Senandung Saijah

Aku tak tahu di mana aku akan mati.

Aku melihat samudera luas di pantai selatan ketika datang ke sana dengan ayahku, untuk membuat garam;

Bila ku mati di tengah lautan, dan tubuhku dilempar ke air dalam, ikan hiu berebutan datang;

Berenang mengelilingi mayatku, dan bertanya: “siapa antara kita akan melulur tubuh yang turun nun di dalam air?”-

Aku tak akan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku akan mati.

Kulihat terbakar rumah Pak Ansu, dibakarnya sendiri karena ia mata gelap;

Bila ku mati dalam rumah sedang terbakar, kepingan-kepingan kayu berpijar jatuh menimpa mayatku;

Dan di luar rumah orang-orang berteriak melemparkan air pemadam api;-

Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Kulihat Si Unah kecil jatuh dari pohon kelapa, waktu memetik kelapa untuk ibunya;

Bila aku jatuh dari pohon kelapa, mayatku terkapar di kakinya, di dalam semak, seperti si Unah;

Maka ibuku tidak akan menangis, sebab dia sudah tiada.

Tapi orang lain akan berseru: “Lihat Saijah di sana!” dengan suara yang keras;-

Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Kulihat mayat Pak Lisu, yang mati karena tuanya, sebab rambutnya sudah putih;

Bila ku mati karena tua, berambut putih, perempuan meratap sekeliling mayatku;

Dan mereka akan menangis keras-keras, seperti perempuan-perempuan menangisi mayat Pak Lisu;

dan juga cucu-cucunya akan menangis, keras sekali;

Aku takkan mendengarnya.

Aku tak tahu di mana aku kan mati.

Banyak orang kulihat di Badur. Mereka dikafani, dan ditanam di dalam tanah;

Bila aku mati di Badur, dan aku ditanam di luar desa, arah ke timur di kaki bukit dengan rumputnya yang tinggi;

maka Adinda akan lewat di sana, tepi sarungnya perlahan mengingsur mendesir rumput, …..

Aku akan mendengarnya.

Max Havelaar-Multatuli

//entah kenapa, pertama kali membaca sajak ini, aku langsung pengin nangis…//

Iklan

3 thoughts on “Senandung Saijah

  1. kemaren waktu di tempat ndunk, aq juga sempet bahas tentang mati ini…
    g mw mati begini begitu, tapi truz stelah itu aq nyletuk, klo qt mati kan udah g sempet musingin itu semua… toh ruh sudah berpisah dari badannya

    lgsg merinding deh 🙂

    *tp nur bahas yg mana c hihihi

    => Hehehe, sebenarnya sajak ini ada di bagian paling “romantis” dlm buku itu (sampai disebut sebagai Sampek-Engtay a la Indonesia), tapi memang, andai tidak menyebut-nyebut kata “mati”, efek sajaknya tidak akan jadi sedahsyat ini… ^-^
    Eh, aku paling suka kalimat “aku tak tahu di mana aku akan mati” ma dua kalimat terakhir.

  2. ohmm…kirain karyanya Reni…

    Multatuli…Danudirja Setia budi….Max Haveelar… (kebetulan inget nama aliasnya si empunya karya 😀 )

    Ia melihat kematian dalam berbagai macam cara…

    sesuatu yang terkadang tak ingin kita lihat

    => Karya Reni?? hm… mungkin juga sih, kapan2 aku akan memajang karya Reni di sini 😛

    Karena hidup pada saat itu sangat mudah untuk bertemu dengan yang namanya “kematian”, mungkin itu sebab kenapa sajak ini (yang sebenarnya berisi kehidupan dan percintaan) malah ngomongin soal kematian. Wallahualam ^-^

  3. pertama kali saya mendengar deklamasi sajak “aku tak tahu di mana aku akan mati” adalah kira-kira 20 tahun lalu, ketika itu disebuah rancangan televisyen rtm1 bersama artis m.nasir. hari ini setelah sekian lama mencari, barulah dapat saya membaca skrip penuh sajak tersebut. terima kasih kepada anda..

    => Sama2. Wah, m.nasir… saya sepertinya pernah mendengar nama beliau di lembaran matera Horizon (majalah sastra di Indonesia) 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s