Ngluyur (part 1)

Attention: Tulisan berikut tidak akan memberikan manfaat bagi Anda. Saya hanya sedang ingin mengabadikan kisah lontang-lantung saya. Bagi yang tidak berkepentingan, silahkan lewati bagian ini.

Liburan 4 hari lalu, kuputuskan untuk tidak pulang kampung. Iya, padahal hampir semua temanku pada pulang kampung. Tapi bukan karena Ncep ga pulang kampung, makanya aku ga pulang kampung… bukan itu! Alasannya sesederhana:
(1) Aku takut tiket Gajayana bakal naik jadi 400 ribu, yang berarti aku harus membayar 800 ribu untuk PP, belum termasuk biaya hidup di kampung;
(2) Sayang aja meninggalkan kuliah kedua tahsin karena aku masih anak-baru-banget. Jadi aku beneran golput?! Hehehe, iya. Tapi kata ayah sih, emang aku ga dikasih undangan. Tapi (lagi) aku sudah minta agar kartu pemilihku dikirimkan ke sini, jadi insyaallah aku akan ikut untuk Pemilu Presiden nanti.
Baca lebih lanjut

Rendevous

Langit sore ini cerah sekali. Warna jingga sempurna menyemburat di ufuk barat. Udara awal musim gugur berhembus dingin menyentuh kulitku. Kurapatkan syal di leher. Meski mulai dingin, kulihat banyak juga orang yang memilih untuk berjalan-jalan menghabiskan waktu di koen1. Mungkin karena suasana yang menyenangkan dan sisa-sisa euphoria musim panas, pikirku iseng.

Seorang ibu mendorong kereta bayi dengan bayi mungil terlelap di dalamnya. “Kawaina aka-chan2” kataku tersenyum saat kami berpapasan. Sang mama mengangguk dan membalas senyumku. Ah, kapan ya, aku punya bayi sendiri…? Eh, kok jadi mikir aneh-aneh?! Oia, namaku Yamanashi Haruka. Single. 23 tahun. Aku sangat suka anak kecil. Itulah kenapa aku memilih bekerja di sebuah tempat penitipan anak di Shinagawa. Sedangkan alasan aku jalan sendirian di sore yang syahdu ini adalah karena:

Baca lebih lanjut

Hitori Kiri, zutto?!

Alkisah, suatu hari, tibalah Hercules di satu kampung. Warga kampung mengelu-elukan dan menyambutnya dengan ramah. Hercules pun senang, sehingga dia memutuskan untuk tinggal agak lama. Ketika sedang JJS di pinggiran desa, dia bertemu dengan seorang (atau seekor?!) Centaur. Tentu saja Hercules tidak kaget dengan makhluk yang satu ini, secara udah biasa gitu loh! Mereka pun ngobrol ngalor-ngidul. Dalam obrolan, si Centaur yang berbadan kuda tapi berkepala manusia mengeluh pada Hercules.

“Aku terpaksa senantiasa bersebunyi.”

Baca lebih lanjut