“dik” dan “kit”

Kemarin, waktu lewat di depan gedung Balai Pustaka, aku melihat sebuah spanduk terpasang memanjang di pagar, berbunyi:

Mari Jadikan Hardiknas sebagai Bagian dari Peringatan 100 tahun Kebangkitan Nasional

Awalnya hanya sekedar terpikir: ”Oh, kan sama-sama Mei ya? Jadi biar gampang, peringatannya dijadiin satu aja/dibarengin” (jadi inget ulang tahunku yang lebih sering dirayakan tanggal 30 karena ”ngikut” ultah Adik yang sama-sama lahir bulan Agustus)

Tapi, kok, lama-lama berasa ada yang ganjil. Bagian dari batinku yang tidak bisa menerima. Hardiknas… Harkitnas… Harpitnas… (yang terakhir mah ga termasuk atuh…)

Kenapa ”hardiknas” harus dijadikan bagian, dan bukannya dirayakan sendiri? Sebagai anak dari pasangan guru SD, aku merasa sedih, ”Kenapa Hardiknas harus merendahkan diri seperti itu di depan Harkitnas, sampai harus ”meminta” untuk dijadikan sebagai bagian dari Harkitnas?”

Aku mencoba berpikir, Hardiknas itu tanggal 2 Mei, Hardiknas tanggal 20. Kalau dipikir-pikir, bukannya hardiknas duluan yang diperingati. Jadi harusnya ”harkitnas” yang dijadikan bagian dari ”hardiknas”. Eh, tapi tetap saja, kenapa salah satu harus ”dijadikan bagian” dari sesuatu yang lain, kalau nilai ”kepentingannya” sama: sama-sama penting. (Menilik kisah perayaan ultahku yang dirayakan ”di belakang”, pernyataan keberatan atas dasar urutan tanggal ini jadi berasa kurang kuat)

Terus terpikir, seperti kisah ayam dan telur, duluan mana antara ayam dan telur? Kalo pertanyaan itu sih emang subyektif jawabnya. Tapi menurutku, untuk kasus hardiknas dan harkitnas, duluan mana antara pendidikan dan kebangkitan, maka jawabannya: pendidikan dulu diperbaiki, baru kita bisa bangkit. Andai para bangsawan dan pribumi Indonesia dulu tidak mendapatkan pendidikan yang layak, bisakah Indonesia bangkit? Bisakah mereka terpikir untuk membentuk organisasi dan perserikatan seperti itu? Apakah bisa terwujud kebangkitan nasional tanpa pendidikan yang mendasar?

Mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapatku. Suka-suka deh. Aku hanya ingin menyuarakan kesedihanku. Harkitnas kemarin dirayakan dengan sangat meriah dan megah di senayan, tapi hardiknas hampir terlupakan. Sementara nasib guru dan guru honorer makin ga jelas. Guru dituntut untuk melakukan sertifikasi ini itu, guru honorer digaji dengan sangat minim, tapi mereka diminta untuk memberikan kinerja optimal. Kalau ada penyimpangan seperti gank Nero kemaren, lembaga pendidikan dipersalahkan. Sampai kapan sih, dunia pendidikan terus dinomorsekiankan?

**sekali lagi kuterbitkan hasil tulisan yang dibuat dalam keadaan emosi** T-T

Iklan

3 thoughts on ““dik” dan “kit”

  1. mungkin karena hari kebangkitan nasionalnya diperingati untuk yang ke 100 kalinya, peringatannya jadi gede-gedean gitu, Nur…

    mungkin maksud dari “sebagai bagian dari peringatan 100 tahun kebangkitan nasional” itu berarti pendidikan menjadi elemen terpenting dari proses kebangkitan itu…menjadi tiang utama kebangkitan bangsa tercinta kita ini…

    yah, serba mungkin sih… 🙂
    berusaha husnudzon… 🙂

    => Yah, semoga memang begitu maksudnya… ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s