Baju

Pagi ini, di angkot, ada seorang siswi SMA duduk di depanku. Pemandangan yang biasa tentunya di setiap pagi. Tapi kali ini, selain karena belum pernah melihat dia sebelumnya, apa yang dipakai anak ini menarik perhatianku benar.

Aku sering berbarengan dengan siswi SMA/SMEA yang bajunya… astaghfirullah, pendeknya… Namun bukan masalah panjang pendek dan ketat longgarnya baju yang membuatku tertarik padanya. Dia tidak berjilbab, memakai rok panjang warna abu-abu, bajunya longgar, dan rambutnya hanya diikat ekor kuda di belakang. Secara keseluruhan penampilannya wajar. Namun yang membuatku miris adalah bajunya. Baju putih itu, bertambal pada bagian dimana seharusnya badge sekolah berada. Di bagian bahu belakang juga dijahit seadanya untuk menutupi sobekan. Warna bajunya sudah tidak bisa dibilang putih lagi. Mbulak bahasa Jawanya, dan menerawang saking tipisnya.

Aku langsung teringat satu-satunya baju putihku yang ada di kosan. Ingin rasanya aku menawarkan padanya. Tapi aku lalu ingat, ada renda di sepanjang tepi kancingnya. Tentu tidak bisa dipakai untuk seragam. Dan semua itu membuatku sedih.

Aku ingat masa SMA dulu. Keadaanku hampir mirip, meski tak sama benar. Baju putihku merupakan lungsuran dari mbak sepupu. Warna putihnya juga mulai mbulak, dan kainnya menipis oleh proses pencucian dan detergen selama bertahun-tahun. Waktu tingkat tiga, sebenarnya keadaannya sudah sangat mengkhawatirkan. Aku sering membayangkan bila bajuku ditarik sedikit keras dari belakang, dia akan robek. Tapi untuk meminta baju baru, aku enggan karena selain yang penting adalah kita bisa belajar dan menyerap pelajaran dengan baik, juga:

1. Nanggung banget udah kelas 3 ini;

2. Ga enak hati karena aku sudah minta banyak duit untuk sekolah, membayar les tambahan, buku-buku, uang jajan, transport (jarak rumah ke sekolah sekitar 25km), dll.

Peristiwa yang paling ”menghinakan”ku adalah waktu kelas tiga. Suatu hari, dilakukan sidak ke kelas-kelas. Aku tenang-tenang saja. Bajuku ga ketat, aku pakai ikat pinggang, sepatuku hitam, dan kaos kakiku panjang. Satu per satu guru memeriksa siswa-siswi yang ada. Hingga tibalah giliranku. Tiba-tiba sang Guru bertanya, ”absen berapa?”

Aku kaget. Semua teman yang ada di dekatku juga melongo. Peraturan macam apa yang kulanggar?

”Maaf Bu,” aku mulai emosi “salah saya apa ya?”

“Itu badge kamu sudah putih gitu. Malu-maluin saja! Besok harus ganti!” ujar sang Guru ketus. Untuk sekedar diketahui, warna badge sekolahku memang kuning. Badge yang kupakai karena dari awal masuk, warnanya memang sudah menjurus putih.

”Tapi Bu… ini kan…”

”Udah,” seru beliau memutus omonganku ”nomor absen!”

Itulah masa-masa dimana setiap kali mau pergi aku bingung mau pake baju apa, bukan karena saking banyaknya pilihan, tapi karena aku tak punya pilihan. Celana jeans saja baru kupunya setelah kelas 2 SMA. Padahal untuk anak perempuan, ”nyandang” (aku tidak menemukan kata yang tepat selain istilah Jawa itu) merupakan hal yang sangat penting.

Waktu hendak memutuskan untuk memakai jilbab pun, aku bingung karena tetek bengek macam:

1. Aku ga punya banyak persedian baju panjang. Yang pendek aja sedikit, apalagi yang panjang;

2. Baju panjang selalu lebih mahal daripada baju pendek. Dengan uang Rp 10.000 orang bisa membeli kaos pendek yang ketat-ketat itu. Sementara untuk kaos panjang, minimal harus keluar uang Rp 25.000;

3. Berjilbab berarti harus punya: a. Jilbab, b. Peniti, bros, dsb, c. Kaos kaki.

Tapi alhamdulillah, masa-masa itu sudah berlalu.

Saat ini, tiap kali sebal melihat cucian yang menggunung hingga harus kubagi menjadi tiga kloter dalam seminggu, aku selalu mengingat masa lalu. Mengingat itu semua, aku justru berbalik bersyukur, karena sekarang: aku punya banyak baju.

Iklan

5 thoughts on “Baju

  1. jah, baju putih cuman punya satu? jadi pas prajab ntu bajunya ga ganti2??

    anak perempuan emg paling repot soal sandang. jd ga bs ngebayangin gmn istriku nanti.

    v(^_^)

    => yang lain dah diboyong ke rumah. Ada yang kekecilan, terlalu nrawang, dsb. Jadi males make kan?!

    Iya, emang, siap2 aja kalo dah punya istri. Kqkqkq 😛

  2. Judul postingan ini sama dengan salah satu judul postinganku, Nur. 😛
    Kayaknya kita emang punya selera yang sama dalam memilih judul postingan. Hehe.. Dulu juga pernah sama kan? 😀
    (komen ga penting)

    Banyak hal yang dulu kita inginkan, sekarang sudah terwujud. Tapi, kita sering lupa bersyukur. Terima kasih sudah mengingatkan. Mari saling mengingatkan..
    (komen yang ini dah rada penting, kan? 😛 )

    => Hem, iya ya Ren… tau deh! makanya berasa gimanaaa gitu pas nulis judulnya. Ternyata lagi2 sama. 😛

    Iya. Ga cuma masalah baju, tapi ada banyak sekali hal dulunya cuma impian yang tertulis di diary, ternyata sekarang terwujud juga. Alhamdulillah. ^_^

  3. aku juga harus banyak bersyukur ternyata, karena sesuatu yang aku bayangkan dulu, dan tidak sempat aku catat, dapat aku miliki.
    alhamdulillah.

    => Makin banyak kita bersyukur, insyaallah makin ditambah rezeki kita. Gitu ya katanya?!

  4. waaw..alhamdulillah ya mba udah berlalu masa2 itu, hehe :mrgreen:

    aku malah lagi bingung..(bukan karena si baju putih menerawang itu..) huhehehe

    => Iya Mari… (bingung aku manggilmu, tar Na kaya manggil Ina)
    Aku sangat bersyukur dengan segala yang sudah kuraih sekarang. ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s