Subyek dan Obyek

Suatu hari, aku pernah bertanya-tanya lewat FB: kenapa ya, kebanyakan karya sastra yang bagus itu lahir dari proses kesurupan?! Tentu saja, untuk pertanyaan seperti ini, tidak ada seorang teman pun yang merespon/memberikan jawaban. 🙄

Sebenarnya pertanyaan aneh itu muncul setelah mengingat beberapa buku/novel yang paling kusuka, ternyata diciptakan oleh penulisnya dalam waktu yang relatif singkat. Sebagai contoh: Max Havelaar (Multatuli) 1 bulan, Olenka (Budi Darma) 1 bulan, dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata) kalo ga salah 3 bulan. Membandingkan dengan ketebalan buku dan luasnya bahasan di dalamnya, bagiku luar biasa mereka bisa mengerjakan itu semua dalam waktu sependek itu.

Pengalamanku sendiri dalam menulis memberikan pelajaran untukku. Cerpen dan puisi yang memenangkan lomba (lomba kecil2an tingkat sekolah sih) biasanya juga kutulis dalam waktu yang singkat, cuma beberapa jam. Biasanya saat itu aku merasa “nyaris” kesurupan. Tentu saja bukan kesurupan mau makan beling… tapi kesurupan ide. Ide mengalir sangat deras, tak terbendung, dan aku tak bisa menghentikan tanganku sendiri menuangkan semuanya ke atas kertas.

Aku rasa, tak berbeda jauh denganku, para pengarang besar itu pastinya juga sedang “kesurupan” ketika sedang mengukir master piece mereka. Budi Darma dalam Olenka menjelaskan perasaannya tersebut secara detail. Dia menyatakan, saat itu, dia menjadi obyek tulisannya sendiri. Perhatikan: OBYEK, dan bukan SUBYEK. Padahal dia nota bene merupakan pengarang, Tuhan dari ciptaannya. Namun saat itu dia tidak bisa mengendalikan diri, dan justru dikendalikan oleh novel tersebut. Selanjutnya Budi Darma juga berpendapat, bahwa sastra yang baik adalah sastra yang lahir dari proses “keterbalikan” seperti itu. Dengan demikian, cerita akan mengalir lancar, tidak ada kesan mengada-ada, apalagi maksa.

Menilik kasus di atas, aku jadi ingin berpikir kembali tentang subyek dan obyek. Jika digambarkan, secara sederhana, SUBYEK adalah pihak yang berkehendak, dalam hal ini dia bebas melakukan apapun, karena verb alias kata kerja melekat padanya, miliknya secara utuh, sesuai dengan takdir. Sedangkan OBYEK adalah pihak yang pasif, menerima segala bentuk tindakan sesuai verb yang dilakukan oleh subyek.

Selama ini, dalam prosesku menunggu dan mencari “seseorang yang akan mendampingiku di masa depan”, dengan sedih kusadari bahwa aku selalu menempatkan diri sebagai subyek (perhatikan kata “yang akan mendampingi-KU”). Dengan ke-aku-an dan keegoisanku yang tinggi, aku selalu berharap ini dan itu pada calon pasanganku yang entah dimana berada tersebut. Dan tiba-tiba baru saja aku terpikir, “ini tidak akan menjadi baik”. Karena subyek punya kehendak bebas, meskipun sebenarnya berharap dan berdoa itu memang harus, namun aku menjadi gelisah, selalu harap-harap cemas, dan tidak bisa menikmati masa penantian ini.

Berbeda bila posisi itu dibalik: aku menjadi obyek. Maka alih-alih mengisi pikiran dengan harapan dan dugaan yang tidak-tidak, yang terpikir sekarang adalah “untuk siapakah aku ini diciptakan?”. Efek yang ditimbulkan oleh pertanyaan ini memang juga berupa deg-degan, namun bukan was-was, melainkan “berdebar”. Rasanya lain. Terasa lebih manis dan lebih indah, apalagi untuk kedudukanku sebagai perempuan. Di sini ada penerimaan, kepasrahan, dan tawakkal (omong2, bukannya 3 kata itu sama aja, ya?) tetapi bukan pula putus asa. Menjadikan diri sebagai obyek sebenarnya justru membuat kita lepas dari tekanan-tekanan dan tuntutan yang berlebih, baik pada obyek (maksudnya selama kita jadi subyek) maupun pada diri sendiri. “Untuk siapakah aku diciptakan” juga memberikan semacam tantangan: sudah layakkah diriku untuk menjadi milik orang yang berhak atasku?!

Memang, tidak boleh berhenti berdoa begitu saja. Namun, bukankah proses “keterbalikan” akan menghasilkan karya sastra yang indah, tidak mengada-ada, dan sungguh luar biasa?! ^-^

Iklan

7 thoughts on “Subyek dan Obyek

  1. Ide mengalir deras? Begitu ya.. Hemm..
    Aku jadi pengen baca hasil karyamu yang dulu, Nur..
    Kayaknya bagus-bagus, deh. Sekalian buat aku belajar nulis. Heee..

    Tapi kok dikait2in ma pasangan segala, ya? 😛

    => Walah, nggak usah ren… yang dulu kan error2, masih jaman jahiliyah 😀

    Sebenarnya tulisan ini ga bakal muncul andai aku ga kepikiran yang “pasangan” itu. Hehehe… trus ditelusuri, pemikiran itu ternyata munculnya dari pikiran tt “keterbalikan”nya Budi Darma. Begitu… ^-^

  2. emang gitu, mbak. lain lagi kalo nulisnya nonfiksi. musti lama. musti banyak “penelitian”.

    v(^_^)

    tapi mbak, kok novelku ga kelar-kelar, yak? bakalan jadi karya yang ga bagus, dong. TT

    => Iya, aku kan cuma ngomongin sastra…

    Novel apaan, ris? Tt the penampakanz?! ^-^

  3. Loh..dari sastra bisa sampe ke masalah yang begitu ‘personal’, ya ?
    hm..mantap, nih pengalihan ‘inti cerita’nya, ren

    Kalo Put, beberapa cerpen malah menjadi novel [yang sampai sekarang malah gak kelar2 he..he..]..barangkali kurang tekun berada di depan komputer untuk membiarkan ide2 itu terus mengalir..erh…entahlah..

    => Errr… maaf, mbak Put… ini Nur… bukan Reni ^-^ (hehehe, ga penting juga sih 🙄 )

    Sebenarnya bukan pengalihan inti cerita, tapi emang lagi pengin mbahas dua2nya.
    Kalo lama tertunda, kadang ide jadi menguap. Pas balik lagi, merasa ada yang kurang, ada yang harus diperbaiki, ide ga menarik lagi, dsb. Nur bilang gini karena sering mengalaminya juga 🙂

  4. Dear Nur..

    Paling sulit ketika ketika mengucapkan salam perpisahan, tapi toh kita bisa juga hehe.. Thanks atas semua masukan dan keluaran yang terjadi, mudah2an berguna bagi kita masing2. Gempur dan badanya telah tamat, dan luar biasa menemukan the kickers dalam perjalanan ini. Semoga blog kalian terus dinamis dan terus berkarya….

    Assalamualaikuuuuuuuuuuuuum

    => *terhenyak baca pesan pagi2*

    *masih bingung*

    *berusaha ga nangis*

    Iya, wa’alaikumsalam…

  5. mba Nur………..

    aku jadi berdebar ketika membaca tulisan mba Nur yang
    ” Untuk siapakah aku ini diciptakan..? ”

    cukup menyadarkan diriku yang subyektif ini…
    (lagi-lagi ajang curcol..) 😆

    => Hehehe, kok kita selalu saling curhat di blog ya?! Aneh… kan jadi ketahuan banyak orang… hahaha

    Iya, sebenarnya intinya ya cuma kalimat itu. 😀

  6. Terus terang aku ga terlalu suka dengan kalimat “Untuk siapakah aku ini diciptakan..?”, atau “Siapa pemilik tulang rusuk ini?”.
    Mengapa tidak seperti ini : Siapakah yang akan menjadi pasangan hidupku? partner kehidupanku?
    Kan lebih keren tuh…

    => Nggak, ga lebih keren… Karena yang kuinginkan adalah perubahan posisi dari kalimat “aku memiliki” menjadi “aku dimiliki” :p

  7. Pemilik tulang rusuk itu pastilah seseorang yang disiapkan khusus oleh Allah untukmu.

    salam kenal

    => Insyaallah…

    Yosh, salam kenal juga. Aku boleh manggil “Budi” aja?! ^-^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s