anime apa gitu”. Hehehe, secara lagu-lagunya Laruku dah sering dijadiin soundtrack anime-anime seru dari Rurouni Kenshin sampai Final Fantasy (lho, FF itu kan game ya?!)
8. Umibe
Diawali dengan suara piano yang ternyata dimainkan oleh Tetsu-chan dan Ken, lagu ini juga lumayan enak juga buat didenger.
9. The Black Rose
Waduh aduh, Haido-kun bikin lagu seberisik ini?! Next ah, next aja…
10. Link –Kiss Mix-
Diembel-embeli tulisan –Kiss Mix-, aku ga ngerti apa yang beda di lagu ini selain endingnya. Katanya sih beda di permainan gitar Ken, tapi aku ga denger tuh…
11. Yuki no Ashiato
Ngantuk. Waduh, ada ya lagu Laruku yang bikin ngantuk? Tapi lagu kalem ini beneran bikin cepet ngantuk. Sedikit ngebosenin.
12. Hurry Xmas
Setelah dibikin ngantuk, aku langsung bangun pas intro lagu ini terdengar. Megah banget! Benar-benar lagu yang seru dengan berbagai bunyi-bunyian terompet, trombone, dan macem-macem saxphone. Lagu yang emang sengaja dibuat untuk menyambut chrismast 2007 ini emang seseru lagu-lagu Laruku bertema chrismast yang lain (tapi tetep, yang paling seru ya lagu ”I Wish”) Jangan kaget dulu, meski bertema chrismast, ni bukan lagu yang menjurus ke satu agama kok! Karena di Jepang, chrismast dianggap hari yang istimewa buat pasangan, gitu aja. Jadi ga masalah kan, kalo aku menyukainya?! ^_^

Dan inilah translate dari my most favorite song di album ini:

My Heart Draws A Dream
Look, the wind has started blowing
Still, I’m not giving up yet
I can feel the sun beneath the clouds
even through the headwinds.
My heart is drawing a dream
flying high above,to freedom
My heart draws a dream
Oh, If I land somewhere far away and open my eyes
I feel like I would see you there, smiling at me
It would be great if I can meet you, lalalala
Hey, if we join our breaths,
we would surely fly higher
I wonder if we can see the future from there
Even just a piece
My heart is drawing a dream
flying far away passing through time
My heart draws a dream
Oh, I wish someday, this dream would come true
for you to be here, smiling at me.
Come on, reach out your hand
Now, we will be set free
Our hearts will not be bound by anyone
Our eyes will seize the sunlight
No matter how much the world is fading
Everybody
Let’s draw a dream
Let’s draw a dream
Let’s draw a dream
Our hearts draw a dream
Let’s draw a dream
Let’s draw a dream
Let’s draw a dream …look
Oh, If I land somewhere far away and open my eyes
It would be great if I could see you there, smiling at me.

Kalo mau lengkapnya, silahkan buka www.animelyrics.com

NB: Akhirnya aku tahu rahasia dibalik betapa murahnya CD yang satu ini. Setelah diperhatikan dengan seksama, di bagian cover belakang, ada tulisan yang kueeciiil banget tertulis dalam font 3 (kurang lebih) berbunyi “Made in Indonesia”. Hohoho gak papalah, “Aku Cinta Indonesia”.

Persimmon

Apakah Anda seorang pegawai yang terbiasa duduk berlama-lama di depan komputer, bekerja di bawah AC, dan rentan terhadap serangan radikal bebas? Jika iya, maka sekaranglah saatnya untuk melindungi dan menyehatkan diri dengan makanan murah, enak, dan berkhasiat: KESEMEK!!

Hehehe, ndenger namanya jadi langsung ‘gubrak’ gitu ya? Aku memang lagi tergila-gila ma buah yang satu ini. Padahal sampai lulus kuliah pun, aku tidak pernah makan kesemek. Pernah dengar namanya, tapi bentuknya masih belum bisa ngebayangin, plus ga tau kalau buah berbedak putih yang sering dijual di pasar tradisional itulah yang bernama kesemek! Suatu hari saat jalan-jalan ke Carrefour dengan temenku, aku melihat buah unik berwarna oranye yang ”manis” sekali kelihatannya di jajaran buah-buah impor. Nama yang tertera adalah persimmon. Berhubung ga ngerti bahasa Inggris, aku ngira itu buah dari Korea (yah, kedengaran kaya bahasa Korea aja). Wah, ni pasti ga ada di Indonesia yang kaya gini. Waktu itu dengan niat nyobain, aku cuma beli dua. Eh, ternyata rasanya enak. Krenyes-krenyes dan manis gitu. Kata temenku, ”Itu kan kesemek, buah kesukaan Nobita”. Hohoho, baru tau kalo kesemek ternyata cantik seperti itu (kan dari namanya ga banget kayanya ^_^) Tapi sayangnya tiap kali aku mencoba nyari ke Carrefour lagi, aku tak pernah bersua dengannya.

Lalu beberapa minggu lalu, aku menemukan potongan buah berbentuk dan berasa aneh di rujak buah yang dimakan rame-rame di kantor. Mbak Rosa bilang, ”Ya itu kesemek…” Oh, aku hampir melupakannya! Setelah itu, aku memberanikan diri membeli kesemek di pasar. Ternyata: harganya cuma Rp 4.000,- per kilogram! Murah sekali! Aku beli setengah kilo, cuma Rp 2.000,- dan mendapat 5 buah kesemek segar. Wah, buah murah nih. Tapi aku penasaran, ”Tidak selamanya murah berarti tidak berkualitas”. Dilihat dari warna oranyenya: harusnya tinggi vitamin A. Dilihat dari rasa krenyes-krenyesnya: harusnya tinggi serat. Dilihat dari harganya: harusnya menyehatkan kantong. Kqkqkq….

Maka aku pun bertanya ke Mbah Google dan mendapat beberapa situs menarik. Ternyata dugaanku ga salah. Menurut Pak Budi Sutomo, bangsa Yunani sampai menjulukinya sebagai ‘food of the God’ alias ‘makanan para dewa’ saking tingginya gizi yang dikandung. Kandungan vitamin A buah kesemek (Diospiros kaki) hampir 18 kali lebih banyak jika dibandingkan dengan jeruk manis. Seperti diketahui, vitamin A baik untuk kesehatan mata. Menurut Mbak Ina, jika dibandingkan dengan apel, dengan harga yang jauh lebih murah, kesemek mengandung vitamin C dan vitamin E hampir 3 kali lebih tinggi! Vitamin C berguna untuk menjaga kesegaran kulit yang berlama-lama berada di ruang ber-AC, sementara vitamin E untuk regenerasi kulit. Kesemek juga kaya akan mineral-mineral penting seperti kalsium, fosfor, zinc. Kandungan seratnya bagus buat mencegah konstipasi (dan ancaman wasir) bagi pegawai yang jarang gerak dan kerjanya harus duduk terus seharian. Masih kurang? Kesemek punya karotenoid yang penting untuk menangkal penyakit-penyakit degeneratif yang disebabkan oleh radikal bebas seperti kanker. Sst, kabarnya di Okayama, tempat asal kesemek di Jepang sono, banyak ditemukan para lanjut usia mencapai umur 100-an karena sering mengkonsumsi kesemek yang kaya akan senyawa antioksidan beta karoten ini. Ok’s bangetz deh!

Usut punya usut, ternyata Malang -kotaku yang tersayang- memiliki sentra produksi kesemek di Junggo-Batu dan Tirtoyudo. (Malu-maluin, ga tahu komoditas daerah sendiri :P) Bahkan kesemek dusun Junggo sudah diekspor ke Singapura, Thailand, dan Korea. (Lha aku selama di Malang kok ga pernah makan ya? Yang salah siapa ini?) Selain di sana, kabarnya kesemek juga diproduksi di Berastagi, Toba, Garut, dan Ciloto.

Jadi, yuk, kita cintai produk dalam negeri! ^_^

Selamat…

Hari Sabtu malam minggu kemarin aku menginap di kostan Ncep. Untunglah Ncit –teman sekamar Ncep- sedang pulang kampung, jadi aku bisa tidur di sana. Eh, kami bukan mau Pajama’s Party kok! (halah, pajama… bilang aja daster!^_^) Tujuanku menginap di sana adalah demi niatan mulia: nebeng nonton final Piala Uber. (yaelah, masih jaman ya, numpang nonton TV ke tetangga??)

Dan akhirnya, setelah perjuangan keras, Indonesia hanya mampu meraih medali perak. Tapi tak apa. Para Srikandi Pertiwi itu telah berjuang sepenuh tenaga, hingga mampu melampaui target. Salut dan terima kasih buat Maria Kristin, Liliana-Vita, dan Firdasari. Mereka seolah menjadi simbol kebangkitan pebulu tangkis wanita yang selama ini dianggap terpuruk. Hidup wanita! (lah, ga nyambung)

Seorang kawanku dalam sms-nya bilang:

Wah, mangkane kalah. Kowe nonton seh…

Biasanya sih, memang kalau aku nonton tim kesayanganku bertanding, seringnya tim itu malah kalah. Huhuhu, semoga kekalahan tim Uber bukan karena aku tonton T-T

Yang sempat aku perhatikan kemarin adalah para suporter. Wuih, meriah sekali! Tapi sayang, saat pemain agak kendor, suporter juga ikut ga bersemangat. Saat pemain ganda bertanding –yang merupakan pertandingan paling seru dalam rangkaian itu-, bahkan Pak Menpora sempat mengangkat tangan dan berdoa. Tapi saat kedudukan sudah 2-0, kebanyakan penonton mulai diam. Permainan Firdasari terkesan “sepi” dari teriakan. Padahal fungsi suporter adalah men-suport, memberi semangat. Aku jadi ingat cerita adikku (karena aku ga liat sendiri bagaimana nyatanya), waktu Arema terdegradasi dari liga utama, justru stadion Gajayana semakin penuh dengan Aremania. Dan dengan dukungan tinggi semacam itu, Arema kembali masuk ke liga utama. Itulah bentuk sumbangsih Aremania –kelompok suporter yang pernah menjadi suporter terbaik se-Indonesia- bagi tim kesayangan mereka. Mereka tidak meninggalkan pahlawan mereka saat pahlawan itu terpuruk! (wah, subyektif ya contohnya, mentang-mentang penulis juga termasuk Arek kabupaten Malang ^_^)

Ah, sudahlah. Kapan ya, bisa beli TV sendiri? Perlu ga sih? Kata kawanku, “Mangkane, tuku TV lah Nur. Ojo nemen-nemen lek nabung 😛 Wis dadi pegawai ae lho.” Hehehe, orang-orang terdekatku memintaku untuk “lebih konsumtif”. Yah, gimana ya? Tanpa disuruh pun, aku sudah konsumtif kok!

The New Album

L’arc-en-Ciel have released their new album?

Sebenarnya sudah lama juga sih. Tapi aku baruuu aja tahu kalo CD original mereka sudah beredar di Indonesia dengan harga Rp 55.000 saja (kabarnya itu sudah murah banget buat CD import)

Judul albumnya “Kiss”. Doain ya, biar aku bisa membelinya… (masak ngaku penggemar tapi ga punya CD mereka sama sekali?! ^_^)

Ah, hebatnya make-up dan dunia fotografi, bahkan bapak-bapak berumur hampir 40 tahun seperti mereka bisa tampak imut gitu. Tapi tetap saja: Haido-kun, kawaii!! 😀

(Kapan ya, Laruku datang ke Indonesia? Pengiin… ^o^)

Are You Feeling Fine??

Wah, lagi mati ide. Eh, tiba-tiba teringat satu lagu Laruku: “Are you feeling fine?

I’m fine, thanks. Itu yang biasa kita katakan pada orang yang bertanya pada kita pertanyaan seperti:

“Howdy buddy?”
“O genki desu ka?”
“Ni hao ma?”
“Piye kabare?”

Jawaban yang bagus adalah yang menyenangkan hati pendengar. Mana ada sih orang yang senang bila cuma iseng bertanya “apa kabar” lalu tiba-tiba dicurhatin “Waduh, lagi agak sakit nih! Kemaren… blablabla…” Atau “Waduh, lagi butuh duit buat bayar kuliah, mana target menikah tahun ini pula…” Hehehe, langsung bete pastinya.

Sebenarnya, nasihat di atas lebih pas ditujukan untuk diriku sendiri. T-T

Tapi aku sedang ngaco dan mati ide, maka ijinkan aku ngelantur. (Sak-enakè dhèwè) ^_^

Masalah. Setiap orang pasti pernah menghadapi masalah. Eh, ga dink. Setiap orang seharusnya sedang menghadapi masalah. Setiap detik hidup! Karena hidup itu setiap detiknya terdiri dari ujian. Maka sebenarnya saat kita mendapat uang pun akan menjadi masalah. Yang tertinggal adalah bagaimana cara kita menghadapi.

Oleh karena itu, ujian atau masalah sangat subyektif adanya. Bila menurut seseorang suatu hal adalah masalah, belum tentu hal itu menjadi masalah bagi yang lain. Ah, menjadi orang dewasa itu susah ya…

Karena setiap orang selalu punya masalahnya sendiri-sendiri, maka (Nur…) janganlah engkau membebani orang lain dengan menyebarkan masalahmu ke mereka. (Hehehe, iya ya? Tapi ga pa-pa sih sedikit cerita kalau ke orang terdekat.) Sehingga jawaban yang bagus untuk pertanyaan-pertanyaan di atas adalah:

“Gooddy buddy”
“Okagesama de, genki.”
“Ni hao”
“Alhamdulillah, sehat”

Bukankah kesehatan adalah nikmat terbesar dalam hidup?! ^_^

Jadi kawan, are you feeling fine today??

Jangan Membuang Sesuatu dari Yang Bukan Milikmu ke Milikmu

Berawal dari keisenganku beberapa hari lalu membuang segumpal kecil gulungan kertas koran begitu saja keluar kamar. Karena kecil saja (diameternya ga nyampe setengah senti), aku seenaknya melempar ke lorong kosan, di depan pintu kamar. (Kosku terdiri dari kamar-kamar dengan lorong panjang di tengahnya)

Kupikir, “Ah, nanti kan ada pembantu yang bakal menyapu dan membuangnya”. Tak dinyana, begitu aku pulang dari kantor, kertas itu sudah berada kembali di lantai kamar.

Aku ingat kata-kata yang pernah kubaca di buku zaman SD dulu. “Jangan membuang sesuatu dari yang bukan milikmu ke milikmu”. Kata-kata mbulet itu berasal dari buku kumpulan dongeng negara-negara anggota PBB jilid III (kalo ga salah inget). Sayangnya aku lupa dongeng aslinya berasal dari negara mana. Di sana diceritakan tentang seorang kaya yang mempunyai sebuah taman yang indah di belakang rumahnya. Dia sangat bangga dengan taman dan kebun itu sehingga memerintahkan para pegawainya untuk membuang semua batu dan kerikil dari taman. Menurutnya keberadaan batu dan kerikil hanya mengganggu dan merusak keindahan tamannya. Bingung harus dibuang kemana, maka Saudagar itu pun memerintahkan agar batu dan kerikil itu dilempar saja ke jalan di belakang taman itu. Maka mulailah para pegawai menjalankan perintah aneh tersebut. Lama-lama jalan di belakang rumah Saudagar menjadi penuh batu-batu dan kerikil tajam. Masyarakat yang lewat pun protes, tapi ia tidak mengindahkan. Suatu hari lewatlah seorang bijak, yang menasehatinya,” Jangan kaubuang sesuatu dari yang bukan milikmu ke milikmu.” Si Saudagar malah marah, ”Apa maksudmu? Ini kan kebunku sendiri?!”

Beberapa tahun kemudian, ternyata Saudagar itu menderita kerugian sampai-sampai ia kehilangan rumah berikut taman yang dibanggakannya. Dalam keadaan miskin ia berjalan menggelandang ke seluruh negeri, hingga tanpa ia sadari sudah kembali ke daerahnya semula. Ia berjalan di belakang rumahnya yang dulu, hatinya pedih melihat rumah dan taman itu masih seindah dahulu namun bukan miliknya lagi, dan kakinya juga perih –berdarah-darah oleh bebatuan di jalanan itu- (karena miskin jadi ga pake sendal ^^). Maka sadarlah dia akan maksud perkataan seorang bijak yang ditujukan padanya dulu. Tapi, sesal kemudian selalu tidak berguna kan?!

Pengalaman pertamaku dalam hal serupa itu masih kuingat jelas. Suatu hari, keluargaku mendapat kedelai rebus. Dan beberapa biji kedelai juga? Entahlah, aku lupa. Yang jelas, setelah makan kedelai itu, sampah kulit kedelai dilempar begitu saja ke pekarangan (baca: kebun) sebelah. Rumahku di desa memang masih bersebelahan dengan kebun. Antara halaman dan kebun pun tak ada pagar pemisah, khas rumah-rumah di kampung lah. Lalu tiba-tiba, beberapa hari kemudian, tumbuhlah sebatang (emang punya batang?) pohon kedelai di pekarangan tetangga itu. Pohon kedelai itu tumbuh terus membesar dan meninggi. Aku masih belum menyadari karma itu, hingga datanglah musim kemarau. Daun pohon kedelai ternyata cepat sekali menguning dan gugur. Daunnya kecil-kecil, daun majemuk yang banyak itu… gugur dengan indahnya di halaman rumahku. Maka begitulah, aku tak pernah ikut menikmati buahnya, tapi setiap hari dengan sangat terpaksa harus menyapu sampah daun kedelai. Sampai terakhir kepulanganku waktu sesudah wisuda dulu, pohon kedelai itu masih tegak berdiri dan menghasilkan sampahnya setiap hari ke halaman rumahku, monumen atas kesewenang-wenanganku. Hiks.

Maka kenapa sampah koran itu juga kembali padaku?! Merunut cerita di atas, hal itu tak perlu lagi ditanya apa sebabnya. Jadi, pesan moral hari ini: Buanglah sampah pada tempatnya. Demi bumi yang lebih hijau. Hehehe…

Uta o Utaimashou…

Aku tidak pernah bisa menyanyikan lagu dalam Bahasa Inggris. Karena memang kemampuan Bahasa Inggrisku benar-benar parah. Akibatnya, kalau lagi iseng nyanyi-nyanyi, aku suka nyanyiin lagu-lagu aneh. Salah satunya adalah lagu ini:

Oh asmara yang tercipta
di antara dua insan berbeda
Memang indah mempesona
bila sudah mimpi menjadi nyata

Aku hanyut terbawa arus dahaga
Rinduku haus mereguk kasih asmara
Dikau oh asmara datanglah bersama
kasih dan cinta agar sepiku berlalu

Wahai sang Bayu, usirkan sepiku
Kutunggu Kasihku di pintu asmaraku
Oooh…
Kutunggu Kasihku di pintu asmaraku.

Hohoho, kalau ga salah lagu ini beredar tahun 1990-an. Penyanyinya sih, Yuni Shara. Tapi aku lupa judulnya. Ada yang tahu?? 🙂