Telur Puyuh Ceplok

Sedang kangen sama masakan ibu’ nih.

Waktu saya masih duduk di tingkat dua, ayah sempat memelihara burung puyuh (sekarang sih udah nggak). Ketika itu ada sekitar 900 ekor burung puyuh di belakang rumah. Jadi saat saya pulang untuk liburan panjang selama 1 bulan, hari-hari saya selalu disibukkan oleh kegiatan “bercengkerama” dengan puyuh-puyuh itu. Lumayan repot juga. Mereka harus diberi makan pagi, siang, dan sore. Kotorannya dibersihkan tiap dua hari sekali. Malam sekitar pukul tujuh, telur-telurnya diambil (bilang aja “panen”). Di antara semua, moment ini tentu yang paling saya sukai.  😆

Dari sekitar 900 ekor puyuh, bila kondisinya baik, bisa menghasilkan sekitar 850 butir telur perhari. Diantara ratusan telur itu, biasanya ada sekitar 10-15 butir telur yang “gagal”. Disebut gagal bila isi telur tidak terbungkus cangkang dengan baik, atau dengan kata lain hanya dilapisi oleh selaput ari. Tentu saja, telur-telur ini tidak bisa dijual. Terpaksalah, dikonsumsi sendiri, daripada membusuk begitu saja. (Jadi hampir tiap hari makan telur puyuh?! Yups, tepat sekali! Wohoho. Balik-balik muka jadi penuh jerawat deh. :mrgreen: )

Karena bosan dengan cara pengolahan yang “itu-itu saja” (direbus, didadar, diceplok, ditanak di atas nasi, dll), maka ibu’ pun berpikir untuk memberi “sedikit sentuhan” biar agak-agak beda. Dan… inilah resepnya:

Bahan:

5 butir telur puyuh (lebih juga boleh dink)

2 siung bawang merah

sedikit garam

minyak untuk menggoreng

Cara:

1. Bawang merah diiris tipis-tipis, lalu digoreng, dibikin bawang goreng.

2. Taruh telur di wadah (seperti kalo mau bikin dadar) tapi ga usah dikocok.

3. Goreng telur secara bersamaan, taburi atasnya dengan garam dan bawang goreng. Kalo bawahnya dah matang, jangan lupa dibalik.

4. Jika kedua sisi dah matang, angkat dari penggorengan. Mwehehehe…

Taraa… jadilah telur puyuh ceplok versi Ibu’. Apa istimewanya? Hm, begini… aroma bawang goreng berbeda sekali dengan aroma bawang pada telur dadar biasa. Selain itu, tekstur bagian kuning telur dari telur puyuh lebih kenyal dari telur ayam. Benar-benar unik. Rasanya seperti makan telur setengah matang tapi sudah matang. Uenak tenan! Tapi yang perlu diingat, (kalo ga salah) kalori telur puyuh itu lebih tinggi daripada telur-telur unggas lainnya. Jadi, sebaiknya makanan ini tidak dikonsumsi tiap hari. Selamat mencoba.  🙂

Iklan

9 thoughts on “Telur Puyuh Ceplok

  1. mau donk burung puyuh dan telurnya… kirim ya via g-talk bisa gak Nur?

    => Lah Kang, kan udah kubilang Ayah udah ga melihara puyuh lagi.
    Ni mau telur ceploknya? Ga usah via g-talk. Langsung nyuruh OB aja ngirim ke lantai 12. Mwehehe…
    :mrgreen:

  2. haduhhh jadi pengen telor puyuh nurrrr
    yg direbus biasa juga udah enyakkk

    => Mwehehe… iya ya, mbak Heni paling suka. Sayang, sekarang ayah dah ga melihara puyuh lagi. Pakannya mahal, harga telurnya ga sebanding… 😦

  3. hemm..telur puyuh..ingat jajanan sewaktu SD dulu, 1000 dapet sekantong berisi 10 dadar telur puyuh..

    ( ̄~ ̄) hemmmm~ kangen!

    => Hm, di SD dulu ga ada jajanan kaya gitu (jadi berasa tua…)

  4. mm, telur puyuh emang enak..
    Tapi setau sy, yg tinggi bukan kalorinya, tapi kadar kolesterolnya yg tinggi banget banget.. Jadi takut makan telur puyuh.. Hiks

    • iyup…kolesterol ya… makasih koreksinya… 🙂

      Tapi menurutku asal ga tiap hari, sekali-kali makan juga ga papa. Kecuali emang ada hal yang membuat kita harus menjauhi kolesterol tinggi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s