Ramadhan, irasshaimase…

Kemarin sore, sekitar pukul setengah lima, Mr XXX dari bagian lain tiba-tiba berkunjung ke ruangan.

“Eh, Si Harry (bukan nama sebenarnya -red-) ada?” tanyanya.

“Wah, udah pulang tuh Mas… (masih lumayan muda, jadi manggilnya Mas) Emang kenapa Mas?”

“Oh, nggak, mau minta file. Besok aja deh…”

Waktu itu aku mikir, mungkin file yang dimaksud adalah file penting berhubungan dengan pekerjaan.

Esok paginya (hari ini –red-) ternyata Mr XXX datang lagi. Karena ternyata ga ketemu juga dengan Mas Harry, jadi waktu Mas Harry datang, aku bilang, “Mas, tadi dicari Mr XXX”. Segera sudah itu Mas Harry pergi, kemudian balik lagi bersama Mr XXX. Setelah berkutat sebentar di komputer di pojokan, Mr XXX pun pergi.

Karena penasaran, aku bertanya pada Mas Harry, “Emang file apaan sih, Mas?” Mas Harry cuma ngakak, sambil ngasih kode tanda silang pake jarinya. Aku langsung ngeh. “Wah, moso? Kan Mr XXX dah punya ‘pelampiasan’” .

“Kqkqkq, tapi kan bentar lagi puasa,” balas Mas Harry.

Lah, apa hubungannya coba? Masak karena beberapa hari lagi Ramadhan tiba, “penyambutannya” dilakukan dengan “lembur” nonton bokep?! (ups)

Yah, sudahlah, lupakan. Memang, gema Ramadhan mulai terdengar. Tak terasa beberapa hari lagi (insyaallah) kita bisa bertemu dengan bulan suci ini. Di kantor tempatku bekerja, macam-macam hal sudah dilakukan sebagai “persiapan” menyambutnya. Mulai dari pengajian tingkat departemen (yang ternyata hanya berlangsung selama 1 jam 15 menit, kqkqkq), pengajian Dharmawanita, pelatihan sholat khusyu, hingga SE tentang penetapan jam kerja selama Ramadhan. Hehehe.

Tapi entah kenapa, aku dan Ncep sepakat, Ramadhan kali ini bagi kami malah terasa “kurang greget”. Mungkin karena kami jauh dari rumah, atau entah apa. Aku malah belum punya persiapan sama sekali. Agak bingung, karena baru kali ini aku menjalani Ramadhan di tempatku yang sekarang. Kalo di Jurangmangu dulu, selama Ramadhan, nyari makan sahur atau menu berbuka sih mudah banget. Tapi di sini, apakah warung sebelah kosan akan buka ketika waktu sahur? Lalu, biasanya pulang kerja aku langsung tepar. Apakah aku mampu mengikuti sholat tarawih berjamaah di masjid terdekat di daerah kosku? Lalu, di situ tarawihnya berapa rakaat ya? Belum lagi tahun ini aku musti buka dan sahur sendirian karena sistem kosanku yang kamar per kamar, tidak memungkinkan bagi kami untuk berkumpul seperti di kosan yang dulu. Ah, semuanya masih kabur. Jadi kangen kosan lama… (All POC’ers, I miss you… hiks!)

Semoga Ramadhan kali ini lebih baik dari tahun kemarin, dan semoga aku diberi kekuatan untuk menjalaninya.