Dulu dan Sekarang

Malang kota indah sejuk nyaman

Bagai bunga di dalam taman

Slalu dikunjungi wisatawan

Sungguh menarik perhatian

Di sini aku dilahirkan dan aku dibesarkan di kota kesayangan

Di sini aku dilahirkan dan aku dibesarkan di kota kesayangan

(Jika ada yang ingin tahu nada lagu di atas, coba tanyakan kepada orang Malang yang anda kenal ^_^)

Lagu yang merupakan wujud kenarsisan kecintaan warga Malang pada daerahnya tersebut kupelajari semasa SD (atau SMP ya? Lupa!). Dulu, ketika masih tinggal di Saptorenggo, di suatu Ramadhan di bulan Januari, selesai sahur aku iseng meletakkan termometer ruangan di halaman rumah (termometer ruangannya pinjem dari perlengkapan praktikum IPA di perpustakaan, hehehe). Pas subuh kuambil termometernya dan kulihat: angka menunjukkan suhu waktu itu adalah 15° C. Menakjubkan! Pantesan dingin bangetz.

xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx

“Banyuwangi… dan yak! Malang saudara-saudara…” dan anak-anak kecil berkostum kaos biru salah satu kesebelasan sepak bola di Malang itu pun berlarian menunjukkan kesukariaannya.

Iklan salah satu operator telepon selular itu menarik sekali, menampilkan kekhasan warga daerah masing-masing. Awalnya aku senang dan bangga, ada Malang tersebut di sana. Lalu lama-lama aku merasa ada yang sedikit ganjil. Apa ya? Lama-lama aku sadar: matahari di latar belakang terlalu terik, tanah begitu gersang, dan suasananya terlalu urban. Aku merasa itu bukan Malangku. Malangku yang “indah dan sejuk nyaman”.

Namun, dari kepulanganku terakhir ke Malang, ketika berkesempatan pergi ke kota (rumahnya sekarang mblusuk di desa, jadi jarang kalo pas mudik bisa pergi ke kota) yang terasa malah gerah, sumuk banget. Pohon-pohon besar tinggal sedikit dan dimana-mana terlihat ruko. Malang Kota Ruko, bisikku sedih. Ruko, mall, sawah-sawah yang berubah jadi pabrik, jadi POM bensin…

Efek pembangunan yang keterlaluan??

# 2 minggu menjelang kepulangan #

Iklan

2 thoughts on “Dulu dan Sekarang

  1. itu ga cuma terjadi di kotamu, Nur…

    => Iya, di Makasar juga rusuh. Tapi kena dendanya lebih dikit dari Arema (30+50 juta).
    Yah, sudahlah. Aku cuma berharap Aremania ga balik jadi “preman” kaya dulu. Padahal dah sempet tobat, eh sekarang kambuh lagi. Padahal Aremania sudah sempat jadi suporter terbaik. Kalo liat milisnya jadi pengin nangis. Aremania yang di tempat jauh pada menyesalkan kejadian itu. Tapi mau sebut “oknum aremania” lagi (kaya peristiwa Kediri kemaren) juga ga bisa. Serba salah… T-T (curhat panjang lebar)

  2. BTW, judulnya sama dengan salah satu postinganku di blog lamaku… 🙂
    Dulu dan Sekarang…

    => Duh, Ren, maaf, tiada unsur kesengajaan itu…
    Ooo, makanya jadi berasa familiar.
    Habisnya “rumah lama” dah ditutup sih… (ngeles)
    :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s