Tirai Hati

Suatu malam, telepon di rumahku berdering.
“Selamat ya Nur…” kata temanku di seberang. Dia baru saja melihat pengumuman UMPTN via internet. Dari kelas kami, ada 9 orang yang diterima di jurusan yang sama.
Alhamdulillah. Setelah telpon ditutup, aku langsung sujud syukur. Membayangkan betapa aku telah bersaing dengan puluhan atau ratusan anak lain yang ingin masuk ke sana.
Dengan ceria, kukabarkan berita pada ayahku yang mau menyusul ibu’ ke tempat perkemahan (sebagai guru SD, ibu’ kadang musti menginap pula mendampingi murid-muridnya kalau ada acara perkemahan seperti ini) “Yah, aku diterima”, kataku riang. Ayah cuma senyum, lalu pergi.

Dalam mobil tua (ayah sendiri menyebutnya gerobak beroda empat) di pinggiran bumi perkemahan, ayah tercenung sendiri. “Fakultas XXX. Paling nggak, biaya awal 10 juta. Kalau sepeda motor itu dijual, mungkinkah laku 10 juta? Kalau mobil ini, paling cuma 6 atau 7 juta. Lalu, semester-semester berikutnya bagaimana?” (nb: ternyata setelah melihat pengumuman di koran, daftar ulang membutuhkan biaya 13 juta. Hiks!)

Aku tak tahu cerita ini, sampai setengah bulan lalu saat silaturahmi Idul Fitri ke Kediri, ayah menceritakan perasaannya saat itu. “Rasanya pengin nangis”, ucap beliau. Aku tercekat. Waktu itu, yang kurasakan hanya senang dan bangga. Bangga karena aku bisa masuk fakultas yang dianggap keren. Aku sama sekali tak berpikir bagaimana perasaan kedua orang tuaku. (Sekarang aku bersyukur sekali telah memilih STK, alih-alih masuk ke fakultas itu)

Beberapa hari lalu, aku menonton lagi dorama-paling-sedih kedua setelah Oshin: 1 Liter of Tears. Baik, tak perlu dibahas ceritanya. Semua juga pasti terharu melihat ketabahan Aya dalam menghadapi penyakit yang dideritanya. Tapi, setelah menonton lagi untuk kedua kalinya, aku mengingat-ingat bagian mana dimana air mataku jatuh berderai-derai. Ternyata aku selalu menangis tiap kali bagian ibunya Aya. Bagaimana pada mulanya hanya beliau yang tahu tentang keadaan Aya yang sebenarnya, bagaimana beliau kelimpungan mencari informasi dan dokter untuk Aya, dll.

Orang tua, selalu saja memikul sendiri bebannya. Menyimpannya rapat-rapat di balik tirai hati. Sama sekali tak ingin membebani sang anak. Mungkin kelak ketika aku sudah menjadi orang tua, aku juga akan begitu?!

Jadi merasa bersalah. Terakhir aku ngrepotin orang tuaku adalah kemaren pas pulang. Aku minta anter ke Jombang (habisnya ayah bilang “Kan sekalian ke Kediri”) buat naik kereta bisnis, balik ke Jakarta. Ternyata kami salah jalan: nyasar sampai jalan buntu di atas gunung dan di depan adalah perkebunan, salah jalan lagi masuk jalan berbatu-batu sampai mobil berasa hampir ngguling ke jurang (ibu’ dah pucat aja waktu itu, tangannya erat mencengkeram sisi kaca mobil, duh!), lewat jembatan sempit tanpa pengaman di atas sungai jalur lahar, perjalanan panjang dari gunung ke gunung selama 4 jam, hingga kelaperan dan baru makan jam 2 siang. Hiks, ampun Bu’…

Iklan

4 thoughts on “Tirai Hati

  1. wah aku mau dunk diajak jalan2 melewati gunung melintasi lembah… he..he..

    => *berpikir, di Cirebon ga ada gunung dan lembah ya?*

    Kaaang… ini sungguh bukan petualangan yang asyik. *keluh*

  2. ahhh nur..kau sendiri tahu gimana kisahQ bisa sampai ksini hehehe

    => Ahhh Mbak Hen… aku kan jadi merasa bersalah. Mungkin ini karma karena menghianatimu… tapi, sungguh, diriku memang lagi terlalu bokek untuk naik Gajayana. Gomen ne… 😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s