Musashi (2)

Mino, namanya seperti nama sebuah propinsi di Jepang (padahal pasti bacanya pake o miring, bukan o jejeg –kalo ini pelajaran bahasa Jawa ^_^-) dan ternyata dia juga mewarisi sebuah “jiwa samurai”.

Pak Mino, seorang laki-laki biasa dari Kebumen. Berkat usaha yang keras, dia berhasil merubah daerah pantai selatan Kebumen yang berpasir, gersang, dan terlantar, menjadi lahan pertanian semangka yang luas. Pada awal usaha, mungkin dia dicap gila. Tidak pernah ada tanaman yang bisa tumbuh baik di sana. Hanya rumput dan ilalang. Namun Pak Mino pantang menyerah. Trial and error, berkat pupuk kandang, dia berhasil merubah kondisi tanah menjadi cocok bagi tumbuhan semangka. Penemuannya itu dia sebarkan ke para tetangga. Dia ajak mereka menanam semangka, termasuk memberi bibit, memberi pinjaman untuk pupuk, dsb. Kini dia telah menjadi seorang “juragan” semangka dengan omzet 150 juta sekali panen.

Melihat kegigihan Pak Mino merubah suatu tanah yang tidak mungkin ditanami menjadi lahan yang subur makmur, membuatku terkenang akan Musashi. Di buku 5, ada cerita bahwa setelah Musashi terpisah dari Otsu dan Jotaro, dia berkelana hingga sampailah dia di Hotengahara. Di sini dia merubah pandangannya tentang jalan samurai. Menurutnya:

Jalan Pedang tidak boleh dipergunakan semata-mata untuk menyempurnakan diri. Ia harus menjadi sumber kekuatan untuk menguasai orang banyak, dan memimpin mereka ke arah perdamaian dan kebahagiaan.


Maka bersama Iori (murid keduanya), Musashi dengan ngotot merubah tanah Hotengahara yang sama sekali tidak produktif, penuh semak dan bebatuan, sampai bisa ditanami padi dengan hasil panen yang berlimpah. Kalo dilihat dari ceritanya, sepertinya dia menemukan cara “terasering” sebagai solusi bagi tanah yang miring itu. Padahal sebelumnya banyak orang mencemooh dan menganggapnya sebagai ronin setengah gila. Tapi dia tidak pernah putus asa. Dan dia berhasil membuktikan, bahwa tidak ada yang sia-sia dalam setiap usaha.

Ya, ilmu pedang tidak hanya tentang membunuh atau mempertahankan diri. Tapi juga tentang melindungi kehidupan, atau bahkan lebih jauh lagi: menciptakan kehidupan. ^_^

Iklan

One thought on “Musashi (2)

  1. Waaa, kok aku baru nyadar ada postingan ini..
    Waaa, kebumen dibawa-bawa.. Duhhh, jadi ga enak nih ma Nur. Tahu aja kalo aku lagi kangen ma kebumen, ampe dibikinin postingan gini.
    Duh, jadi speechless, ni.. Terharu..
    Lah, speechless tapi kok udah ngomong segini banyak, ya? Hehe..
    Tapi, aku kok ga kenal ma pak mino, ya? Wah, kok aku ga kenal, ya..?

    => Makanya, ayo gantian, bawa-bawa “Malang” sana…mwehehe…

    Kok ga kenal sih Ren? Kan rumahnya yang deket mushola itu lho… (halah!) 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s