Musashi (1)

Yang penting pada seorang perempuan bukan tubuhnya, tapi hatinya, dan kemurnian adalah soal batin. Sebaliknya, kalau seorang perempuan tidak menyerahkan diri pada seorang lelaki, namun memandang lelaki itu dengan bernafsu, dia menjadi tidak murni dan tidak bersih, setidak-tidaknya selama perasaan itu berlangsung.

Aku ingin seperti Otsu. Aku ingin menjadi sepertinya. Begitu tegar dan yakin. Mempertaruhkan hidup demi seseorang yang dicintai. Tak peduli apa pun. Berkelana sebebas burung.

Saat ini sedang menyelesaikan membaca Musashi. Bentuknya soft copy, jadi agak melelahkan membacanya. File-nya kudapat dari rekan sekerja. Menyenangkan sekali. Setelah menanti bertahun-tahun, akhirnya aku bisa juga membaca buku ini. Sumpah, tebel banget. Sebenarnya sih aku sudah pernah baca Taiko. Kalo Taiko malah 10 jilid, jadi harusnya buku ini lebih ringan (”cuma” 7 jilid). Apalagi ceritanya tidak ”seberat” Taiko. Tapi karena harus membacanya di sela-sela kesibukan, walhasil selepas 1 bulan pun, belum juga rampung aku membaca.

Kalo boleh komentar, ceritanya keren abiz!! Banyak sekali pelajaran yang kupetik (padahal saat ini baru nyampe jilid 4). Salah satunya ya quote di atas. Jadi tertohok sekali. Wah, berarti harus benar-benar ”membersihkan batin” baru bisa disebut ”suci”?! Ah, susah sekali. Jadi inget postinganku yang ini. Padahal sudah bertahun, tapi kenapa ya…?!

Tokoh favoritku, Otsu! Perempuan ini bagiku unik sekali. Dia lemah sekaligus kuat. Dia tegar sekaligus lembut. Perasaannya halus namun juga keras kepala. Dari adegan-adegan dimana Otsu terlibat inilah, aku jadi sering tertohok-tohok. Seperti kalimat berikut:

“Matahachi, apa tadi kau tidak menyombongkan diri sebagai lelaki? Kenapa kau tidak berbuat sebagai lelaki? Tak ada perempuan yang mau menyerahkan hatinya kepada orang yang lemah, tak tahu malu, dan pengecut yang suka berbohong. Perempuan tidak kagum pada orang lemah.”

(Yah, mungkin karena aku cewek, jadi yang kuperhatiin malah segi “drama”-nya. ^^)

OK, segini aja dulu. Kalo dah selesai semua, baru up-date cerita lagi ya…

(Setelah lama hiatus, kok malah cerita ga penting gini sih?!)

Iklan

3 thoughts on “Musashi (1)

  1. musashi…
    air…api…angin…ya? 🙄

    otsu…
    bedak putihnya…ya?

    dulu pernah baca musashi…tapi dulu banget, pas jaman sd smp, dah agak-agak lupa… mana dulu masih kecil, jadi rada ga nyambung ma ceritanya…

    😀

  2. ah, dah lupa beneran nur…
    jadi pengen baca lagi…

    Keren banget Ren… Ya kayanya emang ditujukan buat pembaca dewasa, banyak pemikirannya.
    Otsu? Bedak putih? Perasaan yang selalu berbedak tebal tu si Akemi. Kalo Otsu digambarkan seperti boneka porselen yang masih murni. Ga perlu dipoles juga udah cantik… (tapi dia tetep pake bedak juga sih, hehehe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s