Senyum

Sering aku heran pada diriku. Karena untuk hal-hal sepele yang seharusnya secara otomatis bisa dilakukan oleh setiap manusia, aku malah harus mati-matian belajar untuk melakukannya.

Aku telah belajar mati-matian untuk menyapa orang, belajar mati-matian untuk bisa mendekati anak kecil, bahkan belajar mati-matian untuk tersenyum. Yang terakhir itu memang keterlaluan. Apa susahnya sih tersenyum?! Tinggal tarik beberapa otot di wajah ke atas, maka jadilah senyum. Tapi ternyata setelah melihat foto-fotoku jaman SD, TK, sampai SMP, tak ada satu foto pun yang menunjukkan diriku sedang tersenyum. Padahal aku ingat sekali, ketika kamera mengarah padaku, aku sudah menarik semua otot-otot yang bisa membentuk senyuman. Ternyata hasilnya sungguh berbeda. Foto yang sudah dicetak malah menunjukkan wajahku yang sedang cemberut atau marah-marah. Aku pun tak tahu kenapa bisa begitu.

Memang ada satu masa ketika hampir setahun aku tidak bisa tersenyum, tidak bisa tertawa. Okelah, bisa sih. Tapi tak ada senyum dan tawa tulus yang pernah kulakukan. Aku terlalu terkungkung oleh masalah-masalahku. Padahal masalah yang kuhadapi –dibanding dengan masalah-masalah orang lain- jauh… jauuuh lebih ringan.

Setelah mengamati cara-cara orang tersenyum, memperhatikan foto-foto orang tersenyum, akhirnya aku menyimpulkan bahwa untuk membuat sebuah senyuman, yang terpenting ternyata bukan bibir dan otot-otot di sekitar mulut. Lalu apa donk? Yeah, ternyata itu adalah mata! Matalah inti dari senyuman. Sebuah senyum lebar bila tidak diikuti “senyuman pada mata”, maka itu belum bisa disebut sebagai senyuman. (Semua orang juga sudah tahu Nur, kalo mata itu cerminan hati. Hehehe, tapi begitulah. Aku tidak bisa otomatis tahu hal-hal seperti ini. Musti belajar dulu. Payah deh!) Maka mulailah aku “mengikutkan” mata dalam senyumku.

Masalahnya sekarang, mataku pun termasuk jenis mata yang “sayu” (beberapa menyebutnya sendu, beberapa menyebutnya sipit –karena “menghilang” ketika aku tertawa-, meski sebenarnya mungkin lebih tepat disebut mata “ngantuk”) Oleh karena itu, bila sedang diambil foto, sekarang aku lebih suka membelalakkan mataku lebar-lebar. Hasil akhirnya ternyata juga bukan melotot (mungkin memang bukan bakatku untuk melotot, melainkan memberi “tatapan sinis”) dan aku sudah bisa memasukkan “sedikit” senyuman pada mataku (masih sering gagal juga sih)

Oia, selain itu, untuk bisa menghasilkan senyum yang baik, ternyata kita harus membersihkan hati. Yang paling utama adalah dari segala sakit hati seperti dendam dan iri dengki. Juga berusaha membuat hati selalu gembira. Karena dengan hati yang bersih dan bahagia, barulah senyuman tulus di mata itu akan tertampakkan nyata.

Ah, bersyukurlah kalian yang bisa dengan otomatis memberi senyuman. Sekalian mengingat-ingat bahwa senyuman adalah sedekah. Maka marilah tersenyum kawan… selagi kita masih bisa tersenyum.  🙂

Iklan

7 thoughts on “Senyum

  1. Jadi inget fifi.. Di hpku penuh dengan senyumnya.. Kayaknya dia kelebihan senyum deh, Nur. Hpku kadang jadi pelampiasan.. Tapi, gapapa, sih.. Senyum itu kan ibadah. 🙂

    => Iya ya Ren… eh, aku dah nampang di hp-mu ga? Mau fotoku ga? (ni penyakit narsis ketularan dari mana sih?) Oia Ren, masak aku ga punya fotomu… 😦

  2. seperti apa kata dewa:
    hadapi dengan senyuman..
    semua yang terjadi biar terjadi..
    hadapi dengan tenang jiwa..
    semua akan baik-baik saja..

    v(^_^)

    jah, mau mesem aja kok repot. waduhaduh…

    => Kadang ada saat dimana aku benar2 tidak bisa menarik garis itu. Biasanya sih, saat aku benar2 marah… atau benar2 kecewa.

  3. ketawa ajah mba…sambil nonton One Piece

    When life gives you thousand reasons to cry
    Show that you have million reasons to smile
    When world seems like hate you
    Show if you can laugh through the sadness that you had

    Keep on smile and show off your laugh
    No matter how hard it seems
    No matter how much tears that dripping out from your eyes
    No matter how hurt words that stabbed your heart

    Because you have Allah…

    ***

    [At a coast of Ohara Island, a few days before The Buster Call Incident]
    Jaguar D. Saul : When you’re happy, just laugh! Which also mean that if you laugh, you’ll become happy. Eventhough you’re so small, look like you’re suffering a lot. You just need to laugh! When you’re sad, just laugh!
    Nico Robin : If I laugh when I’m in pain, I’ll look like an idiot.
    J :That’s not true! Dereshishi! See? You can try it for yourself too!
    N : Mmm… Dereshi!
    J : Right! Right! That’s how you do it! Dereshishishishishishishi!
    N : Mmm… Dereshishishishishi!
    J : You’re good! You’re good! Dereshishishishishishi!
    N : Dereshishishishishi!
    dereshi…dereshishishishishi
    kyahahahahaha

    => kyaa….hahaha…yak, ketawa aja ya Gih?
    Makasih atas semua nasehatnya. Tapi aku ketawa kalo nonton Shin chan, bukan One Piece. Gapapa kan ya?! ^_^

  4. klo senyum sambil melotot…agak serem sih, hehehe..
    aku klo senyum mukaku jadi gendut..
    tp mba nur, kadang tak bisa tersenyum secara otomatis itu berguna loh, sangat berguna kalo dalam keadaan ketika para preman pinggiran sedang menggoda kita2 inii..

    => Kalo senyum muka jadi endut? Kayanya kita setipe. Mwehehe…
    Digoda preman? mending langsung kabur… ^_^

  5. sebuah senyuman kadang dapat mewakili segalanya
    dengannya, jendela keramahan dan gerbang jiwa keterbukaan seseorang dibentangkan…

    kata abang Raihan, senyumlah seperti Rasulullah senyumnya bersinar dengan cahaya, senyumlah kita hanya kerana Allah, itulah senyuman bersedekah…senyuuumlaaah…

    => Hem, iya Pan…
    Eh, itu adalah salah satu diantara sedikit nasyid yang kusuka. Senyuuumm 😆

  6. waduh…waduh…
    namaku kok disebut2 ya ma Reni???

    hehehe…

    iyo ya??emang nek inget aku pasti inget senyum yakz??
    😛

    aku sering liat kamu senyum kok Nur,,,klo pas kita ngobrol2,,,kamu senyum kok,,,senyuman tulus,,,beneran deh,,,knp kmu pikir kmu gak bisa senyum???

    PD Nur,,,jangan dipaksa kalo senyum,,,
    jangan ragu2,,,senyum ajah,,,kamu manis kok kalo senyum…

    (tau gak???dulu aku juga pernah merasa gitu loh Nur…aku bisa senyum gini tu belum lama…hehehe…)

    => Ya iyalah namamu disebut-sebut Fi… Kaya aku nyangkut2in nama Ncep. Mwehehe…

    Ya kadang, kalo lagi kambuh penyakit ga bisa senyum itu, kata orang, wajahku jadi sangat menakutkan. 😦

    Haduh, makasih pujiannya. AKu akan berusaha untuk tetap bahagia seperti ini. 🙂

    (mosok se Fi? aku pikir dari dulu kamu adalah gadis yang ceria seperti itu… :lol:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s