Alif Ba Ta’

Seorang Gadis, umurnya sekitar 13 atau 14 tahun, masih SMP, ditilik dari seragamnya yang mengharuskannya memakai jilbab setiap hari, maka bisa diduga dia bersekolah di SMP yang berbasis Islam. Tapi kelakuannya… masyaallah! Hampir setiap hari dia marah-marah. Bila marah, selain teriak-teriak ga jelas, dia juga gemar menggebrak-gebrak –entah apa yang digebrak, karena dalam kamar tertutup, aku ga tahu apa pastinya- dan membanting pintu dengan keras. Pernah dalam suatu pertengkaran tengah malam –waktu itu sekitar jam sebelas atau setengah dua belas malam- dengan adik perempuannya, dia berteriak-teriak dan memaki adiknya sebagai “anak yang ga punya bapak”, “monster”, dsb. (Memang sih, status si Adik dalam keluarga itu agak ga jelas. Kebanyakan tetangga menyebut keluarga itu hanya punya 2 orang anak perempuan, tapi kenyataannya ada 3 orang anak perempuan yang tinggal di rumah itu) Sang adik membalas: “Kakak bukan manusia!”. Padahal sepertinya pertengkaran itu dipicu oleh sesuatu yang cukup remeh. Tidak cukup pantas untuk sampai mengeluarkan makian sekejam itu. (Sebagai sesama anak sulung, aku tidak pernah membayangkan bisa memaki adikku seperti itu) Tidak pernah ada cukup alasan untuk bertengkar seheboh artis sinetron!

Ah, sudahlah. Urusan orang ini. Yang aku heran cuma satu, si Gadis itu bersekolah di sekolah yang menekankan pendidikan agama. Tapi kenapa seolah-olah tidak ada pengaruhnya sama sekali terhadap akhlaqnya? Aku mencoba membandingkan dengan dua orang temanku yang waktu kecil basic pendidikannya Islam. Saat masuk ke pendidikan netral, kalaupun pernah “sedikit membelok”, tapi dasar agama yang ditanamkan dulu dengan mudah “mengembalikannya ke jalan semula” atau paling tidak “membatasi kelakuannya agar tidak terlalu jauh membelok”. Mungkin efek pendidikan Islam memang berbeda-beda pada setiap orang.

Aku jadi berpikir tentang diriku. Sepanjang hidup, aku selalu bersekolah di sekolah formal/netral. Pendidikan agamaku? Aku pernah ikut mengaji ke satu kyai/ustad di desa waktu kelas 2 SD, tapi hanya bertahan 1 tahun. Aku keluar dari sana sebelum pelajaranku ”menyentuh” Al Quran karena ”merasa dikucilkan” dan dihina oleh teman-teman (bullying memang mengerikan). Ibuku awalnya memarahiku. Aku tak bergeming. Karena capek marah-marah, Ibu sampai memakai peribahasa untuk mengungkapkan kekecewaannya melihat anaknya ga mau mengaji. ”Ibu kaya burung pungguk mengharap bulan ngarepin kamu ngaji!” ujar beliau (pake versi bahasa Jawa). Waktu itu aku sedih, pengin nangis, tapi mau gimana lagi? Biar mau diapain pun, aku tetep ga mau balik ke tempat yang membuatku ”menderita batin” itu. Aku akhirnya belajar membaca Quran dari buku Iqro jilid 1-6 yang kubaca sendiri sambil sekali-sekali di-review oleh Ayahku. Jadi sampai sekarang, aku mungkin sedikit tahu cara bacanya, tapi kalo ditanya apa hukum tajwidnya… wuah, aku ga tau!

Yang paling kusyukuri adalah takdir yang membawaku hingga aku dapat bersekolah di sebuah sekolah tinggi kedinasan. Lingkungan di sanalah yang bisa dibilang pendorong terbesar perubahan pada diriku. Dari yang sholatnya bolong-bolong, dari yang ngajinya patah-patah (kaya goyang aja) menjadi aku yang sekarang (masih banyak juga sih sisa-sisa jahiliyah-nya, hehehe).

Ah, kok jadi ngelantur. Balik ke masalah ”pendidikan agama”, aku pingin anak-anakku kelak mendapatkan pendidikan agama sejak dini. Yah, masih belum jelas juga planningnya kaya apa. Paling nggak kalo ga ikut TPQ (waktu aku kecil di deket rumah ga ada TPQ… T-T) ya masuk sekolah yang basic pendidikannya Islam. Kayanya sih sekarang banyak banget sekolah Islam yang mutunya bagus (dan sangat bagus). Ah, pokoknya anak-anakku ga boleh kaya aku!

Walahwalah Nur… kok mikir anak sih? Cari calon Bapaknya dulu, nikah, baru punya anak! (Ah, kok masih jauh ya?! Masih jauh ternyata… hihihi)

Iklan

4 thoughts on “Alif Ba Ta’

  1. yah, ngelantur berkepanjangan. hwehe.

    (^_^)v

    cari sono, bapaknya. baru bareng2 si bapak ngerencanain pendidikan anaknya mbak nantinya. hoho.

    (^_^)v

    lagi cari calon ibu anakku juga nih.

    =>
    Mencari… apa yang aku cari
    Merangkai rindunya hatiku…
    (Nur, hentikan nyanyian dangdutmu!)

    Sama-sama mencari…
    Ada solusi? Jalan pintas? halah…

    ^_^

  2. berarti anak itu belum siap sekolah di sekolah islam ya..

    => Maksudnya si Gadis itu? Kalo menurutku, dia perlu mendapat “kendali” orang tua yang lebih ketat dari saat ini. Sepertinya emang efek “terlalu dimanja”.

    ^^

  3. anak?
    pernikahan?
    suami?
    bisa bantu aku mendapatkan itu semua?
    yang berkualitas, tapi. ^^

    => Lah? Mbak… aku sendiri aja belum bisa “mendapatkannya”, manalah bisa aku membantu orang untuk “mendapatkannya”??
    Kubantu dengan doa aja ya…

    ^^

  4. Nur sekarang sedang pengen nikah, ya?
    postingan yang awalnya ngga ada hubungannya dengan nikah, ujung-ujungnya jadi soal nikah… kekeke 😀
    padahal waktu baca sampai 80% postingan, topiknya adalah pendidikan agama pada anak… kekeke 😀

    sama Reni-chan, gitu juga…. kekeke 😀
    yang dikomennya juga soal nikah ama suami….kekekeke 😀

    waduh… kucing kok jadi suka menggoda begini, ya?

    => Hwehehehe,,, jadi malu
    Sebenarnya kalo mikir “anak di masa mendatang”, tentu aja kepikirannya jadi ke “suami di masa mendatang” juga. Otomatis nge-link tuh Puss…

    ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s