Delete

Sebenarnya, sangat mudah menekan tombol delete.

Kuakui, hatiku ini memang suka sekali lari-lari, loncat, bahkan terbang kesana-kemari. Begitu susah kukendalikan. Akibatnya, dia sering hinggap di tempat yang tidak tepat. Atau yang kurasa tidak pantas. Atau yang kupertanyakan, “Kok bisa sih, kamu hinggap di situ?!”.

Dan kemarin, beberapa hari lalu, dia begitu lagi.

Selama ini, gara-gara tingkah lakunya yang “clinthisan” itu, dia jadi sering terantuk batu, terjungkal hingga jatuh, dan akhirnya luka berdarah-darah. Tapi kok ya ga kapok-kapoknya dia melakukannya…

Lama-lama karena sebal, aku mulai mencari cara untuk mendelete tempat yang “tidak sesuai” itu dari sekitar tempat bermainnya, biar dia ga terus-terusan berdiam di tempat yang salah. Karena kalo tetap bertengger di sana, bisa dipastikan dia akan jatuh lagi.

Ternyata cara mendeletenya mudah saja. Biasanya, jika nama tempat ini kusembunyikan dari temanku, dan aku tetap menyimpannya dalam-dalam, maka dia akan terus bertengger di sana dan susah disuruh pergi. Dia berlagak mentang-mentang tidak ada orang yang tahu kalo dia lagi di sana, jadi sah-sah saja dia main di situ. Baru ketika tahu bahwa itu bukan tempatnya, dan si empunya cabang, pohon, atau batu itu datang dan mengusirnya dengan kejam, barulah dia lari terbirit-birit hingga jatuh dan berdarah. Ah! (keluh) Makanya, biar dia segera pergi dari tempat itu, jika dari awal aku merasa tempat itu tak akan sesuai dengan dirinya, aku memutuskan untuk segera menekan tombol delete, dengan cara berkoar-koar pada temanku bahwa hatiku lagi hinggap di sana. Kalo sudah begitu, biasanya dia akan malu dan -meski dengan enggan- bergegas pergi dari tempat yang bukan miliknya itu.

Memang sedikit kejam. Entah sudah berapa kali kutekan tombol itu. Dan entah berapa kali dia terpaksa terbang lagi tak tentu arah. Tapi daripada dia terjatuh atau terusir lagi, menurutku ini lebih baik.

Untuk seseorang yang beberapa saat lalu sempat kurindui, maaf, karena hatiku sempat hinggap di tempatmu. Tapi tenang saja. Aku sudah menekan tombol delete itu kok! ^_^

Karena aku ingin, dia hanya bertengger di tempat yang tepat, yang memang telah kumiliki secara sah. Mwehehe… 😉

Iklan

6 thoughts on “Delete

  1. hahaha..katanya nur..jgn di delete2 gitu.kan itu memperkaya pengalaman qt 😛

    => mwehehe… iya sih Mbak. Tapi yang kupikir “jangan di-delete” itu untuk “yang sudah terlanjur lama ada“. Sedang untuk yang baru, yang belum terlalu tinggal-lama, aku lebih suka men-deletenya. ^_^

  2. ……
    ……

    haa.. *menghela nafas* (- -)

    meski udah di delete, masih ada di recycle bin mba…
    *curhat colongan*

    => Recycle bin? Yah, mungkin siy, masih tertinggal di sana. Akh, sepertinya memang akan tertinggal di sana… Mwehehe. Tapi tak mengapa. Namanya juga “kenangan”. ^_^

    Yang penting, ga nongol lagi di My Document.

  3. waaah ko gitu?
    jangan didelete, dinikmati aja rasanya, sakitnya…

    => Ga mau! Karena sakit itu benar-benar akan terasa sakit. Cukuplah setengah tahun ini aku berkubang di dalamnya. Ga mau-mau lagi… ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s