Ngluyur (part 2)

Masih meneruskan petualangan 2 hari lalu…

Day 3:

Proses berhemat, masih berlanjut. Hari ini kujadwalkan untuk pergi ke Kota Tua (sering terbalik dengan Kota Lama… eh, itu kan di Malang, dudul!). Kali ini ga masak nasi, tapi beli jajanan pasar macam klepon, lopis, dan gethuk, total: Rp4000,-. Dan tetep, masih ada cemilan yang kubeli di hari Kamis lalu.

Berangkat jam 10, rute busway: Rawasari Selatan-Harmoni-Kota.

1st destination: Museum Bank Mandiri— HTM: Rp2000,-

Keren banget! Keren banget! Hawa jadulnya BERASSSAAA! Museumnya dibiarin seperti aslinya, tapi terawat dengan baik. Penjelasan hanya lewat tulisan di beberapa tempat. Juga foto-foto jadul. Bank Mandiri seperti kita tahu merupakan leburan dari beberapa bank besar, namun museum ini sendiri merupakan bekas gedung NHM (Nederlandsche Handels Maatschapiij –kayanya tulisanku salah-) yang didirikan tahun 30-an (penjelasan selengkapnya silakan dicari sendiri di internet) meski ada juga beberapa barang milik NIB dan bank-bank lain yang aku lupa namanya 😛

Point yang menarik:

  • Lantainya dibuat mozaik dengan batu warna-warni ukuran 5 cm. Ga terbayang betapa capeknya masang ubin pas mbangun dulu.
  • Dinding bagian bawah biasanya tertutup kayu jati yang sumpah, masih mulus abis! Tapi yang manis adalah garis di atasnya (di sepanjang kayu jati itu). Setelah kudekati, ternyata dari logam entah apa yang ditempel berjajar seperti garis putus-putus, berwarna emas. Meski kecil, tapi bagiku garis ini manis dan menarik sekali!
  • Mungkin yang paling menonjol dan kliatan dari luar adalah jendela dengan kaca patri a la gereja-gereja eropa, yang terletak di sisi depan museum. Melukiskan kehidupan bangsa eropa yang manusiawi (berladang, anak-anak bermain, dsb) tapi di bagian atas ada lukisan Cornelis de Houtman dan di sisi kiri (aku memandang dari dalam) ada lukisan perempuan yang setelah kuamati: mirip dengan tokoh di lukisan “Lahirnya Venus” karya Botticeli. Aku jadi mikir, jangan-jangan lukisan yang lain juga cuplikan dari lukisan terkenal lain, cuma aku ga tahu aja. Wallahualam.
  • Kalo sempet ke toilet, kunci pintunya yang berputar itu masih memakai tulisan Belanda! (kalo di kantor, cuma warna merah untuk “terkunci”, dan biru untuk “terbuka”).
  • Di antara semua bank yang telah melebur, aku paling suka NHM (di masa merdeka namanya Bank Exim). Ga tahu, kesannya keren. Lambang mereka juga keren (ada di alat-alat makan di ruangan direktur). Dan salah satu mantan direkturnya (jaman Belanda lho!) ada yang cakep. Hehehe…
  • Buku Besar di ruang depan, bagiku yang menarik malah tulisannya. Membayangkan laporan keuangan ditulis dengan tulisan yang sedemikian indahnya, berukir-ukir dan bernilai seni… Padahal kan dia diisi setiap terjadi transaksi. Salut!
  • Sisanya=> kertas-kertas kuno (kalo ini mah, di kantor pusat DJKN juga banyak…kqkqkq), uang logam dan uang kertas jadul (nah, yang ini ada di gedung Menko…hehehe), alat-alat perkantoran jaman dulu, semuanya terpajang dan membuatku berpikir: orang-orang di gedung ini dulu telah mati-matian mendedikasikan hidupnya untuk pekerjaannya.

Gambar yang sempat kuambil, maaf kalo gelap:

Kluis..Ini adalah pintu masuk ke Kluis (ruang brankas) di lantai basement. Karena gelap, sepi, dan aku jalan sendirian, sementara kluis sendiri dibikin bersekat-sekat dengan jeruji kaya penjara (sebenarnya brankas-brankasnya keren), terbayang kan, gimana merindingnya…

2nd destination: Museum Bank Indonesia— HTM: gratis!

Letaknya bersebelahan dengan Bank Mandiri. Pas ngliat dari luar: wow, hebat nian! Banyak pilar gede warna putih di sepanjang sisi tembok, dan hal-hal lain yang membuatnya terkesan kokoh dan megah (susah njelasinnya dengan pengetahuan arsitekturku yang terbatas). Pintu masuknya sendiri udah kaya hotel bintang lima! Dindingnya dari batu pualam (mungkin) dan kesan emas yang ditimbulkan oleh dinding dan pegangan tangga bagiku cuma menyatakan satu hal: mahal. Berbeda dengan pelayanan di Bank Mandiri, dimana kasir dan customer masih berada di satu meja dan bisa bertatap muka, di BI mereka akan berbincang berbatas dengan jeruji! (macam orang lagi njenguk keluarga yang jadi NAPI kelas wahid) Meski mewah dan didukung dengan sarana informasi yang amat-sangat memadai (pake komputer berlayar free touch), namun aku malah menangkap kesan “hambar”. Yang kurasakan kaya lagi masuk ke ruangan hotel, dengan cahaya remang-remang dan karpet tebal, mendengarkan dan membaca penjelasan lewat layar sorot, dan membaui wangi pengharum ruangan di ruangan dingin ber-AC. Padahal kubaca di komputer (ciee…) kalo gedung ini termasuk “langka” dengan arsitektur Neo-Klasik bergaya De Braux (??-bener ga ya?) tapi mana ruangan hijau itu? Mana kanopi itu? Aku ga bisa leluasa lihat karena pengunjung hanya diperbolehkan berjalan di sepanjang jalur yang ada. Dan andai ga “menyengaja”pergi ke toilet, aku juga ga bakal ngliat jendela dengan kaca patri yang melukiskan 3 orang perempuan (lukisan yang manis sebenarnya) yang berhadapan dengan tangga menuju toilet di bawah. Huh, payah!!

3rd destination: Museum Wayang— HTM: Rp2000,-

Oiya, sebelum masuk museum, aku menyempatkan diri meredam maagku dengan memakan bekal. Duduk di atas batu bulat (eh, itu peluru meriam kah?) di pinggiran lapangan Stadhuis sambil menonton pertunjukan reog-bukan-dari-ponorogo (karena kubaca tulisannya turonggo arek-arek Suroboyo) bikin kangen turonggo Safitri Putro…hehehe. Panas-panas nonton reog?! Mengingat para personil reog itu hobinya menyembur-nyemburkan api, yang ada ya tambah panas…T-T

Masuk ke museum wayang. Koleksi wayang di sini sangat lengkap, dari wayang purwo sampe boneka si gala-gala, dari wayang Thailand sampe boneka marroinette (yang tampak mengerikan –bagiku-), juga koleksi boneka si Unyil 🙂 . Di bagian taman di tengah gedung, kubaca ada banyak nama-nama orang, salah satunya J.P. Coen. Karena gedung museum wayang ini dulunya bekas gereja, aku berharap semoga nama-nama itu bukan nama orang-orang yang dikubur di sana! 😛 Sayang sekali, museum ini tidak terawat. Padahal menurutku, wayang sama seperti lukisan yang kalo ga ati-ati menyimpannya, bisa lekas rusak (dan emang ada beberapa lukisan wayang pula yang seharusnya dapat perhatian ekstra). Wayang-wayang di sini berdebu, dengan kartu “pengenal” yang seperti diketik dari jaman 90-an. Plafonnya juga mengenaskan. Aku membayangkan bila dia beneran ambrol seperti atap SD-SD inpres. Di ruangan tempat menyimpan alat karawitan, kusempatkan maen sedikit Kebo Giro (herannya, itu satu-satunya tembang yang masih kuhapal…hahaha!).

4th destination: Museum Sejarah Jakarta— HTM: Rp2000,-

Gedungnya besar, dan merupakan tempat pemerintahan jaman Belanda (aku agak bingung karena sepertinya tempat pemerintahan berpindah-pindah, yang kutahu adalah gedung induk di seberang kantor, sementara Max Havelaar bercerita kalo Gubernur Jenderal berkedudukan di Bogor). Andai ga ada anak-anak ABG yang berisik dan lebih asyik memotret-motret daripada menghayati masa lalu (padahal ada larangan memotret), sebenarnya museum ini asyik juga. Memang, kondisinya sama mengenaskan dengan museum wayang, tapi barangnya sangat lengkap. Ada banyak duplikat prasasti-prasasti yang ditemukan di sekitar Jakarta, gerabah kuno, furniture jaman belanda, senjata-senjata, dsb. Ternyata lukisan Daendels tidak terkesan sangar, mengingat keras kepalanya dia tentang proyek jalan raya 1000km itu. Malah dengan muka chubby-nya, dia kliatan imut. Kqkqkqkq. Ada juga potret patung Daendels lagi naek kuda, di depan sebuah gedung tua, yang setelah kuamati… lho, itu kan gedung induk?! Sayang aku ga bisa nanya dimana patung itu sekarang berada.

Saranku, kalo jalan sendirian (sebenarnya berlaku juga untuk rombongan) coba dengarkan penjelasan guide yang lagi menerangkan. Aku sempat mengekor dua rombongan yang berbeda dengan guide yang berbeda, dan inilah hasilku mencuri dengar:

  • Ada lukisan besar di sayap sebelah kiri, karya S. Sudjojono, menggambarkan penyerangan Mataram ke Batavia. Lukisannya besar sekali dengan tinggi hampir 3 meter dan lebar mungkin 4 meter lebih, yang bagiku lukisan ini tampak hidup dan dinamis. Ekspresi tiap orang di lukisan begitu tampak. Katanya lukisan ini dulu sempat rusak dimakan rayap (dasar!!) dan baru diperbaiki setelah mendapat dana dari luar negeri dan berhasil diperbaiki oleh tim dari Singapura (terlalu!!)
  • Ada pedang besar di ruangan sidang, bentuknya pedang bermata dua yang…. mengingatkanku pada pedang Joan de Arc :D. Menurut guide, pedang ini dulu sempat digunakan untuk memenggal 200-an warga Tiong Hoa (pembantaian saat itu memang terkenal sekali) tepatnya di dekat Kali Mati dan Kali Merah (dinamakan demikian untuk mengenang banyaknya orang yang meninggal dan darah yang mengalir ke sungai saat itu). Setelah dibunuh, mayat para warga tionghoa itu dengan tragisnya dibiarkan saja hanyut di sungai sehingga menumpuk di muara, mengilhamkan nama Sungai Angke dan Muara Angke (dari kata bangkai). Benar tidaknya, aku ga tahu.
  • Masih di ruang sidang, ada lukisan besar Mr. Van de Patra (??-maaf kalo salah tulis lagi) yang beneran unik (kalo ga diterangin guide aku juga ga tahu). Mr. Patra digambarkan berpose biasa aja (ngadep depan gitu) tapi kalo kita berjalan ke sisi kanan atau kiri lukisan, mata sang mister seolah-olah mengikuti kita. Hiiii….serem. Salut buat pelukisnya yang pada jaman itu sudah bisa memasukkan teknik demikian ke dalam lukisan.
  • Di ruangan sebelahnya, ada lukisan Mr. Witt. Mister ini diterangkan sebagai orang terkaya di Batavia (pada jamannya tentu). Dan dia juga “loman”, mudah memberi pada orang-orang, sehingga orang pada waktu itu sering bilang, “Oh, uang dari mister Witt”. Mister Witt…mister witt… dan orang pun mulai menyebut uang sebagai DUIT! Ah, ada-ada saja…

OK, ga enak ngekor rombongan terus. Ntar dicurigain lagi, maunya ndengerin penjelasan gratisan terus. Hehehe… Akhirnya sampailah aku di pelataran belakang. Ada patung hermes –anak dewa Zeus- yang sedang berlari dengan sayap kecil di kakinya. Mungkin Flash Man terinspirasi dari dia, ya? Hermes memang terkenal sebagai dewa perjalanan (ada gitu?!) dan dewa olahraga (wah, baik sekali) dengan kecepatan lari yang luar biasa (semakin memperkuat dugaanku tadi).

Sebelum meninggalkan museum, kusempatkan mampir ke penjara bawah tanah. Bentuk ruangannya seperti tabung yang terpotong dari sisi atas ke bawah (bisa mbayangin ga sih?!) sehingga atapnya melengkung dengan ketinggian yang dibuat pendek sekali sehingga tidak mungkin orang bisa berdiri di dalamnya. Di situ masih tertinggal bola-bola besi, dengan jeruji tebal pada jendela, ga tanggung-tanggung: udah tebal, rangkap pula!! Membayangkan siksaaan-siksaan yang pernah dilakukan di sana, membuatku ingin cepat-cepat kabur saja.

5th destination:Museum Seni Rupa dan Keramik— HTM: Rp2000,-

Sekitar jam 3, aku masuk museum ini. Gedungnya terawat, merupakan bekas gedung pengadilan, dengan pilar besar-besar yang sangat kokoh di bagian depan. Persinggahan pertamaku adalah gerabah-gerabah yang diambil dari kapal yang tenggelam. Ada satu yang menurutku lucu:

Cupuk...Cupuk dengan hiasan floral. Manis, kan?!

Di lantai atas, ada tembikar-tembikar dari era 18-an. Ada yang dari Cina, Jepang, dan Eropa. Seperti biasa, aku lebih tertarik porselen Jepang. Ada 2 tipe yang umum: Arita dengan warna biru dan coraknya yang kalem, dan Imata (??-kayanya salah lagi deh) yang lebih berwarna-warni dan corak yang lebih berani. Menurut bapak penjaga museum (yang ternyata menyambangiku hanya untuk mengunci pintu) semua koleksi tembikar tersebut merupakan sumbangan dari bapak Adam Malik. Wow! (emang tadi baca sih tulisannya di depan pintu, cuma ga nyangka kalo bakal dapet sebanyak itu)

Ternyata museumnya dah mau tutup! Sambil ngobrol sama bapak penjaga tadi (beliau curhat soal statusnya sebagai PTT Pemda yang sampai sekarang belum diangkat juga) aku minta waktu sebentar untuk mengunjungi ruang lukisan terdekat (itu pun di sisi yang lain udah dikunciin sama teman si bapak). Karena sangat tergesa, aku cuma melihat lukisan-lukisan terkenal macam Afandi (2 lukisan potret diri) dan S. Sudjojono (1 lukisan). Yah, andai aku datang lebih pagi…

OK, cukup untuk seharian ini. Total uang keluar: 7000 (tansport) + 8000 (tiket masuk) + 5000 (buku panduan). Hore!!!

Day 4:
Cucian numpuk!! Akhirnya kuhabiskan waktu sepagian buat nyuci, melewatkan kesempatan lari pagi di Jalan Letjen Suprapto yang untuk sehari ini (Minggu, 12 April 2009 pukul 06.00-12.00) ditutup untuk semua kendaraan bermotor, kecuali angkutan umum. Ah, sudahlah. Dua hari berturut kan udah jalan berkilo-kilo.

Berangkat ke Johar jam 09.00. Sampai di sana on time tapi ternyata: mbak yang seharusnya ngajar kami ga bisa datang karena ada keperluan ke Bandung. Berhubung kami masih anak baru, jadi mbaknya lupa nge-save nomor-nomor kami dan tidak memberitahukan perubahan jadwal, sehingga terlantarlah 3 orang gadis yang sudah datang jauh-jauh (sebenarnya ga jauh, cuma oper-oper jadi berkesan jauh) dengan niat untuk belajar ini. Ah, sudahlah.

Balik kucing, sebenarnya aku pengin ke ITC mengingat keinginanku untuk membeli rok coklat belum juga kesampaian (butuh ding, bukan ingin :P). Namun karena sudah memutuskan untuk “liburan murah”, aku urung ke sana dan mengekor Ncep balik ke kosnya. Sebelumnya Ncep memang dengan gencar mempromosikan kegiatan di depan Hotel Grand Cempaka sehubungan dengan penutupan jalan besar itu. Katanya ada lomba bikin lagu kreatif (macam lagu tentang demam berdarah dan anti barang bajakan), lomba mewarnai, lomba nyanyi anak-anak, dsb. Bahkan acara juga dihadiri sama Bu Walikota Jakpus. Aku pun tertarik untuk melihat. Namun karena sampai di sana udah pukul setengah sepuluh, banyak stand yang mulai tutup dan perlombaan pun sudah sampai ke tahap pengumuman pemenang. Sayang sekali!

stand-stand di depan Grand Cempaka HotelJarang-jarang ada kegiatan kaya gini.

Ga tertarik beli apa pun, akhirnya beneran ngekor ke kosan Ncep saja, ngendon di sana sampe adzan dhuhur, pulang mampir pasar, beli plastik bening meteran untuk sampul buku (lama ga ngurusin Paper, ternyata harga sampul plastik udah naik segitunya –hasil nawar: Rp6000,-/meter- ckckck…) dan menghabiskan sore dengan menyampuli 14 buah bukuku plus menyetrika baju. Capek…

Hari ini:
Transport ke Johar: Rp9500,-
Sampul plastik bening: Rp6000,-

Setelah dipikir-pikir, sepertinya liburan ini ga terlalu mengenaskan juga… ^-^v

Iklan

9 thoughts on “Ngluyur (part 2)

  1. Wah, seru banget petualangannya.
    Beda banget ya kalo nur yang cerita, ga kayak ceritaku kemarin. Hehehehe…

    Kapan-kapan pengen kesana lagi…

    => Itu tergantung tingkat antusiasme masing2… kan aku emang suka yang jadul2, ren, jadi kaya tumbu ketemu tutup lah (dari tadi kata2ku ngaco terus sih)
    Yuk, ke sana lagi… aku belum nyampe museum bahari, nih… tapi jalannya jauh… ^-^

  2. nurrr…
    aq ke museum bank mandiri GRATISSSS lohhh hahahaha
    *g penting

    karena mahasiswi hahahaha 😛

    => yah, 2000 apa artinya buat pegawai pajak sih, mbak?! hahaha

    Jadi inget KTM ku terakhir yang sudah musnah kugunting2 😦

  3. nambah komen, detail sekali ceritamu nur..
    ahhh aq cuma ke museum mandiri aja..

    nur yuk jalan2 lagi ke museum2 itu, km mw kan hahaha, ke kota tua 😛 lagi m aq

    => Hehehe… habisnya kemaren jalan sendirian, ga ada temen curhat tt hal2 keren ini…

    Yuk, kapan? aku bisa jadi guide untuk 3 museum berarti. Kalo sempet, jalan terus ngikut peta sampe museum bahari. Mau?! ^-^

  4. ak mau ikuuuutt jugaaaa…
    qkqkqkq,,
    eh nur,,les opo tho?

    => Lho, Mel, tumben ke marih?! Irasshaimase… 😀
    Aku ga les opo2 tuh Mel… les opo emang?
    Yuk, gimana kalo POC’ers yang masih gadis2 jalan bareng lagi kaya ke Bogor dulu?! Eh, yang “sudah ga gadis” gimana ya?! hehehe, piss jeung2! ^-^v

  5. pas ke museum bank Mandiri, merasa dikuntitin dua cewek aneh ga? bukan setan, tapi pas aku kesana Desember 2006 silam ada cewek2 STM yang sok jadi guide gitu, buntut-buntutin peserta rombongan turku and foto-foto pake hape. Iiiih…ilfeel banget!

    Kalau di Museum Seni Rupa dan Keramik, aku seneng liat lukisannya Raden Saleh (klo ga salah) yg ada gunung Merapinya.

    => Hahaha, nggak tuh Wis… aku dibiarin aja kaya anak ilang. Tapi kalimatmu ada yang aneh. Mereka jadi guide tapi kok asyik motret?! Yang bener yang mana? Atau, asyik ngajakin foto2 ma kamu?! 😀

    Wah, kan aku belum selesai menjelajahi, museumnya keburu tutup… lain kali deh, insyaallah, coba kulihat. ^-^

  6. wah, sonora keren, thx y bagi2 pngalamannya. Taktunggu lg crta2 berikutnya ^^

    => Waduh, dikunjungi mbak phie pula… jadi malu *bletak*

    Sama2 mbak… lain kali kalo ngluyur lagi dan ceritanya menarik, kuposting di sini deh ^-^

  7. Ping-balik: Ngluyur: Nggolek Mala « C’est Moi!

  8. Sampe 2008 semua instansi pemerintah Buku Kas Umum masih wajib ditulis tangan, dengan tinta hitam, tak boleh ada tip-ex, kalo salah mesti coret dan diparaf. Yg nulis keren-keren tulisannya. Ngacunya ke KMK tahun 1968

    http://www.sjdih.depkeu.go.id/fullText/1968/332~M~V~9~1968Kep.pdf

    Jadi buat setjen bayangin sendiri setebel apa tuh buku dan berapa lama untuk ngerekapnya kalo ada selisih. Asal muasal jadi kuncen gedung induk juga gara-gara ini *sigh*

    => Wew, ada senior. Di biro umum apa pusintek pak? Kuncen punika kerjaan kados pundi nggih?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s