Second Chance

Suatu sore, aku, seorang teman perempuanku, dan seorang teman laki-lakiku sedang ngobrol ngalor-ngidul. Televisi di dekat kami kebetulan sedang menayangkan acara infotainment. Yang dibahas kalo ga salah tentang berita perceraian Pasha Ungu.

Tiba-tiba, ada satu pertanyaan aneh tercetus dariku: “Eh, misal, salah satu pasangan kalian -entah suami atau istri gitu- berselingkuh, terus tobat, minta maaf, dan pengin balikan sama kamu, apakah kalian akan menerimanya?”

Suasana hening. Aku memandang kedua temanku, lalu menyadari bahwa pertanyaanku salah alamat, karena diantara kami tidak/tidak akan pacaran serta sama-sama belum pernah menikah. Mwehehe…

“Yah, seandainya saja sih…” ulangku mencoba memancing.

“Nggak” kata si Pemuda tegas.

“Nggak akan maafin? Meskipun dia udah memohon-mohon? Dan berjanji ga akan mengulang?”

”Ya kenapa dia ga bilang-bilang?! Itu artinya ga jujur…”

”Ya kalo jujur mah namanya bukan selingkuh,” putusku. ”Kan bisa aja dia selingkuh karena ”kecelakaan”. Misal kalo cowok gitu pas digoda banget ma cewek, trus ga sengaja gitu…”

”Iya. Kan dalam pernikahan kadang bisa aja aku bosen ma kamu (maksudnya siy MISAL) trus juteeek banget dan pengin curhat ke orang lain…” imbuh si Gadis.

”Tetep nggak,” balas si Pemuda.

Aku memandang Pemuda yang bersikukuh dengan jawaban ”nggak”-nya itu. ”Emang semua cowok gitu ya? Susah maafin??” simpulku dengan prihatin.

”Rata-rata iya,” jawabnya.

Selama beberapa hari, jawaban itu terus terngiang-ngiang dalam telingaku. Waduh, kenapa ternyata laki-laki itu susah sekali memaafkan? Bisa kiamat donk, kalo terlanjur melakukan ”kesalahan fatal” dan suami nanti tidak memaafkan?!

Tak selang beberapa waktu, terjadilah kejadian yang bisa dianggap hampir serupa. Ada seorang laki-laki dan perempuan yang selama ini meskipun terlihat baik-baik saja di luar, tapi sebenarnya memendam dendam kesumat di hatinya (di hati si lelaki maksudnya). Aku pernah juga sih, berselisih paham dan saling ga enakan dengan si perempuan, bahkan hubungan buruk itu berlangsung selama beberapa bulan. Namun setelah permintaan maaf ba’da Idul Fitri lalu, hubungan kami terasa membaik. Dan sekarang malah ”mesra-mesranya”. Celakanya, hubunganku dengan si Lelaki malah jadi memburuk karena kedekatan itu. Ah, kenapa tak mencoba memaafkan? Kenapa tak mencoba memberi kesempatan kedua?

Memang sih, hanya Allah yang Maha Pemaaf, Maha Pengampun. Tapi kurasa, setiap orang juga punya hak untuk meminta kesempatan kedua. ^_^

Iklan

10 thoughts on “Second Chance

  1. Ga semua.. Sonoraa.. I know some guy who forgive sincerely.. Hehehe.

    => Iya ya Mbak?! Iya juga siy harusnya… Hm, itulah kenapa ga dibilang “semua” tapi “rata-rata” ^_^

  2. menurutQ g cuma cowo doank…memaafkan, selingkuh..g da hubungannya m gender

    kategori selingkuh pun macem2 kan nur tergantung pendapat masing2 pribadi.klo dalam hati suka ama orla, apa termasuk selingkuh? klo smsan mesra, apa termasuk selingkuh? ato klo baru yang lebih dari itu baru dikategorikan selingkuh…

    nah itulah perlunya dibicarakan dulu prinsip2 dan batas2nya ahahaha…
    dan aq, mgkn termasuk yg g ngasi kesempatan lagi klo udah masuk definisi selingkuh menurutQ 😛

    *loh koq panjang hehehe, maaf

  3. emmm… ga gitu ngerti masalah beginian, nur…

    tapi, ngomong-ngomong soal second change… emmm… masih ada “second change” kan nur? masih ada “second change” kan? “second change” yang itu lho…

  4. bukan second change, tapi second chance.
    astaghfirullah.
    kok bisa mpe salah tulis sih? bikin malu aja… itu nulisnya udah ngantuk tuh, diajakin nur ngobrolin second chance sih…
    reni, reni… eh, salah… fairuzdarin, fairuzdarin, ck ck ck ck…

    jadi, gimana dengan second chance? 😛

  5. (malunya ga bisa online sbg admin 😦 )

    @ Mbak Heni:
    Kalo kasus diatas tu selingkuh yang sampe ngelakuin tiiiit itu.
    Nah, jadi inget kasus lain deh Mbak. Dah dua kali kutemui, orang yang udah nikah lebih dari 25 tahun, tapi masih menyimpan selembar foto seseorang di masa lalu. Yang itu bagaimanakah?
    Kalo sms mesra bagi orang yang udah nikah, hmm… gimana ya?! binun juga.

    @Mbak Heni ma Feris:
    Iya, selingkuh dan soal maaf-memaafkan ni emang tidak tergantung gender. Mohon maaf kalo tulisan di atas kesannya gitu.

    @Feris:
    orang bs memaafkan unt suatu hal, tp tidak unt hal yg lain.
    Sedikit keras kepala juga ya… 😛

    @Fairuzdarin:
    Halah Ren… “second chance” yang itu dibawa-bawa pula?! Selama ini belum pernah ada yang minta first chance kok Ren… ya bagaimana aku mau ngasih second chance?! Mwehehehe…

  6. Hmm. Huehehehe. Second chance karena selingkuh? *aww. Kok rada menohok ya. Huehehe*
    tergantung nur. Tergantung si penerima,pantas atau gak..
    Yaa,diliat liat, seperti apa sikonnya..
    Btw susah bgt komen ke Heni.

    => yup, tergantung sikon emang…
    Iya, kalo ke blogspot, apalagi multiply, susah komen ya… (atau aku aja yang o’on?!)
    Lama ga blogwalking juga sih, gara2 jarang ngenet…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s