Lintasan Kenangan

Juli 2008

Selasa siang yang biasanya terik kali ini tak terasa menyakitkan. Jam 2 tadi aku mengantarnya sampai ke stasiun. Melihat kereta yang perlahan menjauh meninggalkanku, tenggorokanku serasa tercekik. Dengan susah payah kusembunyikan air yang mulai menggenang di mata. Kupaksakan menampilkan padanya, senyuman termanis yang kupunya.

Kembali ke kantor, mencoba bekerja seperti biasa, tapi ingatanku selalu tertuju padanya. Sudah sampai manakah? Amankah di kereta? Nyamankah perjalanan? Kukatakan pada rekan sekerja betapa aku merasa sangat kehilangan.

Sore hampir maghrib. Sempat aku menghilangkan gundah dengan menyapa seorang pria tampan yang kebetulan jalan searah pulang denganku. Selama percakapan, sempat kuterhibur dan bisa melupakannya. Tapi begitu kami berpisah dan aku terpaksa sendirian, kerinduanku kembali membuncah.

Gontai. Kunaiki tangga menuju lantai 2 tempat kamarku berada. Kuputar kunci dan kubuka pintu. Berantakan. Sisa-sisa kekacauan tadi pagi. Ah, baru beberapa jam yang lalu ia masih berada di sini, setelah selama 3 hari kami selalu menghabiskan waktu bersama. Aku melihat sehelai kertas tergeletak di lantai. Dengan berdebar kupungut, berharap ada tulisan tangannya di sana. Namun tak ada. Kecewa, kulihat sekeliling. Berharap lagi untuk menemukan sisa-sisa jejaknya yang tertinggal. Namun tak juga kumenemu. Dengan putus asa kuhempaskan tubuh ke ranjang –ranjang yang selama 3 malam ini ditidurinya-. Sedikit pun tak tercium bau tubuhnya. Kenapa? Kenapa dia pergi bagaikan kabut? Pergi begitu saja tanpa setitik pun jejak tersisa?

Aku merindunya. Aku sungguh merindukannya. Tak kusangka menghantarkan kepergian, jauh lebih menyakitkan daripada pergi itu sendiri. Aku gugu. Baru kusadari, betapa selama ini sudah berkali-kali hatinya tersayat melihat kepergianku.

Agustus 2008

Sudah sebulan, keluhku dalam metromini yang melaju menghantarkanku pulang ke kosan. Kupandang jalanan di luar -jalan yang pernah aku lewati bersamanya-. Masih terik matahari di senja Agustus yang kering ini. Dia tidak pernah tahan dengan hawa panas Jakarta, kenangku. Juga polusi di dalamnya. Tapi dia suka sekali naik bajaj. Meski aku sudah pernah mengajaknya naik busway yang jauh jauh lebih nyaman itu, dia lebih suka memintaku untuk naik bajaj. Aku teringat kesabarannya menanti bersamaku selama 4 jam untuk bisa naik ke puncak monas. Dia begitu tegar. Padahal pastinya migrain yang biasa dia derita itu telah menyerang, tapi dia tetap tersenyum, mengalah pada keinginan adikku. Kini aku tersenyum getir merinduinya.

Ah, tunggulah! Tunggulah hingga sebulan lagi. Aku akan pulang.

Okasan, aishiteru!

Akhir-akhir ini jadi makin sering posting ngaco. Ini tulisan isengku beberapa bulan lalu. Bagian akhir emang kutambah-tambahin se, sebuah pemikiran dan perasaan nyata yang tak sempat kutuliskan dulu. Hehehe, senang bercerita dengan bahasa kacau seperti ini. Tapi emang sih, aku tak pernah berhenti merindukan ibu’ku. ^_^

Iklan

4 thoughts on “Lintasan Kenangan

  1. Salam kenal Mbak. Cerita yang mengingatkan saya akan Ibunda yang saat ini tinggal di Medan. Kala ku kecil selalu ditimang dan kala kusedih ku dihibur dan di dalam Doanya namaku selalu di sebut. Sangat Indah dan membuatku melamun dan hendak terbang menemuinya.

    Salam

    => Salam kenal juga. Duh, jauhnya abang, kalo musti pulang ke Medan ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s