Jangan Membuang Sesuatu dari Yang Bukan Milikmu ke Milikmu

Berawal dari keisenganku beberapa hari lalu membuang segumpal kecil gulungan kertas koran begitu saja keluar kamar. Karena kecil saja (diameternya ga nyampe setengah senti), aku seenaknya melempar ke lorong kosan, di depan pintu kamar. (Kosku terdiri dari kamar-kamar dengan lorong panjang di tengahnya)

Kupikir, “Ah, nanti kan ada pembantu yang bakal menyapu dan membuangnya”. Tak dinyana, begitu aku pulang dari kantor, kertas itu sudah berada kembali di lantai kamar.

Aku ingat kata-kata yang pernah kubaca di buku zaman SD dulu. “Jangan membuang sesuatu dari yang bukan milikmu ke milikmu”. Kata-kata mbulet itu berasal dari buku kumpulan dongeng negara-negara anggota PBB jilid III (kalo ga salah inget). Sayangnya aku lupa dongeng aslinya berasal dari negara mana. Di sana diceritakan tentang seorang kaya yang mempunyai sebuah taman yang indah di belakang rumahnya. Dia sangat bangga dengan taman dan kebun itu sehingga memerintahkan para pegawainya untuk membuang semua batu dan kerikil dari taman. Menurutnya keberadaan batu dan kerikil hanya mengganggu dan merusak keindahan tamannya. Bingung harus dibuang kemana, maka Saudagar itu pun memerintahkan agar batu dan kerikil itu dilempar saja ke jalan di belakang taman itu. Maka mulailah para pegawai menjalankan perintah aneh tersebut. Lama-lama jalan di belakang rumah Saudagar menjadi penuh batu-batu dan kerikil tajam. Masyarakat yang lewat pun protes, tapi ia tidak mengindahkan. Suatu hari lewatlah seorang bijak, yang menasehatinya,” Jangan kaubuang sesuatu dari yang bukan milikmu ke milikmu.” Si Saudagar malah marah, ”Apa maksudmu? Ini kan kebunku sendiri?!”

Beberapa tahun kemudian, ternyata Saudagar itu menderita kerugian sampai-sampai ia kehilangan rumah berikut taman yang dibanggakannya. Dalam keadaan miskin ia berjalan menggelandang ke seluruh negeri, hingga tanpa ia sadari sudah kembali ke daerahnya semula. Ia berjalan di belakang rumahnya yang dulu, hatinya pedih melihat rumah dan taman itu masih seindah dahulu namun bukan miliknya lagi, dan kakinya juga perih –berdarah-darah oleh bebatuan di jalanan itu- (karena miskin jadi ga pake sendal ^^). Maka sadarlah dia akan maksud perkataan seorang bijak yang ditujukan padanya dulu. Tapi, sesal kemudian selalu tidak berguna kan?!

Pengalaman pertamaku dalam hal serupa itu masih kuingat jelas. Suatu hari, keluargaku mendapat kedelai rebus. Dan beberapa biji kedelai juga? Entahlah, aku lupa. Yang jelas, setelah makan kedelai itu, sampah kulit kedelai dilempar begitu saja ke pekarangan (baca: kebun) sebelah. Rumahku di desa memang masih bersebelahan dengan kebun. Antara halaman dan kebun pun tak ada pagar pemisah, khas rumah-rumah di kampung lah. Lalu tiba-tiba, beberapa hari kemudian, tumbuhlah sebatang (emang punya batang?) pohon kedelai di pekarangan tetangga itu. Pohon kedelai itu tumbuh terus membesar dan meninggi. Aku masih belum menyadari karma itu, hingga datanglah musim kemarau. Daun pohon kedelai ternyata cepat sekali menguning dan gugur. Daunnya kecil-kecil, daun majemuk yang banyak itu… gugur dengan indahnya di halaman rumahku. Maka begitulah, aku tak pernah ikut menikmati buahnya, tapi setiap hari dengan sangat terpaksa harus menyapu sampah daun kedelai. Sampai terakhir kepulanganku waktu sesudah wisuda dulu, pohon kedelai itu masih tegak berdiri dan menghasilkan sampahnya setiap hari ke halaman rumahku, monumen atas kesewenang-wenanganku. Hiks.

Maka kenapa sampah koran itu juga kembali padaku?! Merunut cerita di atas, hal itu tak perlu lagi ditanya apa sebabnya. Jadi, pesan moral hari ini: Buanglah sampah pada tempatnya. Demi bumi yang lebih hijau. Hehehe…

Iklan

4 thoughts on “Jangan Membuang Sesuatu dari Yang Bukan Milikmu ke Milikmu

  1. Mbak Fairuz:
    Iya. Sedang dibiasakan agar jadi mendarah daging.

    Saudara Faris:
    Ga tau kenapa kalimat itu begitu saja nempel di otakku sejak SD dulu. Mungkin karena dulu kagak ngarti dan menganggapnya kalimat aneh yang unik. Tapi dipikir-pikir, emang kalimatnya aneh.

    Bukan tergantung. Itu 100% iseng kok…

  2. maksudku bukan “tergantung”. tapi “bergantung”.

    jangan suka bergantung ma orang kek misalnya: “ah, paling nanti ada yang bersihin”, “ah, nanti aja. bentar lagi ada si mbok”. yah, salah itu semua. mandiri, dong.

    semangat!

    (^_^)v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s