Arti Memberi

Di blog ini, temanku berkata ingin memiliki seorang sahabat. Sejak membaca tulisan itu aku bertanya-tanya, “Ya, bagaimanakah caranya mendapat sahabat?”

Semasa SMP, Nur terkenal sebagai orang yang judes dan sombong. Aku tidak pernah menyapa teman-temanku. Sebenarnya bukan tidak mau menyapa, tapi memang “tidak bisa menyapa”. Lidahku selalu kelu ketika harus melakukannya. Aku terlalu pendiam dan rendah diri. Mungkin latar belakang hidup 7 tahun jauh dari tetangga yang membuatku seperti itu. Entahlah. Yang jelas, waktu itu bisa dikata, aku tak punya teman.

Namun semua berubah sedikit demi sedikit sejak SMA. Di SMA, aku punya klik yang terdiri dari anak-anak Kabupaten dan anak kota lain. Kami memang minoritas diantara anak-anak asli Kota Malang. Dengan adanya klik, kami bisa saling menguatkan. Masuk kuliah, hidup sebagai anak kos memaksaku belajar bersosialisasi dengan orang lain. Sekarang, meski sebenarnya rendah dirinya masih ada, tapi kurasa, aku tak sependiam dan setertutup seperti dulu.

Aku akhirnya menyimpulkan, untuk memiliki seorang sahabat, atau paling tidak beberapa teman, kita dululah yang harus bersedia menjadi sahabat atau teman bagi orang lain. Dalam Pelatihan Pra Jabatan yang baru kuikuti beberapa minggu kemarin, diajarkan dan ditekankan pentingnya prinsip memberi. Rosul juga mengajarkan tentang tangan di atas yang lebih baik dari tangan di bawah. Memberi, adalah suatu prinsip alam. Pohon-pohon memberi buah; binatang menjadi sumber protein, menjadi teman, memberikan keindahan. Matahari memberi sinar, hujan memberikan kehidupan. Alam selalu memberi, tanpa pernah menuntut kita memerikan balasan atas apa yang sudah mereka lakukan.

Memberi juga merupakan salah satu prinsip dalam persahabatan. Menjadi teman dulu, baru beroleh teman. Memberikan diri untuk menjadi sahabat dulu, baru kita mendapatkan persahabatan dari orang lain. Namun memang, mempertahankan persahabatan adalah bagian yang lebih sulit daripada mencari sahabat itu sendiri. Berusaha menjadi sahabat yang baik membutuhkan kesabaran dan energi yang besar. Paling tidak, kita harus selalu siap ketika sahabat kita membutuhkan, mau mendengarkan keluh kesahnya padahal kita juga sedang kesusahan.

Di luar konteks persahabatan, ternyata konsep memberi tetap berlaku untukku. Dulu, aku tidak pernah bisa dekat dengan anak kecil. Setiap kali aku mendekati seorang anak kecil, dia selalu lari, atau paling tidak, menunjukkan sikap ketakutan yang sangat. Aku sampai merasa putus asa, mempertanyakan “keperempuanku”. Namun, setelah aku mencoba menghilangkan perasaan-perasaan buruk dalam diriku, kini dengan sedikit senyuman, meski masih agak kaku, aku mulai bisa berdekatan dengan makhluk-makhluk lucu itu ^^. Dalam Musashi, aku pernah membaca (sayang tak bisa kutulis lengkap di sini, aku lupa itu di jilid berapa) bahwa “seorang anak kecil pun mengerti tentang kecantikan yang murni”. Ternyata dengan memberi maaf, aku bisa memperoleh suatu “hidup yang lebih baru”.

Dan kemarin, Allah telah genap memberikan 23 tahun kesempatan hidup padaku. Entah berapa tahun, berapa bulan, atau berapa hari lagi kesempatan itu akan diberikan padaku. Aku berharap, dengan semakin berkurangnya umurku, semoga sisa umurku adalah umur yang barokah, dan aku bisa semakin dewasa dalam menjalaninya. (Dan semoga doa-doa teman-temanku yang diberikan padaku kemarin dikabulkan oleh-Nya) Amin… ^_^