Sebuah ruangan, dan nausèè

Apa yang ada di pikiranmu tentang hal berikut:

Sebuah ruangan yang luas, berukuran sekitar 10 x 20 meter, bertegel ubin warna krem ukuran 20 cm, dengan dinding kayu dan jendela-jendela putih tak tembus pandang berlis alumunium, beberapa kursi kayu panjang dan tempat sampah berjejer di pinggir melingkar ruangan, sebuah meja pingpong tanpa peralatan yang entah mengapa terletak begitu saja di tengah ruangan, dan AC yang dingin menggigit?

Aku yang berada di sana selama 1,5 jam terakhir, dibekukan oleh dingin AC yang menembus bajuku, merasa begitu mual dengan ruangan itu. Mungkin ubinnya masih baru dipasang. Tapi dinding-dinding kayu dan jendela putih tak tembus pandang ini mengingatkanku pada interior jaman tahun 80-an. Tempelan kertas di dinding, berkarat di makan usia. Sobek disana-sini hingga ketikan di atasnya akan susah dibaca. Dua buah poster yang hanya akan di baca oleh orang iseng, bukan karena ingin tahu apa pesan yang ingin disampaikannya. Tulisan-tulisan keterangan di atas pintu juga banyak yang copot, menyisakan potongan kata yang hanya bisa direka maksudnya. Secara keseluruhan, ruangan ini begitu menyedihkan. Tak ada keceriaan. Kesemuanya seperti saling dukung-mendukung untuk menenggelamkan manusia-manusia yang berada di dalamnya ke dalam kehampaan dan keputusasaan.

Lalu datanglah seorang bapak muda dengan dua orang anaknya. Si gadis kecil berumur sekitar 4 tahun dan si buyung berusia 3 tahunan. Berbeda dengan orang-orang dewasa yang sedari tadi berada di sana, dua manusia kecil ini datang dengan riangnya. Awalnya hanya menggelayut manja ke ayahnya, sedetik kemudian, semburat berlarian di dalam ruangan.

Bagi mereka, ruangan itu sama sekali tidak nampak menyedihkan. Bahkan sepertinya kamu bisa melakukan apa saja untuk menikmatinya. Kamu bisa berjalan sambil memutar-mutar tubuhmu seperti penari zapin (tak peduli bahwa dunia seperti gempa sesudahnya). Kamu bisa berlarian menyeberangi ruangan: mau yang sependek lebar ruangan atau balapan lari sepanjang ruangan. Kamu bisa berjalan dengan aturan hanya boleh menginjak tengah ubin, tanpa diperkenankan menginjak garis pembatas. Atau sebaliknya, berjalan tepat sesuai garis ubin yang ada. Sudah bosan? Ada meja pingpong dimana kamu bisa merangkak di ruangan lebar di bawah sambungan. Atau kalau butuh tantangan, cobalah merangkak sambil melompati kaki meja pingpong itu, bermain halang rintang. Tak peduli kakimu akan kotor sesudahnya. Tak peduli panjang rambutmu akan menggerai di lantai ubin yang jarang tersapu. Dunia begitu indah dan hanya berisi tawa.

Aku iri. Aku iri dengan keceriaan itu.

Dunia dalam mata anak kecil. Semuanya adalah obyek yang menarik untuk diketahui, untuk dipelajari. Bahwa ternyata berjalan berputar akan memusingkan kepalamu, lantas kenapa? Lalu kau berpikir kenapa ada meja yang ganjil itu, maka kau bertanya pada ayahmu, dan ayah akan memberikan penjelasan yang membuatmu berpikir tentang sesuatu yang hebat?!

Waktu kecil, aku merasa kehidupan orang dewasa itu pastilah begitu rumit dan berat. Padahal aku tidak mau hidupku menjadi rumit dan berat. Maka waktu dewasa, aku bersikap hati-hati. Aku tidak berani mengambil resiko terlalu besar. Pilihan untuk bersekolah di sekolah tinggi kedinasan adalah contohnya. Aku takut dengan resiko “ditolak waktu melamar kerja”. Terlunta kemana-mana dengan map lusuh dan masa depan tak tentu. Aku juga menghindari hal-hal yang sekiranya dapat mendatangkan masalah padaku. Oleh sebab itu aku akan menengok kanan-kiri waktu menyeberang, aku akan berjalan di sisi sebelah kiri jalan, dan tidak akan mengeluarkan anggota badan waktu naik kendaraan.

Tapi semua ini kadangkala membuatku bosan. Apa yang akan terjadi andaikata aku marah dan membentak-bentak atasan? Apakah beliau akan memafkanku? Apa yang terjadi kalau aku makan makanan yang sudah jatuh di jalanan? Apakah aku akan sakit karenanya? Aku tahu, jika aku makan, belum tentu aku akan sakit. Tapi aku juga tahu, bahwa mungkin aku juga bisa sakit karenanya. Atasan mungkin akan memecatku (tapi kalo PNS agak susah sih). Tapi mungkin juga dia hanya akan terbahak dan menganggapku gila (minimal lagi PMS). Dan semua ke”tahu”an ini pada akhirnya mengurungkan niatku untuk melakukannya. Beberapa waktu lalu aku suka melompat-lompat di dalam lift, hingga Ncep marah padaku. Namun setelah aku membaca bahwa melompat-lompat di dalam lift membahayakan jiwa, aku pun berhenti melakukannya. Ide-ide gila menjadi tidak menarik lagi.

Memang masih banyak hal yang tak kuketahui. Bahwa bagaimana sebenarnya orang merakit komputer, aku tak tahu. Bagaimana sebuah lempengan hijau dengan pernik-pernik kecil menjadi begitu berarti bagi sebuah radio, aku juga tak tahu. Aku tidak tahu cara orang-orang menentukan kerangka yang pas dan mengatur segalanya agar sebuah gedung bisa berdiri. Aku pun tidak tahu bagaimana kerja seorang intel membuntuti tersangka pembunuhan.

Namun sekali lagi, semangatku untuk mengetahui hal-hal tersebut sudah lungkrah. Dan dalam kebosananku pada diriku, maka dalam beberapa waktu aku bisa mengalami “suprême dégoût de moi”, suatu rasa mual pada diri sendiri (sebenarnya ini cuma copy paste saja, bukan berarti aku bisa bahasa Perancis) seperti kata Sartre dalam La Nausee (nah, aku juga bukan penganut paham ini, sama sekali bukan). Tak selalu terjadi memang. Seperti hujan yang akan mereda dan hilang seiring musim, demikian juga perasaanku. Jika sedih aku akan menangis, namun setengah jam kemudian aku dapat tertawa dengan lepasnya. Jika merasa kebas atau nausea, dalam beberapa hari kemudian aku akan kembali menjadi manusia normal seperti semula. Meskipun sebenarnya tidak ada batas baku atas “kenormalan” manusia.

Sekeras aku menyangkal diriku, aku bisa merasa, memang aku serupa ruangan itu.

Iklan

6 thoughts on “Sebuah ruangan, dan nausèè

  1. klo aku merasa jenuh dengan hidupku… hmm analisisku cuma dua 1. aku melalui hidup ini kurang dinamis 2. aku mengalami disorientasi tujuan hidup…

    he7 solusinya :
    -keluar sejenak dari rutinitas
    -tidur
    -muhasabah
    -bergaul dgn orang2 sukses yg sanggup menginspirasi

    he7x, maf kangpandoe sok tahu Nur

    => No 1, bener. Nur yang ga aktif sama sekali.
    No 2, sedikit ralat, kayanya emang Nur yang belum punya tujuan hidup. (Ada siy, tapi “kurang berkesan”)
    Yah, hanya kadang2 kok. Kaya migren tuh kan datengnya kadang2. Jadi kalo lagi kebas gitu ya “dinikmati” aja. Tar juga ilang sendiri. Mwehehehe…

  2. jah, kok malah jadi kek seorang gadis yang kukenal. pengen jadi anak kecil lagi, gitu?

    (^_^)v

    banyak punya ungkapan prancis, tau dari mana nih? mau s2 ke prancis, ya? hwehe. nitip dong ntar.

    => Ga pengin jadi anak kecil lagi kok. Itu namanya lari dari masalah.
    Ungkapan Prancis? Cuma copas dari novel itu… Mau s2 kesana? Hm, pikir2 dulu deh.
    Emang mo nitip apa? Baju? Parfum? Atau pecahannya menara eiffel? *mikir juga gimana nyuwilnya*

    😀

  3. refleksi? refraksi? rekreasi? hwehe…

    (^_^)v

    setuju aku, mbak. itu namanya lari dari masalah. hadapilah secara jantan. bukan begitu? hoho.

    emang s2 pengen di mana?

    => Belum mikir S2 saudara… masih bingung dengan D4, dan… S1 mendatang. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s