“Kencan”

Lagi iri sama yang habis “kencan” nih…

Hari Selasa malam, tiba-tiba aku mendapat telepon.

Ibu’: Lagi ngapain?

Aku: Ga ngapa-ngapain. Kenapa Bu’? Tumben telpon malam-malam (udah mulai panik, takut ada yang penting)

Ibu’: Nggak. Ni lagi di jalan…

Aku: Di jalan? Malam-malam?

Ibu’: Iya, di rumah Pak Hari. Ayahmu ngambil rapel gaji 3 bulan. Blablabla…

(ket: awal tahun kemarin ada kenaikan gaji PNS sebesar 20%. Namun karena kenaikannya dalam 3 bulan pertama belum sempat dibayarkan, maka kemaren tu dirapel. Lumayan juga. Rejeki. Alhamdulillah)

Aku: Mang sama sapa Bu’? Aziz ikut?

Ibu’: Nggak. Aziz ke Kromengan ma Kukuh.

Aku: Jadi berdua aja ma ayah?

Ibu’: Iya, tadi tiba-tiba ayahmu ngajakin. ’Udah, jalan berdua aja’. Ya sudah. Ni lagi di mobil. Ibu’ males ikutan masuk. Hehehe…

Aku: (terdiam, trus mikir, biasanya ayah kalo ngambil gaji sendirian aja, tumben banget ngajakin Ibu’. Eh, kalo gini, kan berarti, ibu ma ayah lagi kencan…?!)

Jadi inget beberapa tahun lalu, suatu hari, di televisi lagi ditayangin satu daerah di Malang.

Ibu’: Wah, iya, bagus banget itu tempatnya. Blablabla… (Ibu’ cerita tentang daerah itu dengan semangat sekali)

Aku: Kok Ibu’ tahu? Emang pernah naek gunung ke sana? (beda ma aku, waktu muda emang Ibu’ku cukup aktif di kegiatan ini itu)

Ibu’: Lho, kan kemaren habis dari sana?!

Aku: Kemaren??

Ibu’: Iya. Diajakin ayahmu. Naek motor. Trus duduk-duduk di situ. Hehehe…

Aku: (terdiam, trus mikir ”Jalan berdua, ke tempat sepi…berdua aja?? Wah, ibu’ ma ayah habis kencan!!”)

Kemaren, ditelpon lagi ma Ibu’. Trus sempat ngobrol bentar ma Ayah.

Ayah: Kok masih sakit?

Aku: Ga tau nih, jadi sakit-sakitan. Uhuk..uhuk…

Ayah: Minum minyak ikan aja…

Aku: Kok minyak ikan?

Ayah: Biar doyan makan. Tapi ya gitu, efek sampingnya jadi naikin berat badan.

Aku: Wah, ga mau!! Aku udah 54 sekarang… (merajuk)

Ayah: Hahaha…54? Kok kebalikan ma Ibu’mu dulu?

Aku: Ibu’?

Ayah: Pas nikah, Ibu’mu dulu cuma 45. Gimana sè, kok bisa kebalikan gitu?! Hahaha…

Aku: (Terdiam. Huh, diketawain… sebal!! Tapi… Ayah masih inget berat badan Ibu’ 24 tahun lalu?? Oh, so sweet!!)

September tahun depan, ulang tahun perak pernikahan Ayah dan Ibu’. Ga nyangka, udah mo seperempat abad. Hope they will life happily ever after… ^_^

Musashi (1)

Yang penting pada seorang perempuan bukan tubuhnya, tapi hatinya, dan kemurnian adalah soal batin. Sebaliknya, kalau seorang perempuan tidak menyerahkan diri pada seorang lelaki, namun memandang lelaki itu dengan bernafsu, dia menjadi tidak murni dan tidak bersih, setidak-tidaknya selama perasaan itu berlangsung.

Aku ingin seperti Otsu. Aku ingin menjadi sepertinya. Begitu tegar dan yakin. Mempertaruhkan hidup demi seseorang yang dicintai. Tak peduli apa pun. Berkelana sebebas burung.

Saat ini sedang menyelesaikan membaca Musashi. Bentuknya soft copy, jadi agak melelahkan membacanya. File-nya kudapat dari rekan sekerja. Menyenangkan sekali. Setelah menanti bertahun-tahun, akhirnya aku bisa juga membaca buku ini. Sumpah, tebel banget. Sebenarnya sih aku sudah pernah baca Taiko. Kalo Taiko malah 10 jilid, jadi harusnya buku ini lebih ringan (”cuma” 7 jilid). Apalagi ceritanya tidak ”seberat” Taiko. Tapi karena harus membacanya di sela-sela kesibukan, walhasil selepas 1 bulan pun, belum juga rampung aku membaca.

Kalo boleh komentar, ceritanya keren abiz!! Banyak sekali pelajaran yang kupetik (padahal saat ini baru nyampe jilid 4). Salah satunya ya quote di atas. Jadi tertohok sekali. Wah, berarti harus benar-benar ”membersihkan batin” baru bisa disebut ”suci”?! Ah, susah sekali. Jadi inget postinganku yang ini. Padahal sudah bertahun, tapi kenapa ya…?!

Tokoh favoritku, Otsu! Perempuan ini bagiku unik sekali. Dia lemah sekaligus kuat. Dia tegar sekaligus lembut. Perasaannya halus namun juga keras kepala. Dari adegan-adegan dimana Otsu terlibat inilah, aku jadi sering tertohok-tohok. Seperti kalimat berikut:

“Matahachi, apa tadi kau tidak menyombongkan diri sebagai lelaki? Kenapa kau tidak berbuat sebagai lelaki? Tak ada perempuan yang mau menyerahkan hatinya kepada orang yang lemah, tak tahu malu, dan pengecut yang suka berbohong. Perempuan tidak kagum pada orang lemah.”

(Yah, mungkin karena aku cewek, jadi yang kuperhatiin malah segi “drama”-nya. ^^)

OK, segini aja dulu. Kalo dah selesai semua, baru up-date cerita lagi ya…

(Setelah lama hiatus, kok malah cerita ga penting gini sih?!)

Alif Ba Ta’

Seorang Gadis, umurnya sekitar 13 atau 14 tahun, masih SMP, ditilik dari seragamnya yang mengharuskannya memakai jilbab setiap hari, maka bisa diduga dia bersekolah di SMP yang berbasis Islam. Tapi kelakuannya… masyaallah! Hampir setiap hari dia marah-marah. Bila marah, selain teriak-teriak ga jelas, dia juga gemar menggebrak-gebrak –entah apa yang digebrak, karena dalam kamar tertutup, aku ga tahu apa pastinya- dan membanting pintu dengan keras. Pernah dalam suatu pertengkaran tengah malam –waktu itu sekitar jam sebelas atau setengah dua belas malam- dengan adik perempuannya, dia berteriak-teriak dan memaki adiknya sebagai “anak yang ga punya bapak”, “monster”, dsb. (Memang sih, status si Adik dalam keluarga itu agak ga jelas. Kebanyakan tetangga menyebut keluarga itu hanya punya 2 orang anak perempuan, tapi kenyataannya ada 3 orang anak perempuan yang tinggal di rumah itu) Sang adik membalas: “Kakak bukan manusia!”. Padahal sepertinya pertengkaran itu dipicu oleh sesuatu yang cukup remeh. Tidak cukup pantas untuk sampai mengeluarkan makian sekejam itu. (Sebagai sesama anak sulung, aku tidak pernah membayangkan bisa memaki adikku seperti itu) Tidak pernah ada cukup alasan untuk bertengkar seheboh artis sinetron!

Ah, sudahlah. Urusan orang ini. Yang aku heran cuma satu, si Gadis itu bersekolah di sekolah yang menekankan pendidikan agama. Tapi kenapa seolah-olah tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap akhlaqnya? Aku mencoba membandingkan dengan dua orang temanku yang waktu kecil basic pendidikannya Islam. Saat masuk ke pendidikan netral, kalaupun pernah “sedikit membelok”, tapi dasar agama yang ditanamkan dulu dengan mudah “mengembalikannya ke jalan semula” atau paling tidak “membatasi kelakuannya agar tidak terlalu jauh membelok”. Mungkin efek pendidikan Islam memang berbeda-beda pada setiap orang.

Aku jadi berpikir tentang diriku. Sepanjang hidup, aku selalu bersekolah di sekolah formal/netral. Pendidikan agamaku? Aku pernah ikut mengaji ke satu kyai/ustad di desa waktu kelas 2 SD, tapi hanya bertahan 1 tahun. Aku keluar dari sana sebelum pelajaranku ”menyentuh” Al Quran karena ”merasa dikucilkan” dan dihina oleh teman-teman (bullying memang mengerikan). Ibuku awalnya memarahiku. Aku tak bergeming. Karena capek marah-marah, Ibu sampai memakai peribahasa untuk mengungkapkan kekecewaannya melihat anaknya ga mau mengaji. ”Ibu kaya burung pungguk mengharap bulan ngarepin kamu ngaji!” ujar beliau (pake versi bahasa Jawa). Waktu itu aku sedih, pengin nangis, tapi mau gimana lagi? Biar mau diapain pun, aku tetep ga mau balik ke tempat yang membuatku ”menderita batin” itu. Aku akhirnya belajar membaca Quran dari buku Iqro jilid 1-6 yang kubaca sendiri sambil sekali-sekali di-review oleh Ayahku. Jadi sampai sekarang, aku mungkin sedikit tahu cara bacanya, tapi kalo ditanya apa hukum tajwidnya… wuah, aku ga tau!

Yang paling kusyukuri adalah takdir yang membawaku hingga aku dapat bersekolah di sebuah sekolah tinggi kedinasan. Lingkungan di sanalah yang bisa dibilang pendorong terbesar perubahan pada diriku. Dari yang sholatnya bolong-bolong, dari yang ngajinya patah-patah (kaya goyang aja) menjadi aku yang sekarang (masih banyak juga sih sisa-sisa jahiliyah-nya, hehehe).

Ah, kok jadi ngelantur. Balik ke masalah ”pendidikan agama”, aku pingin anak-anakku kelak mendapatkan pendidikan agama sejak dini. Yah, masih belum jelas juga planningnya kaya apa. Paling nggak kalo ga ikut TPQ (waktu aku kecil di deket rumah ga ada TPQ… T-T) ya masuk sekolah yang basic pendidikannya Islam. Kayanya sih sekarang banyak banget sekolah Islam yang mutunya bagus (dan sangat bagus). Ah, pokoknya anak-anakku ga boleh kaya aku!

Walahwalah Nur… kok mikir anak sih? Cari calon Bapaknya dulu, nikah, baru punya anak! (Ah, kok masih jauh ya?! Masih jauh ternyata… hihihi)