Selamat Idul Fitri 1429H

Sebelum hiatus lama sepanjang lebaran, Nur ingin menyampaikan permohonan maaf kepada semua. Mungkin selama ini ada postingan yang menyinggung perasaan, kata-kata yang tak layak diucapkan.

Dengan kesungguhan hati, Nur minta maaf atas semua khilaf selama ini.

Bahasa bunga Hyacinth ( purple) = “maafkan aku”

Met lebaran.

Yang mau mudik, hati-hati di jalan… ^_^

(Nur sendiri 3 jam lagi musti ke stasiun. Pulang… pulang!) 😀

Dewa mata, minna san! ^_^

Kalimat yang Kubenci

Ada satu kalimat yang kubenci:

Aku percaya kamu bisa hidup tanpaku.

Wah, yang pasti kalimat itu tidak ditujukan padaku. Secara diriku ga pernah pacaran, jadi ya ga mungkin juga pernah diputus. (Hehehe, curang!).

Kalimat tersebut pertama kali kudengar di serial Long Vacation, waktu Minami menerima surat undangan pernikahan dari bekas tunangannya. Dan sejak itu aku benar-benar muak mendengarnya. Begitu egois. Seolah-olah orang yang mengucapkannya tahu segala sesuatu, hingga tahu hati, perasaan, dan kemampuan orang lain. Padahal, tidak ada hak bagi orang lain untuk menghakimi sesamanya (kecuali yang profesinya emang hakim. Mwehehehe…)

* Ternyata masih ada sisa emosi kemarin ^_^ *

Kalo Kamu, ada kalimat yang kau benci ga?

Cerita Selama Hiatus (prolog)

Cerita-cerita berikut, dengan warna huruf yang lebih tua daripada biasa, merupakan cerita-cerita yang kutulis selama hiatus kemarin. Mencoba menghilang dari blogosphere, ternyata aku malah terjangkit virus HIV (Hasrat Ingin Vosting). Karena sudah terlanjur berjanji untuk hiatus, jadi kusimpan dulu untuk sementara di word, dan baru kuposting sekarang.

Mungkin setelah ini, akan hiatus lagi… Gomen ne… *-*

Dulu dan Sekarang

Malang kota indah sejuk nyaman

Bagai bunga di dalam taman

Slalu dikunjungi wisatawan

Sungguh menarik perhatian

Di sini aku dilahirkan dan aku dibesarkan di kota kesayangan

Di sini aku dilahirkan dan aku dibesarkan di kota kesayangan

(Jika ada yang ingin tahu nada lagu di atas, coba tanyakan kepada orang Malang yang anda kenal ^_^)

Lagu yang merupakan wujud kenarsisan kecintaan warga Malang pada daerahnya tersebut kupelajari semasa SD (atau SMP ya? Lupa!). Dulu, ketika masih tinggal di Saptorenggo, di suatu Ramadhan di bulan Januari, selesai sahur aku iseng meletakkan termometer ruangan di halaman rumah (termometer ruangannya pinjem dari perlengkapan praktikum IPA di perpustakaan, hehehe). Pas subuh kuambil termometernya dan kulihat: angka menunjukkan suhu waktu itu adalah 15° C. Menakjubkan! Pantesan dingin bangetz.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

“Banyuwangi… dan yak! Malang saudara-saudara…” dan anak-anak kecil berkostum kaos biru salah satu kesebelasan sepak bola di Malang itu pun berlarian menunjukkan kesukariaannya.

Iklan salah satu operator telepon selular itu menarik sekali, menampilkan kekhasan warga daerah masing-masing. Awalnya aku senang dan bangga, ada Malang tersebut di sana. Lalu lama-lama aku merasa ada yang sedikit ganjil. Apa ya? Lama-lama aku sadar: matahari di latar belakang terlalu terik, tanah begitu gersang, dan suasananya terlalu urban. Aku merasa itu bukan Malangku. Malangku yang “indah dan sejuk nyaman”.

Namun, dari kepulanganku terakhir ke Malang, ketika berkesempatan pergi ke kota (rumahnya sekarang mblusuk di desa, jadi jarang kalo pas mudik bisa pergi ke kota) yang terasa malah gerah, sumuk banget. Pohon-pohon besar tinggal sedikit dan dimana-mana terlihat ruko. Malang Kota Ruko, bisikku sedih. Ruko, mall, sawah-sawah yang berubah jadi pabrik, jadi POM bensin…

Efek pembangunan yang keterlaluan??

# 2 minggu menjelang kepulangan #

Muka

Entah apa yang salah dengan mukaku.

Suatu hari di jaman SMA, aku pergi ke pasar besar Malang. Rencananya mau cari tas backpack. Ditanya ma penjualnya, “Cari tas buat anaknya ya Mbak?”. Aku tertegun: Aku bukan ibu-ibu!!

Suatu hari di kampus, aku ingin mengikuti suatu acara pelatihan penulisan. Sendirian aku pergi ke gedung B, tempat acara diadakan menurut selebaran yang beredar. Namun ketika aku tiba di sana, lho kok sepi? Kok ga ada orang? Masak salah tanggal? Tiba-tiba seorang akhwat -yang tampaknya adalah salah satu panitia acara itu- menghampiriku, “Acaranya pindah ke gedung G, Dhek.” Aku tertegun: aku dah tingkat akhir, dan prasaan kita seangkatan deh Mbak…

Suatu hari di warung Padang deket kantorku, aku memesan beberapa box nasi Padang untuk orang-orang di bagianku. Bapak kasirnya bertanya, “Maaf, atas nama ibu siapa?”. Aku menjawab kalem, “Ibu Nur.” Dah umur 22, berasa pantes juga dipanggil ibu. ^_^

Suatu hari ketika aku ke penjahit buat ngecilin baju batik (karena baju bekas, jadi agak kegedean), aku bertanya, “Kira-kira jadinya kapan ya Pak?”. Bapaknya balik nanya, “Keburu buat sekolah ya? Emang mau dipake hari apa?” Hoh? Haloo, diriku dah kerja sekitar 3 bulan dan dah sekitar 3 tahun lebih meninggalkan bangku SMA gitu. Mana Bapaknya nambahin, “Emang seragam anak sekarang yang pake batik”. Waduh!

Suatu hari di Jakarta fair, karena kelaparan aku dan Ncep memutuskan membeli mie instan. Setelah mendapatkan makanan kita berdua mencari tempat duduk namun tidak berhasil menemukan. Jadilah kita duduk di lantai, menghadap ke pelataran dalam. Memang saat itu aku yang memilih tempat, tapi aku benar-benar ga merhatiin kalo di sebelahku adalah sepasang muda-mudi yang sedang asyik memadu kasih. Pas asyik-asyiknya makan, tiba-tiba si cowok yang duduk lebih dekat ke aku menoleh padaku:

Cowok ga jelas : Pulang sekolah ya Dhek?

Nur : (kaget, memandang balik laki-laki itu, menaksir dan menyimpulkan bahwa usia dia hampir sama atau malah lebih muda dariku. Trus, aku dipanggil adik? Pulang sekolah? Oh, mungkin dia melihat kakiku yang masih bersepatu lengkap dengan kaos kaki dan rok biruku yang emang agak mirip seragam SMP) Nggak juga Mas..

Cowok ga jelas : Kok ga sama pacarnya?

Nur : (semakin takjub dengan keanehan itu) Hehehe, lha ini kan sama temen. Emang ke sini musti sama pacar?? (Ncep mulai ngikik)

Cowok ga jelas : Ya lebih enak sama pacar lah… (ngomong ga jelas lain, trus…) Mau es teh ga? (sambil nyodorin gelas plastik berisi es teh)

Nur : Oh, ga usah Mas… makasih… (nyengir)

Yah, sepertinya dia terganggu dengan keberadaan kami di sana. Tapi, cuek ah, cuek… Tapi, es teh-nya kayaè enak. Tadi kenapa kutolak ya?! 😀

Lain lagi dengan kasus berikut.

Suatu hari Sabtu di pasar deket kosan. Karena di tempat orang jual nasi lengko udah penuh sekali orang mengantri, maka aku pindah ngantri ke tempat penjual nasi uduk. Di depanku hanya ada seorang ibu-ibu. Ibu itu pertamanya bilang, “Uduk sebungkus.” Selang beberapa saat, “Tambah lagi deh sebungkus”. Lalu… “Lontong sayurnya sebungkus juga”. Aku emosi, ni ibu kalo pesan skalian napa? Kalo gini kan sama aja aku ngantri lama. Tanpa sadar, aku menghela napas agak keras (bahasa lain dari mendengus). Tiba-tiba ibu penjual nasi uduk menoleh panik ke arahku, “Keburu ngajar ya Neng? Mau pesan apa? Duluan aja deh”. Aku kaget. Ngajar? Aku? Tapi tetep aja aku nyeletuk pesananku. Eh, ternyata benar, langsung dibikinin, tanpa mengindahkan ibu-ibu tadi. Ternyata, selama ini, orang-orang pasar mengira aku seorang guru?!

Kejadian serupa terulang lagi kemaren. Ketika berkenalan dengan seorang anak baru di kosku.

Nur : Nur

Mbakè : Dina (bukan nama sebenarnya)

Nur : (senyum)

Mbakè : Ngajar atau kerja, Mbak?

Nur : (dalam hati: heh? Ngajar?) (cengar-cengir) Kerja kok Mbak. (lha terus emang ngajar itu bukan suatu pekerjaan?!)

Kesimpulan:

  1. Nur bisa tampak seperti ibu-ibu, mbak-mbak, maupun adik-adik, tergantung keadaan.
  2. Dari semua profesi, tampangku lebih kliatan sebagai guru daripada PNS (lho, guru kan juga PNS, Nur? Wah, gini kok bisa lulus prajab sih?!) ^_^

# Sebuah calon postingan yang kutulis di hari Sabtu #

Keajaiban Jilbab (part 2)

Di tulisan pertama dulu, aku pernah menulis tentang keuntungan-keuntungan yang bisa didapat jika memutuskan memakai jilbab. Ringkasnya sih kira-kira antara lain:

  1. Bikin pemakainya kliatan tambah cantik
  2. Mendorong peningkatan kadar ketaqwaan dan akselerasi pembelajaran Islam
  3. Melancarkan urusan (coz jadi banyak yang mau nolong, hehehe…)

Disini aku ingin menambahkan 2 point lagi yang baru aja kepikiran.

1. Menimbulkan keberanian dan rasa aman

    Pada suatu forum di kosan lama, kita sedang membahas angkutan kereta api ekonomi yang beroperasi komuter di Jakarta. Mulai dari beda antara kereta listrik dan kereta diesel (KRD) hingga keadaan KRD yang tampaknya lebih mengenaskan daripada KRL (padahal KRL pun sebenarnya sudah cukup mengenaskan ^_^)

    Mb R : Eh, aku pernah lho ke Serang naik KRD, naiknya dari jendela. Hehehe…

    Mb V : Heh, serius?

    Mb R : Iya, dibantuin ma bapak-bapak

    Mb V : Kamu berani emang sendirian naik kereta kaya gitu?

    Mb R : Biasa aja tuh. Dapet tempat duduk, ga ada yang ngangguin.

    Mb V : Kalo aku sih ga berani….

    Mb R : (memandang Mb V) Ehm…apa karena aku pake jilbab ya? (ket: Mb V waktu itu belum berjilbab) Dulu pas aku belum berjilbab juga bakal pikir-pikir dulu kalo mau kaya gitu.

    MbV : Iya juga kali ya…

    Keberanian serupa juga kurasakan saat naik Matar sendirian. Biasa aja. Alhamdulillah, ga ada yang ganggu atau mengambil tempat dudukku (meskipun sempet kutinggal ke kamar mandi). Padahal Matar waktu itu juga sedang lumayan penuh.

    2. Mempercantik kulit 😀

      Jika point 1 lebih ke kecantikan muka, point ini lebih ke “kelembaban kulit”. Terus terang kulitku termasuk kulit kering. Dulu aku sering minder dengan penampakan kulit lenganku yang seperti tanah Jawa di bulan Agustus, kering-kerontang, pecah-pecah karena kekurangan air (hiperbolis banget siy Nur). Sering iri juga kalo ngliat lengan temen sekosan yang asli mulus, terlihat lembab terawat. Ternyata setelah pake jilbab, yang otomatis bajunya lengan panjang, kulit lenganku terasa ada perubahan. Mungkin karena ketutup jadi kelembabannya ga ilang.

      Sekarang jadi sedih kalo liat cewek atau anak ABG yang udah kulitnya item (sama, aku kan juga item banget) malah pake baju lengan kutung-kutung, terpotong sampe ke lengan atas. Udah item, kok ga malu ya nunjukin ke”iteman”nya. Hehehe… Sudah gitu bingung pake lotionnya yang whitening. Daripada bingung pake lotion pemutih, kan lebih mudah menutupinya. Tunggu dan rasakan perubahannya (halah!) Yaa, tapi kalo dah “sulum” jangan dilepas lagi lah. Buat suami aja tar. Kqkqkq… 😀

      Musashi (2)

      Mino, namanya seperti nama sebuah propinsi di Jepang (padahal pasti bacanya pake o miring, bukan o jejeg –kalo ini pelajaran bahasa Jawa ^_^-) dan ternyata dia juga mewarisi sebuah “jiwa samurai”.

      Pak Mino, seorang laki-laki biasa dari Kebumen. Berkat usaha yang keras, dia berhasil merubah daerah pantai selatan Kebumen yang berpasir, gersang, dan terlantar, menjadi lahan pertanian semangka yang luas. Pada awal usaha, mungkin dia dicap gila. Tidak pernah ada tanaman yang bisa tumbuh baik di sana. Hanya rumput dan ilalang. Namun Pak Mino pantang menyerah. Trial and error, berkat pupuk kandang, dia berhasil merubah kondisi tanah menjadi cocok bagi tumbuhan semangka. Penemuannya itu dia sebarkan ke para tetangga. Dia ajak mereka menanam semangka, termasuk memberi bibit, memberi pinjaman untuk pupuk, dsb. Kini dia telah menjadi seorang “juragan” semangka dengan omzet 150 juta sekali panen.

      Melihat kegigihan Pak Mino merubah suatu tanah yang tidak mungkin ditanami menjadi lahan yang subur makmur, membuatku terkenang akan Musashi. Di buku 5, ada cerita bahwa setelah Musashi terpisah dari Otsu dan Jotaro, dia berkelana hingga sampailah dia di Hotengahara. Di sini dia merubah pandangannya tentang jalan samurai. Menurutnya:

      Jalan Pedang tidak boleh dipergunakan semata-mata untuk menyempurnakan diri. Ia harus menjadi sumber kekuatan untuk menguasai orang banyak, dan memimpin mereka ke arah perdamaian dan kebahagiaan.


      Maka bersama Iori (murid keduanya), Musashi dengan ngotot merubah tanah Hotengahara yang sama sekali tidak produktif, penuh semak dan bebatuan, sampai bisa ditanami padi dengan hasil panen yang berlimpah. Kalo dilihat dari ceritanya, sepertinya dia menemukan cara “terasering” sebagai solusi bagi tanah yang miring itu. Padahal sebelumnya banyak orang mencemooh dan menganggapnya sebagai ronin setengah gila. Tapi dia tidak pernah putus asa. Dan dia berhasil membuktikan, bahwa tidak ada yang sia-sia dalam setiap usaha.

      Ya, ilmu pedang tidak hanya tentang membunuh atau mempertahankan diri. Tapi juga tentang melindungi kehidupan, atau bahkan lebih jauh lagi: menciptakan kehidupan. ^_^