Cileungsi e Ikimashita

Rabu malam, aku mendapat sms dari ibu: Diah, jare paklik lara. Tilpunen. Ndek kene gak iso ngubungi. (kira-kira bunyinya begitu) Waktu itu aku masih di kantor, lembur. Kucoba menghubungi nomor paklik, tak tersambungkan. Ya sudah. Kupikir paling sakit biasa saja.

Sepanjang sisa minggu, pulsaku mepet di bawah sepuluh ribu. Aku masih ingat harus nelpon paklik. Tapi karena beda operator, aku takut pulsaku ga cukup. Sabtu sore, baru pulsa kuisi lagi. Minggu pagi, aku masih nyuci ketika Aceng tiba-tiba naek ke atas. Aku lari sembunyi ke kamar, menunggu sampai dia selesai dengan urusannya. Sambil nunggu, aku ingat janjiku menelepon paklik.

”Diah, paklik saiki ning rumah sakit diah…” ujarnya lemah.

Aku kaget. Heh, separah itu? Dengan panik aku menanyakan alamat rumah sakitnya, berjanji akan datang hari ini juga. Aku hubungi ibu, minta ijin mau kesana.

”Karo sopo?” tanya ibu. Aku ketawa kecut, ”Kethoke dhewekan…”

Aku belum pernah ke Cileungsi. Mendengar namanya saja, sudah terasa sangat jauh. Tapi dengan nada sok yakin, aku bilang kalo aku berani ke sana. Aku memang pernah melihat bus jurusan Senen-Cileungsi lewat depan gang kosan. Kupikir naik itu aja pasti nyampe. Lagian kata paklik tadi, setelah turun di perempatan Cileungsi, tinggal naik jurusan Bantargebang. (Haduh… Bantargebang? Dimana itu? Yang kutahu tentangnya cuma sampah dan lagunya Slank. Mwehehe)

Sudah itu, aku menelpon Septi, membatalkan janji mau ke kosannya nerusin kerjaan. Sebenarnya ada perasaan ingin minta tolong ditemenin, tapi aku tahu dia ada rencana hari ini. Jadi aku urung dan cuma bilang kalo paklikku masuk rumah sakit. Setelah telpon ditutup, aku merasa frustasi. Aku belum pernah ke Cileungsi. Kenapa aku sok berani begini?! Aku takut! Aku capek selalu bilang aku berani, aku bisa. Padahal aku pengin ditemani! Tapi siapa yang bisa menemaniku? Aku ingat Reni. Tapi aku ga tega menyeretnya nemenin ke tempat sejauh itu. Aku ingat salah satu teman laki-lakiku. Tapi aku tau dia tidak akan mau (dan memang tidak pantas jalan berdua saja). Aku ingat teman laki-lakiku yang lain. Andai dia ada, sepertinya dia akan mau menolongku. Tapi dia berada jauh sekali dari sini. Ya sudah. Kepada keduanya, aku cuma memiskol. Laki-laki pertama ternyata balik menelpon. Kukatakan, aku sudah tahu jawaban dia. Dia sempat memprotesku walau pada akhirnya memang dia menjawab seperti itu. Aku ketawa dan bilang: tenang saja, seperti biasa… Nur ga akan kenapa-napa!

Setelah berkata semunafik itu, entah kenapa tiba-tiba muncul keberanian. Ah, Nur, masalah sepele gini aja mau minta tolong orang lain?! Kenapa sih, ga bisa dewasa sedikit. Cileungsi deket ini!

Ketawa miris, aku kembali meneruskan mencuci. Pukul 07.00, aku membereskan dan mengepel lantai kamar. Pukul 07.30 aku pergi ke pasar, membeli sarapan, kue buat perjalanan di bus, dan 1,5 kg apel. Sarapan (makanku sekarang lama) sampai pukul 08.30, dah mau mandi ternyata kamar mandinya penuh. Sambil menunggu, aku setrika baju.

Entah apa yang kulakukan, akhirnya aku baru bisa keluar kosan jam 10.00. Ternyata bus jurusan Cileungsi jumlahnya terbatas, sehingga baru ada setiap setengah jam. Karena terlewat bus terakhir, aku baru mendapat bus berikutnya pukul 10.30 lebih. Tapi busnya enak dan bersih. Kondisinya bagus, AC-nya dingin, dan mesinnya halus. Bismillah, aku mencoba menikmati perjalananku.

Aku duduk di bangku dua-dua. Sebelahku kosong. Di depan ITC Cempaka Mas, ada seorang mas-mas naik. Awalnya kupikir dia ****** karena jenggotnya. Tapi dugaanku agaknya salah karena ternyata dia justru memilih duduk di sebelahku, padahal masih banyak bangku lain yang kosong.

Bus melaju lancar masuk tol. Sebenarnya cuaca sedang enak. Matahari tak terlalu terik. Tapi berhubung setengah hatiku masih dikuasai ketakutan akan perjalanan ini, aku jadi tidak bisa menikmati. Si mas di sebelahku bertampang cuek, sibuk dengan hapenya. Terpojok ke body bus, aku semakin merasa kesepian saja. Ketika IBU kondektur meminta uang karcis, aku minta tolong untuk diingetin kalau sudah nyampai perempatan Cileungsi. Ternyata ongkosnya hanya Rp 9.000,-

Entah sejak kapan, tiba-tiba sudah ada seorang pengamen di dalam bus. Suaranya enak, menyanyikan lagu-lagu jadul seperti Gereja Tua dan 2 lagu jadul yang tidak kutahu namanya.. Mungkin tersihir oleh suara merdu bapak pengamen, banyak orang mulai terkantuk-kantuk. Mas di sebelahku matanya bahkan sudah terpejam. Karena hilang kontrol, pundaknya menekan pundakku. Aku diam-diam berdoa semoga kepalanya tidak ”jatuh” ke pundakku. Bisa repot ntar.

Masih dalam posisi tidak nyaman itu, tiba-tiba bapak pengamen beralih menyanyikan 3 lagu berirama country (jangan tanya apa judulnya karena perbendaharaan lagu bahasa Inggrisku mendekati nol). Nadanya sangat riang. Kusandarkan tubuhku ke kursi. Hm, sebenarnya perjalanan ini tak terlalu buruk juga. Mau ga mau pikiranku membayangkan adegan-adegan film Hollywood dimana sang pemeran utama berkendara sendiri melaju di jalanan lengang di daerah gurun dan stepa-stepa di Amerika. Oprah seingatku juga pernah melakukan perjalan semacam itu (tapi bersama sahabatnya). Kalo mereka bisa sendirian, kenapa aku yang masih berombongan dalam bus macam ini mesti ketakutan?! Oh, thank to bapak pengamen!

Perjalanan sempat macet di daerah Cibubur gara-gara perbaikan jalan. Mas di sebelahku akhirnya pindah ke bangku tiga-tiga yang kosong. Kesempatan ini kugunakan untuk tidur. Sementara itu, bulik udah berkali-kali mengirim sms, menanyakan keberadaanku.

Setelah perjalanan selama 1 jam lebih, tiba juga aku di perempatan Cileungsi. Kupikir perempatan Cileungsi itu berada di pinggir desa atau apa. Ternyata itu adalah perempatan di bawah jembatan layang, dimana banyak sekali bus dan angkot mangkal.

image125

Ruwetnya perempatan Cileungsi.

Sesuai petunjuk, aku mencari angkot jurusan Bantargebang. Tak lupa minta tolong kepada bapak sopir agar aku diturunkan di rumah sakit MH Tamrin. Adzan dhuhur berkumandang ketika aku menjejakkan kakiku di sana. Wah, ternyata rumah sakitnya masih terlihat baru. Ah, sayang aku lupa memotret tampak depannya.

Karena aku tahu sifat dasarku yang panikan, kuputuskan untuk langsung sholat dulu agar diriku tenang. Hasil bertanya ke satpam, ternyata mushola terletak di ”dangau”. Wah, unik juga sholat di luar.

image123

Disini resikonya bukan kehilangan sendal, tapi resiko sendal jatuh ke kolam ikan. Kqkqkq…

Setelah lumayan menguasai keadaan (diri), aku mencari ruangan tempat paklikku di rawat. Sejujurnya, sudah sekitar 2-3 tahun ini aku tidak pernah bertemu dengan paklikku.

”Kene lho Yah…” seru bulik begitu melihatku. ”Ki lho mas, ponakane wes teko…”. Sepertinya kedatanganku sudah begitu dinantikan.

Di atas ranjang, paklikku tergolek. Rasanya pengin nangis melihat keadaannya. Sebuah selang terhubung dengan hidung, yang ternyata selang itu berlanjut hingga lambung. Cairan berwarna hijau kehitaman mengalir di sepanjang selang. Sementara cairan infus dan obat tergantung bermuara di lengannya.

Susp. Ileus, itulah nama penyakit yang kubaca di catatan dokter. Secara sederhana disebut ”masuk angin menahun”. Karena pekerjaan paklikku adalah seorang sopir angkot, awalnya kukira penyakit ini disebabkan karena selama ini beliau sudah sering terkena masuk angin namun tidak dianggap serius. Kata bulik waktu dirontgen kemaren lambungnya hampir tak nampak, tertutup oleh cairan. Ketika cairan itu dikeluarkan, mula-mula berwarna bening, kemudian berwarna kuning. Jika waktu aku datang cairannya berwarna hijau, kemungkinan itu disebabkan oleh infeksi pada empedu dan pankreas. Sebuah penyakit yang menakutkan. Dan baru hari ini tadi, ibu menjelaskan padaku bahwa penyakit itu kemungkinan besar disebabkan karena kebiasaan paklikku mengkonsumsi minuman suplemen dalam jumlah yang berlebihan, dan memforsir tenaganya ketika bekerja.

Aku berada di sana sekitar 3,5 jam. Begitu adzan asar berkumandang, aku segera sholat. Selesai sholat aku langsung pamit pulang karena harus mengejar bus terakhir (takut ga ada bus lagi). Untunglah, masih ada bus yang ngetem. Mungkin sebenarnya bus terakhir itu jam 5, tapi aku ga mau ambil resiko. Perjalanan pulang berjalan lancar. Namun karena aku begitu lelah, yang kulakukan hanya tidur sepanjang jalan. Bangun-bangun sudah di daerah rawamangun. Kulihat atap-atap rumah pada basah. Wah, alamat cucian ga kering nih, pikirku. Samar kuingat bapak pengamen yang kutemui waktu berangkat tadi juga naik lagi waktu perjalanan pulang ini. Ah, sepertinya tidurku benar-benar pulas. Pukul 17.30, aku sampai di kosan. Badan pegal semua, tapi tentu semua itu tak sebanding dengan penderitaan paklikku nun jauh di sana.

Pesan moral hari ini: jagalah selalu kesehatan!

NB: Salut untuk para komuter yang bisa menempuh perjalanan pulang pergi tiap hari sejauh itu.

NB lagi: untuk bapak pengamen di jurusan Cileungsi yang pada hari minggu kemarin memakai kaos bertuliskan ”England”, diam-diam saya pengagum bapak lho! Makasih banyak atas lagunya… itu sangat menolong saya! ^_^

Iklan

4 thoughts on “Cileungsi e Ikimashita

  1. Wah, perjalananmu seru Nur.
    Nur ga minta ditemenin aku, to? Insya Allah aku siap menemani kalo Nur butuh teman bepergian…

    Eh, kemarin kayaknya kita baru mbahas apa-apa ga enaknya punya pekerjaan jadi sopir… Sekarang malah Paklikmu sakit, Nur… Semoga segera sembuh…

    => Hehehe, aku kan tau “keadaanmu” ren, jadi aku bener2 ga pengin ngganggu.

    Iya, inilah salah satu contoh “penyakit sopir” yang ga sengaja kita bahas kemaren. 😦

  2. g nanyain aq nur…
    siapa tw aq bisa nemenin ^_^

    => Nggak lah mbak. Mau ke kosku aja mbak mesti muter jauh. Kalo mau ngrepotin kan ngrepotin tetangga dulu, baru saudara jauh. Mwehehehe 😀 (prinsip yang aneh)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s