Koper

Saat mau pergi begini, aku jadi bingung: bajuku mau kubawa pake apa ya?

Bukan apa-apa. Tapi karena perginya bukan dalam rangka pulang kampung, dan di tempat yang kutuju tidak ada setrika, sementara aku harus tetap tampil rapi dengan baju dan jilbab licin, kalau bajuku kubawa dengan back pack, hal itu memang agak mustahil. Mengingat struktur backpack yang berdiri selalu memungkinkan baju-baju itu akan terlipat atau mudah kusut.

Sampai sekarang aku belum pernah punya koper. Awalnya kupikir, buat apa sih? Kan udah ada tas besar yang dibeliin ibu pas tingkat 1 dulu?! Tokh dengan tas itu, dulu aku bisa membawa semua barang-barang keperluan prajab. Yah, meskipun harus menenteng-nenteng tas berat tersebut…(kalau koper kan tinggal diseret saja)

Beberapa hari lalu, ada pembicaraan menarik di kantor. Bermula dari keributan seorang rekan seruangan yang bingung memilih sepatu yang matching karena dia mau jalan sama ceweknya. Keributan itu bahkan memancing perhatian Mbak Rosa, Kasubbag K1. Sampai akhirnya beliau menengahi: Ngapain ribet banget sih?! Ya kalau cewek, sepatu ma tas harus matching… (kira-kira seperti itu)

Kebetulan, beberapa hari sebelumnya aku juga ngomongin masalah matching-matchingan ini dengan teman seruangan lain. Aku jadi heran, kenapa setelah dewasa, perempuan jadi ribet banget dengan penampilan? Seingatku waktu masih sekolah dulu (bahkan kuliah juga masih suka begitu) aku cuek-cuek saja. Sepatu cuma satu, sendal cuma satu, tas cuma satu… Dan hidup terus berjalan baik dengan semua itu. Barulah sekarang aku mulai cerewet. Pengin beli tas coklat biar matching sama sepatu. Beli rok coklat gelap biar matching ma baju-bajuku yang kebanyakan berwarna kuning. Kebutuhan yang semula tersier sekarang seolah-olah naik menjadi sekunder.

Hal ini pun ternyata berlaku juga untuk hal-hal lain di luar matching-mematching. Pengin punya koper dengan semua alasan di atas. Beli tv dengan alasan biar nggak kesepian di kosan. Pengin beli modem biar bisa internetan kapan saja. Beli… beli… dan terus saja membeli.

Kadang timbul rasa jenuh. Hampir tiap minggu, selalu saja ada yang dibeli dengan pengeluaran minimal 25 ribu. Kalau bukan barang, paling nggak pulsa. Mungkin ini juga efek dari status sosialku yang lajang dan pekerja, jadi gaji yang ada bebas digunakan untuk keperluan pribadi, karena belum mikirin keperluan keluarga.

Aku jadi ingat satu film bagus yang kutonton bersama adikku waktu pulang kampung terakhir dulu. Judulnya Into The Wild, diangkat dari novel berjudul sama yang dibuat berdasarkan kisah nyata. Film ini sendiri pernah dibahas di Oprah Show. Mengisahkan tentang seorang pemuda –cakep, cerdas, dan anak orang kaya- yang meninggalkan semua kehidupannya, berpetualang sebagai back packers dengan tujuan utama: pergi ke Alaska. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya hidup di alam, tanpa bantuan siapa pun dan tanpa segala peralatan kebutuhan manusia jaman sekarang. Dia muak, karena manusia saat ini telah terjebak dengan kebutuhan materi (things) hingga menenggelamkan diri dalam pekerjaan, kadang malah melupakan keluarga, demi mengejar uang, uang, dan uang… untuk membeli barang, barang, dan barang…

Dan memang, kenyataannya seperti itu, karena manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.
Jadi, apakah aku perlu membeli koper baru? Hm, mungkin nanti deh, ketika aku benar-benar membutuhkannya. Untuk saat ini, biarlah baju-baju itu kubawa dengan tas. Cuek saja ah…

(malam minggu, setelah sejam lalu selesai mencuci tas itu… hehehe)

Iklan

6 thoughts on “Koper

  1. (woot) ada seorang rekan seruangan yang lesbi, ya mbak?

    v(^_^)

    makanya, mbak. beli rok, baju, kaos, kerudung, sepatu, tas, dll yang warna cokelat! viva brown!

    => Rekan seruangan kan ga cuma cewek, ris…

    Waduh, tar di jalan bisa dijilat orang aku ris.. dipikir coklat. Lha kulitku wes coklat ngene…:P

  2. SAIA JUGA GA PUNYA KOPER

    kalo butuh pinjem ibu ajah

    => Andai ibu saya ada di sini, atau saya berada di dekat ibu saya… Namun senyatanya, ibu saya juga ga punya koper… hehehe 😀

  3. saya punta koper lo, tapi kemaren malah beli tas travel jinjing, ribet pake koper kalo cm pergi 1-2 hari….pa lagi nek pergine pake jalan darat…cape deeh…

    => kalo lewat jalan darat sih, aku lebih suka pake ransel Ta’… ^-^

  4. Ping-balik: Ngluyur?! (another story of ngluyur) « C’est Moi!

  5. “Into the wild”? Yang saya tahu “Into The Blue”… Ada Jessica Alba-nya.. :mrgreen:

    *dasar semua cowok sama aja!*

    Dan memang, kenyataannya seperti itu, karena manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya.

    Well, harus diakui emang… 😀

    => Hm… into the blue aku ga pernah nonton (dan ga pernah tau) 🙂

    Hehehe, tapi sebenarnya dengan ketidakpuasan itu manusia jadi punya hasrat mengembangkan diri. Selalu saja, ada sisi baik dan buruk dari segala sesuatu. Karena ini sudah menjadi sunnatullah. Wallahualam. ^-^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s