Kalimat yang Kubenci

Ada satu kalimat yang kubenci:

Aku percaya kamu bisa hidup tanpaku.

Wah, yang pasti kalimat itu tidak ditujukan padaku. Secara diriku ga pernah pacaran, jadi ya ga mungkin juga pernah diputus. (Hehehe, curang!).

Kalimat tersebut pertama kali kudengar di serial Long Vacation, waktu Minami menerima surat undangan pernikahan dari bekas tunangannya. Dan sejak itu aku benar-benar muak mendengarnya. Begitu egois. Seolah-olah orang yang mengucapkannya tahu segala sesuatu, hingga tahu hati, perasaan, dan kemampuan orang lain. Padahal, tidak ada hak bagi orang lain untuk menghakimi sesamanya (kecuali yang profesinya emang hakim. Mwehehehe…)

* Ternyata masih ada sisa emosi kemarin ^_^ *

Kalo Kamu, ada kalimat yang kau benci ga?

Iklan

9 thoughts on “Kalimat yang Kubenci

  1. Kalimat apa, ya?
    *mikir*
    Duhhh, kok ga nemu juga, ya?

    Bisa bantu aku mikir ga, Nur?
    😦

    => *ikutan mikir*
    Apa ya, Ren… Duh, binun juga… 😦

  2. Duhhh .. emang Nur di posisi Minami ato… si “Ayrton Senna” ? kekek..

    Ogut mah sang profesor ajah deh…hehe

    Kalimat yg ogut benci :
    “..maaf, qta rubah aja jadwalnya ya ?…”
    Arrggggghhhhh…… dipikir waktu bisa diulang apa ???

    => Wah, Mas Gempur nonton juga ya? Kalo Nur, di posisi penonton setia. Hihihi…

    Wow, sampe emosi juga. Kayaè sering “digituin” ya? Duh, kasihan…:(
    Asal ngrubah jadwalnya ga mepet2 aja lah Mas… Maklum, hampir jadi budaya siy. ^_^

  3. hmmm itu kan kalimat ngeles…
    selama ini aku gak pernah ngomong gitu karena pacarku yang pertama sekarang jadi istriku..
    jadi kalimat apa ya yang kubenci ?
    gak ada kayaknya tapi kalimat yang aku suka ada…neehhh :

    pa !! ini baju kotor kok diletakkan di tempat tidur !! selalu begitu ! setiap hari harus diomeli terus !!!

    hehehe ini kalimat yang aku suka karena aku memang seneng banget menggoda istriku hehehehe

    => Kyaaa…. so sweet. Mesra sekali nampaknya… suit suit! 😀

  4. mari kita analisis bersama kalimat tersebut.

    “Aku percaya kamu bisa hidup tanpaku.”

    kalimat ini adalah kalimat majemuk. kalimat yang lengkap sebenarnya adalah:

    “Aku percaya ‘bahwa’ kamu bisa hidup tanpaku.”

    kita mulai telaah dari klausa “aku percaya” yang terdiri atas subjek dan predikat. ini mengandung makna bahwa yang orang mengatakan kalimat ini (oymki) mempercayai akan sesuatu hal. sesuatu hal apa? sesuatu itu ditunjukkan oleh klausa kedua: “kamu bisa hidup tanpaku”. oymki percaya bahwa “kamu”, orang yang ditujukan kalimat ini (oydki), bisa hidup tanpa oymki.

    kalimat ini sebenarnya wajar-wajar saja. terserah bagi seseorang untuk mempercayai suatu hal. tiada yang melarang. lantas, mengapa dianggap kalimat ini begitu egois? mengapa seolah-olah oymki tahu segala sesuatu, hingga tahu hati, perasaan, dan kemampuan oydki? bukan demikian maksudnya, saudara-saudara.

    nah, selanjutnya mari kita telaah klausa kedua “kamu bisa hidup tanpaku”. ditinjau dari segi ilmu kehidupan di dunia ini (ikddi), pernyataan ini adalah benar tanpa cacat. hidup seseorang tidaklah begitu bergantung HANYA kepada keberadaan atau ketiadaan seseorang yang lain. kekuasaan Tuhanlah itu. begitulah menurut ikddi. oke?

    sekarang, mari kita telisik lebih dalam berdasarkan ilmu pacar-memacari (ipm). menurut ipm ini, kalimat tersebut adalah wajar adanya. hal ini sebenarnya memberikan penegasan bahwa oymki percaya bahwa oydki akan tetap ‘hidup’ meskipun tanpa oymki di sisinya (menjadi pasangannya). kepercayaan itu sangatlah penting bagi dunia pacar-memacari ini, bukan? kalimat ini juga sebenarnya menegaskan bahwa oymki ingin memberi semangat kepada oydki untuk terus hidup, berpenghidupan, dan menemukan kehidupan baru yang lain. tentunya tanpa campur tangan oymki lagi.

    demikian analisis ini saya sampaikan. kurang-lebihnya mohon maaf. terima kasih.

    //lagi puyeng…//

    => Jadi ikut puyeng.
    Iya siy, tentu saja hidup orang tidak bergantung pada satu orang lain. Tapi bergantung kepada Tuhan dan “banyak orang lain”.
    Tapi tetep tidak suka denger kalimat penyemangat seperti itu. (ngeyel, hehehe)
    ^_^

  5. oh kalimat melow itu ya. kalau saya alergi sama satu kata, comlicated 😀

    hehe

    => Maksudnya complicated, Kang?
    Wah, kalo susah-susah emang ga ada yang suka. Semua pengin gampangnya aja. Hihihi..
    (Padahal kata siapa itu, kalo “hidup adalah perjuangan”?! mwehehe..) ^_^

  6. uh, dasar kepala batu. susah dinasehatin. hwehe.

    (^_^)v

    kau tahu kan tingkat bunuh diri di jepang itu tinggi bgt? nah, dari survey dorama2 yg ada, kalimat itu praktis tdk semakin mempertinggi tingkat bunuh diri tsb. iya, tho? lantas apa jeleknya?

    putus cinta itu hal biasa. iya, tho? barangkali memang belum jodoh. iya, tho? barangkali sbnrnya ini pengalaman pribadi mbak sendiri. iya, tho? hwehe…

    (^_^)v

    yah, tampaknya mbak ini telah tercemar racun romantisme. waduhaduh….

    => Malah ngomongin bunuh diri. Kalo dah prustasi mau dinasehatin kaya apa juga susah (masih terkenang kasus bunuh diri terakhir, di surabaya apa mana gitu?! sebelum bunuh diri, membunuh istri dan 2 orang anaknya. Hiiii, syerem! Naudzubillah)

    Pengalaman sendiri? Hm, emang siapa ya yang pernah ngomong kaya gini ke aku?? :p

    Lho, apa pula salahnya bila “tercemar” romantisme? ^_^

    NB: Ris, total komenmu lebih panjang dari postinganku lho! Kqkqkq…

  7. aku aku, “kapan tita nikah?”
    caa..peee..deehh !!

    trus salah satu kalimat favorit (mudah2an ga sampe ngomong ini) “You broke my heart into thousands pieces and you said it’s because I deserve better???”

    => Hahaha, untung aku ga segencar itu ditanyain… ^-^v

    Dan pertanyaan2 spt itu akan terus berlanjut, Ta:
    1. Kapan punya anak?
    2. Kapan dede’ punya adik lagi?
    3. Kapan nih mantu?!
    dst… dst…

    😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s