1:10 atau Rizqi yang Barokah?

Waktu kecil, aku suka baca Dhuratun Nasihin. Tapi alih-alih belajar agama, aku lebih suka membaca cerita-cerita di dalamnya 😛 Ada satu cerita dimana dikisahkan bahwa Allah akan membalas sedekah yang kita keluarkan, sebanyak 10 kali lipat. Jadi 1:10. Meskipun di hadist ada pula tersebut bahwa “perumpamaan sedekah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji”, jadi perhitungannya 1:700, aku masih percaya dengan hitungan yang 1:10. Ah, entahlah, masalah pahala kan di tangan Allah?!


Sewaktu masih di STAN, dengan beraninya aku mencoba membuktikan perhitungan 1:10 itu. Suatu hari, ketika berangkat ke Paperbook (persewaan komik tempatku bekerja) aku “iseng” menyedekahkan uang Rp500,- yang kubawa. Mungkin kau menganggapnya: sedikit amat! Tapi waktu itu memang jaman lagi susah, Bung!(untukku, plus latar belakangku yang agak-agak pelit). Sambil memberikannya, aku berpikir, mungkin ga hari ini aku dapat Rp5000,- sesuai dengan perhitungan itu? Benar-benar pikiran yang kurang ajar! Tapi, aku terlanjur memikirkannya 😦 Sepanjang sore itu aku menunggu dengan sabar. Orang yang datang, ternyata lumayan ramai (biasanya Paper agak sepi di siang dan sore hari, ramenya baru kalo malam). Uang sewa yang kudapat hari itu: Rp20.000,-. Komisi untukku= 25%xRp20.000= Rp5.000,-. Aku termangu. Subhanallah.

Tapi aku jadi takut. Ga lagi-lagi deh nyoba-nyoba. Sudahlah, kalo mau sedekah ya sedekah aja. Pasti akan ada perhitungannya sendiri. Karena Dia Maha Tahu.

*^_^*

Semalam, sepulang dari kerja, aku dan Ncep ngelayap ke Atrium Plasa. Tujuan utama: mencari kado untuk seseorang. Setelah berputar-putar dan ngubek-ngubek DiscTara tapi ga nemu juga barang yang layak untuk diberikan, aku memutuskan mengambil jalan singkat: beliin buku aja. Maka sesudah sholat magrib, kami masuk ke toko buku Gunung Agung.

Butuh waktu sekitar setengah jam lebih untuk mencari buku yang kumaksud, sebuah buku yang bercirikan aku dan dan orang yang akan kuberi. Hasil dari jongkok-jongkok di bagian bahasa, kamus, dan sastra, aku cuma menemukan 1 buah buku tersebut dalam keadaan tidak tersampul dan sedikit kotor. Setelah bertanya ke petugas, kata mereka stok buku tersebut memang tinggal itu aja. Dengan muka memelas, aku menyayangkan. “Padahal buat kado,” kataku. Mendengar keluhku, sang petugas pun menawarkan untuk membersihkan buku tersebut “Tapi agak lama, Mbak,” ujarnya memberi tahu. Daripada pusing karena kado itu harus kuberikan hari ini, aku menjawab dengan manis, “Gak pa-pa Mas. Saya tunggu, kok.”

Sambil menunggu, aku mencari Ncep yang masih berkutat di bagian stationery karena menemukan buku tulis lucu seharga Rp27.000,-! (selucu-lucunya kalo semahal itu ga akan kubeli). Karena tidak terlalu tertarik, aku meninggalkannya dan kembali ke bagian buku-buku, menjelajahi setiap sudut, hingga sampailah aku ke bagian Al Quran.

Beberapa minggu ini, aku memang menggebu-gebu sekali untuk ikutan tahsin. Setelah gagal masuk ke satu tempat pendidikan Quran yang ternyata “high level”, aku berencana masuk ke satu lembaga tahfiz Quran di daerah Johar Baru. Namun untuk masuk ke sana, kami (aku dan Ncep) harus menunggu hingga semester baru dibuka. Nah, mengingat semangatku sedang tinggi-tingginya, aku jadi mupeng tiap kali ngeliat Quran tajwid milik seorang bapak di ruangan. Kayanya enak gitu. Karena setiap hukum bacaan ditandai dengan warna, sangat menolong untuk aku yang tajwidnya masih amburadul. Waktu kutanya berapa harga Quran seperti itu, sang bapak menjawab, “Dulu sekitar 50 ribu”. Wah, mahal nian…

Kembali ke toko buku. Di pojokan dekat kaca depan ada dua tumpukan besar Al Quran. Tumpukan yang kiri berisi Quran biasa dan Quran terjemahan, sementara tumpukan di bagian kanan berisi Quran dengan tajwid. Ada satu yang simpel dan ukurannya standar seperti milik bapak seruangan, kubaca label harganya: Rp74.000,-! Aku nyengir sendiri.

Sedang termangu-mangu seperti itu (ambil, balikin lagi, ambil lagi, balikin lagi) tiba-tiba kudengar suara seorang bapak-bapak di sebelahku. “Nyari apa Dik?”

Aku kaget. Aku menoleh, dan kulihat seorang bapak-bapak berusia sekitar 45 tahun, dengan tampang “biasa aja” (yah, tahulah bapak-bapak kaya apa; maksudku bukan tampang mesum, tapi juga bukan tampang orang yang baik banget)

“Eh, nggak Pak, cuma liat-liat…”

“Mau beli itu?,” katanya sambil menunjuk tumpukan Quran di depanku.

“Ngg… nggak juga sih, Pak. Mahal!” kataku sambil becanda.

“Mau kubeliin?”

Aku melongo. “Eh, hehehehe… nggaklah Pak. Makasih”

“Udah ambil aja.” Aku tambah bingung. Lah, bapak iki karepe opo?

“Mau yang ini?!” katanya sambil melangkah ke tempatku, lalu mengambil Quran yang tadi kupegang. Aku masih melongo. Ncep datang. “Kenapa?” tanyanya, dan aku masih dalam keadaan setengah nyengir dan setengah melongo.

“Oh, dua ya, sama adik yang ini…”

“Nggak Pak, nggak usah…” kataku mulai ketakutan.

“Aku ga ikut-ikut…” bisik Ncep sambil ngeloyor. Lah! Aku mengekor Ncep menjauh dari bapak itu. Kami malah “sembunyi” kaya ayam dikejar kucing (nggak ding, ayam-ayamku dulu pemberani tuh) di balik rak-rak di pojokan. Sambil berdebat tentang apa yang terjadi, kulihat bapak itu mengambil Quran bersampul biru donker yang tadi kuinginkan, lalu berjalan ke arah kasir. Waduh! Setelah membayar sejumlah uang, Bapak itu menghampiriku dan menyodorkan Al Quran yang masih terbungkus kantong plastik padaku. Mau ga mau aku menerimanya.

“Makasih Pak.”

“Iya.”

Dan bapaknya berlalu pergi.

Meninggalkan Quran yang kini sudah menjadi milikku.

Lho?! Bentar… barusan itu apa? Aku dibeliin Quran oleh orang yang tak kukenal???

Aku memandang Ncep. Memandanq lagi ke struk yang menempel di kantong plastik. “74 ribu Sep!” ujarku tercekat. Lalu kami dengan o’onnya menghampiri tumpukan Quran yang tadi. “Bener Sep, ini yang pake tajwid!”

Masih melanjutkan perdebatan akan “keajaiban” tersebut, tiba-tiba Bapak yang tadi sudah berada di belakang kami. “Adik ini mau juga?” tanyanya “Sekalian aja ya…” katanya dan tanpa menunggu jawaban langsung menyambar Quran bersampul putih yang berada di tumpukan teratas. Aku ingat, aku dan Ncep masih sempat mengatakan beberapa kali kata nggak-usah sampai seorang bapak lainnya, yang kami rasa merupakan teman bapak yang tadi, memberi isyarat “udah, ga papa”. Kami pun terdiam.

Kejadian 2 menit lalu kembali berulang. Sang Bapak ke meja kasir, mengeluarkan uang seratus ribu, menerima barangnya dalam keadaan terbungkus plastik, melangkah ke arah kami, dan menyerahkan Al Quran, kali ini kepada Ncep.

Dan Ncep melongo sempurna.

Entah berapa kali kami mengucapkan terima kasih malam itu. Masih antara ga enak dan takut, aku segera mencari mas-mas yang tadi berjanji mau mbersihin bukuku. Sudah dibersihin (entah dengan apa, mungkin alcohol karena baunya menyengat) namun tidak sempurna. Sudahlah, aku ingin segera kabur dari tempat itu. Aku pergi ke kasir, menyelesaikan transaksi. Sekilas kulihat bapak tadi bersama temannya masih asyik berada diantara buku-buku.

“Mbak, kira-kira ini bakal ada apa ya?”

“Semoga ga ada mudharat yang mengikuti…”

“Jangan-jangan laporan kita besok revisi besar-besaran…”

“Atau laporan setebal satu rim itu ditolak?” aku ngakak.

Hm…hening.

“Atau…” lanjut Ncep “jangan-jangan karena kita tadi menyedekahkan uang kita?” (sebelum ke Atrium kami memang sempat melakukan “sesuatu hal”)

“Hehe, semoga karena itu”

“Iya, semoga karena itu”

“Aku merasa daripada uang tadi, Quran ini jauh lebih bermanfaat buatku,” imbuhnya.

Hening lagi.

“Sep, ini kaya kita udah beneran disuruh ya… Mau ikutan tahsin, ditunjukin tempatnya. Ga punya Qurannya, ini dibeliin. Kayanya kalau ga masuk kebangetan banget deh.”

“Iya…”

“Ayo semangat!!”

Kami pun ngakak dengan anehnya. Dua gadis tertawa di kegelapan jalan, merasa amat heran akan semua keajaiban yang baru saja menimpa.

Subhanallah. Walhamdulillah.

Iklan

9 thoughts on “1:10 atau Rizqi yang Barokah?

  1. Hm, tambahan:

    Aku ingin meluruskan sedikit masalah. Karena setelah dilihat-lihat, kok kaya’nya aku keterlaluan pelitnya sampe ga mau beli Quran seharga 74ribu itu.

    Alasan pertama: malam itu tujuan utamaku cuma nyari kado, dan aku memang ga nyiapin budget buat Quran.

    Alasan kedua: Cuma merasa ga biasa aja. Bukuku paling mahal cuma 40ribu. Quran terakhirku yang terjemahan juga cuma 23 ribu. Ini hanya masalah kebiasaan, semisal seperti kamu biasa beli kerupuk 1000/buah, trus tiba-tiba ada krupuk seharga 5000/buah, kamu pasti juga bakalan bilang “Kok mahal se?!”, dan perlu berpikir ulang untuk membelinya.

    Yah, semoga ini cukup bisa meluruskan masalah. Tapi yang jelas, aku tak mengelak kalo dituduh pelit. :p

  2. mba Nuur~mba Nuur.. buku 30rb aja udah kubilang mahal, jadi aku mungkin akan bertindak hal yang sama kayak mba Nur..huehhee

    btw subhanallah banget mba Nuur, mungkin ini kali ya yang disebut pertolongan Allah jika ada niat yang baik..

    jadi..si bapak itu pun sepertinya sedang menafkahkan harta-nya di jalan Allah? huhuhu.. rantai yang indah terbayangnya >u<

    => Hehehe, kayanya sebenarnya kita punya banyak kesamaan Mari…

    Iya, sepertinya seperti itu. Aku punya beberapa dugaan kenapa sang bapak “iseng” begitu. Tapi, apapun alasannya, aku sangat berterimakasih… ^_^

  3. mba Nuurr!! maaf tadi itu aku yang komen, lupa ganti pake ID orang lain~, uhuhu.. beribu-ribu ma’aaf ~~ m(_ _;;)m

    => Hehehe, ii yo! Daijobu…

    Btw, itu punya abangmu ya? (sotoy mode:on) 😀

  4. Subhanallah.. Smga menjadi barokah ya, Nur.. 🙂
    Kapan-kapan pengen ketemu bapak itu. Hehehe.. Eh, bukan, ding. Kapan-kapan kepengen jadi kayak bapak itu. Tapi kapan ya..? 😛

    => Iya, ya, kapan2 jadi pengin kaya bapak itu. Ayuk Ren, kapan?! 😉

  5. ga juga, sih. kan kalo aku ga tergantung kebiasaan, tapi objektif. tergantung barang itu sesuai dengan harganya ato ga. lebih hargai, dong, wujud suatu barang, mbak. hargai pembuatnya. hargai fisiknya. hargailah keindahan. hargailah desain dan seninya. hwehe…

    v(^_^)

    => Nggih Pak… ngertos Pak…
    Jadi inget salah satu butir P4: “Menghargai hasil karya orang lain“?! ^_^

  6. subhanalloh,.tertegunlah aq membaca kejadian ini,..the story is affecting me,… “the real story about women hope God can help her anywhere her are,..” ameeennnn,..bener2 dech mbak,..pertolongan alloh memang nyata,..dan matematika nya alloh memang terbukti dan ia memakai logika terbalik contoh “logikanya,..jika org mengeluarkan hartanya maka akan berkurang,..” (itu logika pasti) namun di hadapan alloh akan menjadi lain ceritanya,..bahkan akan terus “bertambah dan tidak akan pernah berkurang”,..yaqinlah kuasa alloh di manapun anda berpijak,..salam kenal ^_^

    => Setuju sekali. Semakin banyak kita bersedekah, entah kenapa, rejeki semakin lancar. Karena Allah telah mengatur itu semua. Salam kenal juga…^-^v

  7. Ping-balik: Black Period: Antara Pelit dan Belajar Sabar | Hujan Cahaya Bulan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s