Luas dan Sempit, Besar dan Kecil

Dulu, keluargaku pernah tinggal di sebuah rumah Penjaga Sekolah. Kami pindah kesana waktu umurku 4 tahun. Di situ pula aku bersekolah. Di SDN Saptorenggo I.

“Rumah Penjaga Sekolah” berbeda dengan rumah yang ditujukan buat Guru SD. Terdiri dari 4 ruangan: ruang tamu, 2 kamar tidur, dan satu ruang tengah. Dapur terletak di belakang, sedikit terpisah. Eng…ada yang nyadar keanehannya? Yup, tidak ada kamar mandi! Kamar mandi terletak di pojok lain sekolah, terpisah 2 lokal kelas dan satu ruang perpustakaan. Letaknya pas di pojokan yang paling dekat kuburan. Bayangin kalo kebelet pipis pas jam 12 malam, aku tetep harus jalan ke kamar mandi yang deket kuburan itu sendirian!

Saat itu, aku merasa senang sekali tinggal disana. Dari ruang tamu, dalam beberapa langkah sudah bisa masuk kamar tidur. Barang-barang terletak berdempetan dan multifungsi (jadi ngebandingin ma rumah-rumah di Jepang yang barangnya umpek-umpekan ga jelas dalam satu ruangan). Meja di ruang tengah bisa menjadi meja makan, meja belajar, meja kerja, meja setrika, rak sepatu (bawahnya), dan meja masak (kalo lagi bikin kue lebaran). Keren sekali! Bagiku rumah itu sudah sangat luas. Halamannya bahkan super luas (ya iyalah, halaman SD gitu!). Bertahun-tahun tinggal di sana, aku merasa nyaman. Aku menganggap lokal kelas adalah rumahku juga, perpustakaan sekolah sebagai ruang pribadiku (keren bo, punya perpustakaan pribadi…hehehe).

Namun, keinginan pindah dan punya rumah sendiri terus menggebu-gebu. Dari pihak Ibu’, beliau mengeluhkan dapur yang sangat sempit (kalo mau masak gede-gedean, kami harus pake tungku dan masak di halaman belakang -kaya orang primitif aja- atau mengusung kompor ke ruang kelas…hohoho) dan letaknya yang kepisah itu. Unfortunately, pintu dapur itu mengarah ke pojokan kuburan. Kasihan kalo Ibu’ lagi masak malam-malam dan harus menikmati pemandangan gelap gulita di kejauhan. Apalagi (tentu saja) rumah kami jauh dari tetangga. Juga letak tempat cuci piring yang nebeng di teritis belakang. Kata Ibu’, kasihan liat aku nyuci piring sambil setengah hujan-hujanan. Hehehe…

Akhirnya, alhamdulillah, dengan perjuangan keras selama 4 tahun, kami dapat mendirikan rumah di kampung yang sekarang. Awalnya aku sedih, masih lebih sayang dengan rumah yang dulu. Suatu hari, saat aku (kalo ga salah inget) sudah kelas II SMP, ayah mengajakku mengunjungi bekas rumah di SD itu. Karena ga bisa masuk, aku hanya bisa melongok dari jendela. Lalu aku menyadari, ya ampun, sempit sekali! Entah karena aku sudah tumbuh jauh lebih tinggi, atau karena sudah lebih terbiasa dengan rumah sekarang yang memang lebih luas, jadi waktu melihat rumah yang lama: ruang tamu 3×4 m, kamar tidur 2,5×2,5 m, dan dapur 1,25×2 m (cuma cukup buat 2 orang!) itu, semua terlihat begitu menyesakkan. “Lho, perasaan dulu kelihatan luas?!”.

Aku akhirnya sadar. Tentu saja dulu rumah itu terlihat luas. Karena aku melihatnya dari kacamata seorang anak kecil! Pastinya buat Ayah dan Ibu’, dulu pun rumah itu sudah terasa sumpek sekali.

Ternyata, masalahnya ada pada perbedaan sudut pandang. Bagi anak kecil, ruang yang sempit terlihat luas. Namun bagi orang dewasa, tentu saja ruangan itu ga muat untuk menampung tubuhnya.

Mengenang ini, aku jadi membandingkannya dengan masalah-masalah yang kadang kuhadapi. Sering aku mengeluh ini itu, seolah hal tersebut adalah sesuatu yang besar. Padahal, bagi orang lain, mungkin hal itu adalah masalah kecil. Disini terlihat perbedaan “kebesaran” jiwa. Dengan jiwaku yang kerdil, aku merasa masalah kecil adalah bencana, cobaan yang mesti ditanggung, atau azab atas perbuatanku. Padahal, yang diperlukan adalah memperbaiki cara pandang.

Kurasa, sama seperti rumah, semakin “besar” manusia, semakin besar pula masalah. Masalah yang datang akan selalu sebanding dengan kemampuan kita, karena Dia telah menjanjikan seperti itu. Tak ada yang perlu ditakutkan.

Aku pernah mendengar, kabarnya, orang besar itu adalah orang yang otaknya berisi masalah negara, masyarakat, dan hal-hal besar lain. Orang kerdil adalah yang masalahnya hanya berkutat pada diri pribadinya. Apakah aku bisa tampil cantik hari ini? Kenapa baju di jemuran ga kering-kering? Dan hal-hal remeh lainnya. Ah, kalo seperti itu, rasanya masih jauh diriku dari gambaran “orang besar” …

Menjadi orang besar, dan berjiwa besar, ada yang tahu bagaimana caranya?

NB: Tak dinyana, ternyata bekas rumah di SD itu sekarang menjadi perpustakaan, sama seperti keinginanku punya rumah yang banyak bukunya. Hehehe…