Kisah Dara

Alkisah, Si Coklat -ayam babon, induk dari semua ayam-ayamku- dengan anehnya tiba-tiba mengerami telurnya yang baru dua butir. Suatu anomali, karena biasanya dia bisa mengerami telur hingga belasan dan menetaskan lebih dari 7 ekor anak ayam yang lucu. Tapi karena dia adalah si Coklat, babon kesayangan Ibu yang apapun perbuatannya akan selalu dimaafkan, maka perbuatannya kali ini pun kami maklumi.

Setelah 21 hari, salah satu telur itu menetas. Seekor anak ayam berbulu kuning keluar dari dalamnya dengan cekatan. Cekatan? Iya. Karena dari awal dia sudah tampak begitu kuat. Cairan dan darah yang meliputi tubuhnya dia bersihkan sendiri. Begitu kering, dia sudah lari-lari di sekitar petarangan. Mematuk-matuk mata induknya, bersembunyi di bawah sayap si Coklat… pokoknya benar-benar usil. Si Coklat mengamati anak pertamanya itu (pertama untuk kloter ini). Kok kuning ya? Eh, tapi ada beberapa helai bulu coklat kecil di sela sayapnya. Syukurlah… dia memang anakku. :mrgreen:

Selang sehari kemudian, telur satunya pun menetas. Seekor anak ayam yang cantik keluar perlahan-lahan dari balik cangkang. Setelah bulunya kering, tampaklah warna bulunya yang hitam. Tapi sebagai induk, si Coklat tahu ada helain bulu putih di sana. Kelak, anak keduanya ini pastilah menjadi berwarna blirik (hitam putih berseling-seling gitu lho!). Ah, ternyata dia mirip bapaknya, pikir si Coklat. Berbeda dengan si Kuning, Blirik Kecil sangat kalem. Kegemarannya berdiam dekat induknya. Atau naik ke punggung si Coklat, memandangi saja semua tingkah polah kakaknya yang kadang aneh-aneh itu.

Hari berganti, minggu berselang. Si Kuning dan si Blirik sudah saatnya lepas dari asuhan, atau yang lebih dikenal dengan istilah disapih. Setelah masa penyapihan yang kejam (lebih mirip “Duka si Anak Tiri” karena si Coklat pura-pura ga kenal anaknya, bahkan kadang mematuk mereka dengan sayang sadis) mereka berdua pun meninggalkan imej sebagai “anak ayam” dan siap berpetualang sebagai dua ekor ayam dara (ga enak nyebut ayam perawan, kqkqkq).

Sebagai ayam dara, ternyata sifat-sifat mereka tidak berubah. Si Kuning dengan tingkahnya yang “pethakilan”, kegemarannya adalah berebut makan dan bertengkar dengan ayam jago muda seumurannya. Akibatnya, meski cukup rajin “mandi debu”, bulu-bulu kuningnya kusut masai. Wajahnya tampak sangar dengan kaki coklat panjang dan tulang duduk yang tinggi. Benar-benar “nglanangi”. Kata Ibu, kalo tubuhnya seperti itu sih bakalan susah jadi induk yang bagus.

Sementara itu, si Blirik benar-benar tumbuh sebagai dara yang cantik. Solah tingkahnya tetap aleman. Tubuhnya bulat pendek dengan kaki kuning mulus dan tulang duduk yang rendah, menggambarkan betapa banyak telur yang bisa dia hasilkan di masa depan. Bulu-bulu tubuhnya pun halus dengan ekor yang mengembang sempurna.

Meskipun berbeda rupa bagai si beruk dan putri raja, mereka berdua tetap rukun. Sebagai kakak dan yang fisiknya lebih kuat, si Kuning lebih sering berusaha melindungi adiknya. Urusan mencari rayap di bawah tumpukan daun pun, dia yang mengorekkan untuk berdua. Atau ketika mencari lipan di bawah batang pisang yang roboh, si Kuning selalu membagi dua hasil tangkapannya dengan Blirik.

Suatu hari ketika sedang jalan-jalan sendirian ke kebun tetangga, si Blirik melihat seekor ayam jago muda sedang berlatih berkokok. Meski kokoknya sangat jauh dari sempurna (namanya juga baru latihan), Blirik merasa kokok itu sangatlah merdu. Tak pernah dia mendengar kokok semerdu itu. Lalu dia mulai mengamat-amati pemilik suara emas tersebut. Warna bulu si Jago Muda itu merah bercampur sedikit hijau dan hitam keemasan. Walau tajinya masih kecil, Blirik merasa jago muda itu sangat gagah. Lho, kok Blirik jadi deg-degan ya?!

Dengan setengah berlari (kan Blirik jarang lari-lari) si Blirik pulang. Dengan terengah-engah, dia menceritakan jago muda itu pada si Kuning. “Sumpah, cakep banget!”, katanya semangat. Si Kuning yang lagi terkantuk-kantuk di bawah pohon mangga mendengarkan semua cerita Blirik dengan malas-malasan. “Oh ya?!,” jawabnya.

Sebal mendengar tanggapan Kuning yang biasa saja itu, si Blirik pun memaksa Kuning untuk pergi melihat sendiri (kan ga bisa “menyeret Kuning untuk pergi melihatnya sendiri”, mwehehehe). Beriringan mereka berdua pergi ke kebun tetangga. Ternyata si Merah masih di sana (sebenarnya si Merah tahu kalau dari tadi diperhatiin ma Si Blirik, ayam sebelah yang cantik itu, jadi dia diam-diam menunggu di situ). Setelah melihatnya, si Kuning cuma komen singkat, “Kerempeng gitu!” ujarnya sok cuek. Padahal dalam hati, dia merasa si Merah lumayan juga. Berbeda dengan jago-jago muda yang selama ini jadi teman berkelahinya.

“Kenalan yuk!” rajuk si Blirik.

“Ogah ah, kamu sendiri aja sono!”

“Ayolah…” Dan karena si Kuning hampir selalu menuruti semua perkataan Blirik, maka mereka berdua pun menghampiri si Merah yang sudah bersiap pasang aksi.

“Blirik…”

“Merah…”

“Kuning…”

“Merah…”

“Yoroshiku ne…” (ga nyambung!)

Setelah perkenalan itu, si Blirik jadi sering main ke kebun tetangga. Kadang si Merah juga balik bertandang ke halaman belakang rumahku. Pelan-pelan, tampak sekali “keakraban khusus” antara Blirik dan Merah. Sementara si Kuning masih tak peduli. Meskipun sebenarnya kadang dia ngiri juga dengan keakraban itu.

Pada suatu sore ketika Kuning sedang iseng mengejar ayam juniornya hingga ke kebun tetangga, dia melihat Merah sedang berasyik-masyuk dengan seekor ayam dara berbulu hitam. Tampaknya si Hitam itu adalah ayam baru yang kini tinggal sekandang dengan si Merah.

Dengan kaget, si Kuning berlari pulang. “Eh, Blirik, tahu ga kalo si Merah itu sekarang dah punya pasangan?!” (maksudnya “dipasangkan” oleh tetanggaku itu)

“Tahu,” kata Blirik enteng sambil meneruskan menyisiri bulunya.

“Lho, emang kamu ga cemburu?!”

Kan kita temenan aja,” elaknya.

Kuning memandangi Blirik dengan muka tak habis mengerti. Sudah tahu si Merah sudah punya pasangan, tapi kok tetep bersikeukeuh jalan berdua?! Ah, entahlah. Otak si Kuning tidak mampu memahaminya.

Begitulah. Setelah peristiwa “pengungkapan fakta” itu pun, Blirik dan Merah masih senang jalan berdua. Sedang si Kuning, masih terus dengan kebiasaannya berkelahi dengan jago-jago muda dan berebutan makan dengan juniornya. Namun lama-lama Kuning merasa kehilangan juga. Mengingat bahwa Blirik jarang pulang, Kuning merasa sedih mengenang masa-masa “mesra” ketika dia dan Blirik sama-sama mencari rayap di bawah tumpukan daun dan kayu kering di halaman belakang. Memang sih, mereka masih tidur di kandang yang sama dan makan dari wadah yang sama saat kukasih dedak. Tapi selain waktu-waktu itu, masing-masing telah sibuk dengan dunianya sendiri.

Suatu hari, si Kuning sedang mencoba membalik batang pohon pisang yang roboh di kebun tetangga, berharap mendapatkan lipan atau rayap di bawah sana. Tiba-tiba dia menyadari ada makhluk lain di dekatnya. Dia pun mendongak. “Eh, Blirik… Merah…,” sapanya sambil tersenyum. Blirik dan Merah pun membalas senyumnya. Tepat pada waktu itu, seekor lipan ukuran sedang melesat dari balik serat batang pisang. Dengan sigap, si Blirik mematuknya. “Eh!” seru Kuning tertahan, dengan maksud ingin bilang “itu kan lipanku”. Tapi niatnya itu urung melihat kilatan di mata Merah yang memandanginya. “Biarkan untuk Blirik aja ya…” ujar Merah kalem tapi dengan nada yang dapat dimengerti Kuning sebagai “kasihin! kalo enggak, awas ya!”

Kuning cuma bisa nyengir. Dia akhirnya menyadari, Blirik sudah punya pelindung. Dan dia harus bisa merelakan Blirik. Perlahan-lahan, dia menyingkir dari situ. Bersumpah dalam hati untuk tidak lagi-lagi main ke kebun tetangga.

Dengan tertunduk lesu, Kuning kembali pulang. “Dunia ternyata sudah berubah… banyak berubah! Tapi kenapa aku terlambat menyadarinya?” keluhnya. Di halaman belakang, dia menuju tempat favoritnya yang teduh di bawah pohon mangga. Mencoba menenangkan diri dari semua hal yang telah terjadi. Berharap semua akan baik-baik saja sesudah ini.

Coda:

Tentu saja semua cerita di atas adalah fiksi belaka.

Untuk semua ayam yang pernah kupunya, dan ayam tetangga yang pernah kukenal:

Ÿ Si Coklat, yang mati karena insiden pembunuhan yang tak disengaja. Aku akan selalu mengenangmu sebagai induk terbaik yang pernah Ibu punya, satu-satunya babon di dunia dengan taji panjangnya.

Ÿ Si Kuning, yang akhirnya mati tanpa sempat bertemu dengan pasangannya.

Ÿ Si Blorok, yang mati dengan terhormat setelah masa 7 tahun lebih pengabdiannya pada keluargaku, entah dimanapun kuburmu.

Ÿ Pitik Jago Ceking, yang mengingatkanku pada gebetan masa SD-ku.

Aku cinta kalian semua. ^_^

Iklan

9 thoughts on “Kisah Dara

  1. petarangan? pekarangan, kali mbak…

    (^_^)v

    ayam suka makan laba-laba kagak?

    => Hem, ada yang perlu diluruskan:
    petarangan= tempat ayam mengerami telurnya, atau… mau disebut “sarang” juga boleh?! Ini kayaè khusus bahasa Jawa Timur sih. (soale kata anak Jogja, “petarangan” diartikan sebagai kandang ayam) Perhatikan kalimat di atas. Begitu kering, dia sudah lari-lari di sekitar petarangan. Untuk seekor anak ayam yang baru menetas, tidak mungkin dia langsung bisa berlari-lari sendirian di sekitar “pekarangan” tanpa didampingi induknya.
    Sedangkan pekarangan= halaman belakang, biasanya berupa kebun. Kayanya kita bakalan sepakat untuk hal ini. ^_^

    (pembahasan panjang lebar yang ga penting) 😛

  2. di banyumas namanya juga petarangan.
    eniwei, nice story. bagus mba. mengalir.
    tapi endingnya koq kurang ‘menggigit’ ya..?

    => Oh, gitu?!
    Endingnya kurang menggigit? Sayangnya ceritanya harus begitu.
    Karena setelah apapun yang terjadi, seorang manusia seekor ayam akan tetap meneruskan hidupnya ^_^

  3. waaah…
    pecinta ayam nih 😀

    “Yoroshiku ne…”
    ada ayam bisa bahasa jepun?? hihihihi..

    => Iya. Karena ayamlah “sahabat” pertamaku. Mwehehe…

    Kan ayamnya dah pernah ikut ekskul Bahasa Jepang waktu SMA dulu… kqkqkq :mrgreen:

  4. wahh..semoga ayam-ayam itu hidup bahagia..
    (eh, tapi udah pada mati yah?)

    btw, karakter pitik ceking kok gak nongol? hehe

    => Amin… mwehehehe

    Lho? Si Pitik Ceking itu kukasih nama Merah. Soale kalo ditulis lengkap kepanjangan… ^_^

  5. reff. : “ayam den lapeh oy…oy… ayam den lapeh”

    bagus2 Nur ceritanya, gaya bahasa dan narasinya juga kuat bisa membawa perasaan pembacanya

    => Iya, “ayamku hilang” (atau apa ya artinya itu? “lepas”?? pernah dijelasin ma orang padang tapi lupa) 🙂

    Makasih Kang… ^_^

  6. maaf buk, mo nanya. kalo ayam kampung biasa kawin ma ayam kate, namanya jadi apa y?
    kasian tuw ayam2 blasteranku gak punya nama…

    => Kalo ayamku dulu yang merupakan peranakan dari si Blorok ma ayam kate tetangga sebelah, diberi nama si Cebol (kasihan memang). Lucu lho, masak ayam punya cambang dan hobinya naek pohon?! 😆

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s