Yang Terhempas dan Yang Putus*

Sepanjang sekolah wajib, SD sampai SMA, 60% aku duduk di kelas unggulan.

Padahal aku bukan orang pintar. Dan seingatku, selama di kelas peranku cuma sebagai penggembira. Duduk di belakang, membuat onar bersama anggota “tim penggembira” yang sama-sama jarang bisa tampil di depan kalo diskusi dan jarang bisa menjawab pertanyaan guru. Namun aku senang-senang saja menjalaninya meski harus kuat mental melihat teman-teman yang kecerdasannya di atas rata-rata itu. Lagipula, aku merasa jadi terpacu untuk paling tidak menyamakan prestasi dengan yang lain-lain.

Namun tentu saja, sesuai judul, di sini aku tidak ingin membahas tentang kelas unggulan. Sebaliknya, aku ingin ngrasani kelas-kelas yang dicap “kelas buangan”; kelas yang berisi murid dengan nilai di bawah rata-rata, atau yang dianggap sebagai “biang kerok” di sekolah.

Aku rasa kamu sudah bisa membayangkan bagaimanakah kelas yang kumaksud (kalo susah ya bayangin aja kelasnya GTO :P). Namun pernahkah kamu membayangkan bagaimana perasaan seorang yang biasa-biasa saja, bukan “biang kerok” yang sebenarnya, namun karena garis nasib yang entah putus dimana, tiba-tiba terhempas ke kelas buangan?!

Pada dasarnya dia tidak ingin berada di sana. Memang, dia tidak punya cukup prestasi untuk masuk kelas unggulan. Namun sebenarnya ia cukup pintar untuk masuk kelas yang biasa. Entah kenapa, dewan guru menempatkannya di sana. Akibatnya dia merasa begitu tersiksa. Kalo teman-teman sekelas dihukum guru karena membuat kegaduhan selama pelajaran, maka dia pun merasakan hukuman itu, meskipun dia sendiri tidak ikutan membuat gaduh. Jika rata-rata kelas mendapat nilai yang buruk, dia pun dianggap sama bodohnya dengan yang lain, meskipun sebenarnya nilainya tidak buruk-buruk amat.

Satu-satunya cara untuk tampil, untuk mengada, adalah menjadi juara paralel di sekolah. Pokoknya membuat suatu gebrakan yang bisa membuat “wah” seluruh penghuni sekolah.

Tapi bagaimanakah mau jadi ranking paralel jika untuk konsentrasi mendengarkan pelajaran saja begitu susah mengingat kondisi belajar yang tidak kondusif akibat kekacauan yang ditimbulkan teman-teman yang lain?

Maka sudahlah. Dia jalani saja nasibnya.

Dan seperti biasa, Tuhan yang Maha Adil akan selalu menunjukkan kekuasaannya. Setelah setahun berlalu, tokoh kita ini akhirnya menyadari, ada satu hal yang berbeda di kelas itu daripada kelas yang lain.

Ialah persahabatan.

Di tengah kekacauan, ternyata teman-teman sekelas sangat setia kawan, saling memperhatikan satu sama lain. Maklumlah, mereka tidak ambisius mengejar ranking.

Maka dia pun menjalin persahabatan dan menikmati persahabatan itu.

Dengan caranya sendiri, tokoh kita ini akhirnya bahagia. Karena kebahagiaan ada di hati, timbul dari penerimaan dan keikhlasan.

Hanya saja, dia masih berharap, orang-orang tidak lagi memandang rendah dia dan teman-teman sekelasnya.

* Judul di atas kalo ga salah adalah judul salah satu sajak Chairil Anwar yang aku sendiri sudah lupa bagaimana bunyinya -dan kapan kubaca- :lol:)

Iklan

3 thoughts on “Yang Terhempas dan Yang Putus*

  1. Nur kan pinter.. Wah, Nur terlalu merendah, ni.
    Aku dulu juga pernah di kelas unggulan, pas kelas satu SMA. Tapi, pas naik kelas dua, aku diusir dari kelas itu, hehe.. Emang aku bukan anak pinter, sih. Nilai2ku minta ampun, deh. Tapi, aku seneng-seneng aja di kelas biasa. Pas naik kelas tiga, aku pengen masuk IPA tapi disuruh ke kelas IPS, hehe. Ga boleh masuk IPA. Tapi, dimanapun itu, aku ngerasa seneng, karena ada kebaikan yang aku peroleh di setiap tempat. 🙂

    => Iya Ren… pada dasarnya ternyata selalu ada kebaikan di setiap tempat. ^_^ Mulai sekarang, aku akan lebih bersyukur 🙂

  2. terhempas…
    masih bisa kembaLi…
    putus…
    masih bisa disambung kembaLi…
    entah kapan waktunya…
    yang jeLas begitu….

    ya enggak mbak.. 😕

    => Bangkit itu perlu banyak energi. Dan jika terjangan angin selalu menerpa di saat kamu mencoba berdiri, akan lebih susah lagi. Tapi tentu saja, hidup tanpa perjuangan akan terasa hampa bukan?! ^_^

  3. bisa aja nur nih…masak penggembira?

    peringkat 1 masak penggembira?

    => Heh, apanya yang peringkat satu? Ini masa lalu Yo…. masa lalu…
    Yang meski aku ga dapat ranking pun, aku sangat menikmati masa-masa itu ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s