Egoisme dan Kesadaran yang Terlambat

Tiba-tiba saja, aku ingin menangis.

Dari dulu aku selalu tidak peduli dangan semua kekacauan dan kejadian buruk di luar sana, selama itu tidak berada di dekatku (egois banget kan?!). Tapi tadi pagi, begitu aku turun dari angkot di Jalan Gunung Sahari, di depan SD Strada, aku melihat pemandangan itu: para petugas Kamtibmas berusaha memasukkan gerobak-gerobak para penjual kaki lima yang biasa ada di situ ke dalam truk mereka yang sudah penuh dan hampir tidak mampu menambah muatan lagi. Banyak orang menonton, memandang dengan marah dan dendam. Langkahku terhenti di belakang truk, memandang ke atas, ke arah tumpukan gerobak itu, dan tiba-tiba hatiku pedih, pandanganku kabur oleh air mata yang hampir jatuh.

Tak terbayangkan bila hidupku bergantung pada satu gerobak, lalu tiba-tiba penghidupanku dirampas begitu saja di depan mataku… sama seperti bila sekarang SK-ku dirobek-rebok di depan mataku?!

Memang para petugas Kamtibmas itu tidak bersalah, mereka hanya menjalankan tugas. Mungkin ada benarnya juga keputusan membersihkan kawasan itu. Tapi tetap saja aku sedih. Bagaimana dengan penjual bubur kacang hijau, penjual nasi uduk, dan penjual mie pangsit itu? Mungkin aku tidak bisa lagi menikmati kue serabi yang hangat dan lezat di sana…

Iklan

One thought on “Egoisme dan Kesadaran yang Terlambat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s