Koper

Saat mau pergi begini, aku jadi bingung: bajuku mau kubawa pake apa ya?

Bukan apa-apa. Tapi karena perginya bukan dalam rangka pulang kampung, dan di tempat yang kutuju tidak ada setrika, sementara aku harus tetap tampil rapi dengan baju dan jilbab licin, kalau bajuku kubawa dengan back pack, hal itu memang agak mustahil. Mengingat struktur backpack yang berdiri selalu memungkinkan baju-baju itu akan terlipat atau mudah kusut.

Sampai sekarang aku belum pernah punya koper. Awalnya kupikir, buat apa sih? Kan udah ada tas besar yang dibeliin ibu pas tingkat 1 dulu?! Tokh dengan tas itu, dulu aku bisa membawa semua barang-barang keperluan prajab. Yah, meskipun harus menenteng-nenteng tas berat tersebut…(kalau koper kan tinggal diseret saja)

Beberapa hari lalu, ada pembicaraan menarik di kantor. Bermula dari keributan seorang rekan seruangan yang bingung memilih sepatu yang matching karena dia mau jalan sama ceweknya. Keributan itu bahkan memancing perhatian Mbak Rosa, Kasubbag K1. Sampai akhirnya beliau menengahi: Ngapain ribet banget sih?! Ya kalau cewek, sepatu ma tas harus matching… (kira-kira seperti itu)
Baca lebih lanjut

Subyek dan Obyek

Suatu hari, aku pernah bertanya-tanya lewat FB: kenapa ya, kebanyakan karya sastra yang bagus itu lahir dari proses kesurupan?! Tentu saja, untuk pertanyaan seperti ini, tidak ada seorang teman pun yang merespon/memberikan jawaban. 🙄

Sebenarnya pertanyaan aneh itu muncul setelah mengingat beberapa buku/novel yang paling kusuka, ternyata diciptakan oleh penulisnya dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai contoh: Max Havelaar (Multatuli) 1 bulan, Olenka (Budi Darma) 1 bulan, dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata) kalo ga salah 3 bulan. Membandingkan dengan ketebalan buku dan luasnya bahasan di dalamnya, bagiku luar biasa mereka bisa mengerjakan itu semua dalam waktu sependek itu.

Pengalamanku sendiri dalam menulis memberikan pelajaran untukku. Cerpen dan puisi yang memenangkan lomba (lomba kecil2an tingkat sekolah sih) biasanya juga kutulis dalam waktu yang singkat, cuma beberapa jam. Biasanya saat itu aku merasa “nyaris” kesurupan. Tentu saja bukan kesurupan mau makan beling… tapi kesurupan ide. Ide mengalir sangat deras, tak terbendung, dan aku tak bisa menghentikan tanganku sendiri menuangkan semuanya ke atas kertas.
Baca lebih lanjut

Ngluyur (part 2)

Masih meneruskan petualangan 2 hari lalu…

Day 3:

Proses berhemat, masih berlanjut. Hari ini kujadwalkan untuk pergi ke Kota Tua (sering terbalik dengan Kota Lama… eh, itu kan di Malang, dudul!). Kali ini ga masak nasi, tapi beli jajanan pasar macam klepon, lopis, dan gethuk, total: Rp4000,-. Dan tetep, masih ada cemilan yang kubeli di hari Kamis lalu.

Berangkat jam 10, rute busway: Rawasari Selatan-Harmoni-Kota.

1st destination: Museum Bank Mandiri— HTM: Rp2000,-

Keren banget! Keren banget! Hawa jadulnya BERASSSAAA! Museumnya dibiarin seperti aslinya, tapi terawat dengan baik. Penjelasan hanya lewat tulisan di beberapa tempat. Juga foto-foto jadul. Bank Mandiri seperti kita tahu merupakan leburan dari beberapa bank besar, namun museum ini sendiri merupakan bekas gedung NHM (Nederlandsche Handels Maatschapiij –kayanya tulisanku salah-) yang didirikan tahun 30-an (penjelasan selengkapnya silakan dicari sendiri di internet) meski ada juga beberapa barang milik NIB dan bank-bank lain yang aku lupa namanya 😛

Point yang menarik:

Ngluyur (part 1)

Attention: Tulisan berikut tidak akan memberikan manfaat bagi Anda. Saya hanya sedang ingin mengabadikan kisah lontang-lantung saya. Bagi yang tidak berkepentingan, silahkan lewati bagian ini.

Liburan 4 hari lalu, kuputuskan untuk tidak pulang kampung. Iya, padahal hampir semua temanku pada pulang kampung. Tapi bukan karena Ncep ga pulang kampung, makanya aku ga pulang kampung… bukan itu! Alasannya sesederhana:
(1) Aku takut tiket Gajayana bakal naik jadi 400 ribu, yang berarti aku harus membayar 800 ribu untuk PP, belum termasuk biaya hidup di kampung;
(2) Sayang aja meninggalkan kuliah kedua tahsin karena aku masih anak-baru-banget. Jadi aku beneran golput?! Hehehe, iya. Tapi kata ayah sih, emang aku ga dikasih undangan. Tapi (lagi) aku sudah minta agar kartu pemilihku dikirimkan ke sini, jadi insyaallah aku akan ikut untuk Pemilu Presiden nanti.
Baca lebih lanjut

Rendevous

Langit sore ini cerah sekali. Warna jingga sempurna menyemburat di ufuk barat. Udara awal musim gugur berhembus dingin menyentuh kulitku. Kurapatkan syal di leher. Meski mulai dingin, kulihat banyak juga orang yang memilih untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu di koen1. Mungkin karena suasana yang menyenangkan dan sisa-sisa euphoria musim panas, pikirku iseng.

Seorang ibu mendorong kereta bayi dengan bayi mungil terlelap di dalamnya. “Kawaina aka-chan2” kataku tersenyum saat kami berpapasan. Sang mama mengangguk dan membalas senyumku. Ah, kapan ya, aku punya bayi sendiri…? Eh, kok jadi mikir aneh-aneh?! Oia, namaku Yamanashi Haruka. Single. 23 tahun. Aku sangat suka anak kecil. Itulah kenapa aku memilih bekerja di sebuah tempat penitipan anak di Shinagawa. Sedangkan alasan aku jalan sendirian di sore yang syahdu ini adalah karena:

Baca lebih lanjut

Hitori Kiri, zutto?!

Alkisah, suatu hari, tibalah Hercules di satu kampung. Warga kampung mengelu-elukan dan menyambutnya dengan ramah. Hercules pun senang, sehingga dia memutuskan untuk tinggal agak lama. Ketika sedang JJS di pinggiran desa, dia bertemu dengan seorang (atau seekor?!) Centaur. Tentu saja Hercules tidak kaget dengan makhluk yang satu ini, secara udah biasa gitu loh! Mereka pun ngobrol ngalor-ngidul. Dalam obrolan, si Centaur yang berbadan kuda tapi berkepala manusia mengeluh pada Hercules.

“Aku terpaksa senantiasa bersebunyi.”

Baca lebih lanjut

Senandung Saijah

Aku tak tahu di mana aku akan mati.

Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam;

Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam, ikan hiu berebutan datang;

Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya: “siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”-

Aku tak akan mendengarnya.
Baca lebih lanjut