Ngluyur?! (another story of ngluyur)

Minggu lalu, tepatnya tanggal 28-30 April, sebagai realisasi dari postingan ini, aku ngluyur ke Bojonegoro dan Tuban. Sebenarnya bukan ngluyur karena aku pergi dalam rangka melaksanakan tugas dari kantor untuk mengunjungi dan melakukan penilaian terhadap kantor vertikal di daerah. Dan… ini merupakan DL pertamaku! 😀

Aku bersama rombongan yang terdiri dari Ibu Kasubbag, 1 orang pendamping dari BC, dan 2 orang pendamping dari Perbend berangkat hari Selasa pagi dengan naik GA. Perlu diketahui, ini merupakan penerbangan pertamaku! Aku pernah mendengar bahwa yang paling ga enak adalah saat-saat take off/landing. Namun ternyata, aku enjoy aja tuh. Malah deg-degannya pas di atas, kalo lagi kepikiran bahwa aku lagi berada beratus meter di udara, dan pesawat itu tidak ada yang penyangganya. Fufufu… T-T Ah, sudahlah! Alhamdulillah, langit cerah dan cuaca sedang bagus. Perjalanan lancar. Sampai di Juanda pukul 08.00. Untuk pergi ke Bojonegoro, kami masih harus naik travel yang memakan waktu sekitar 3,5 jam.

OK. Aku ga akan cerita tentang kerjaan kantor di sini, karena postingan bertajuk “ngluyur” lebih kutujukan untuk memuat kisah-kisah “ngluyur” alias sight seeing alias jalan-jalan. Namun sayangnya, karena jadwal yang padat (nggaya!!) –aku harus mengunjungi 3 kantor di 2 kota dalam 3 hari- maka aku ga sempat jalan-jalan. Aku hanya sempat melewati beberapa obyek wisata, jadi tulisan berikut ga akan terlalu bermutu. Tapi karena terlanjur pengin cerita, aku ceritain saja ya… ^-^v

Meskipun orang Jawa Timur asli, aku belum pernah ke Bojonegoro. Jika dilihat di peta, Bojonegoro memiliki wilayah yang luas dan dilewati jalur kereta Jakarta-Surabaya. Namun kota Bojonegoro sendiri bagiku amat kecil (terbiasa dengan Malang dan Kediri). Daerah alun-alun sangat sepi walaupun seperti layaknya alun-alun di jawa, dikelilingi oleh kantor-kantor pemerintahan seperti Balai Kota, BPS, sekolah, dsb. Kata orang-orang kantor: kalo di Jakarta, ini sih taman! Tapi setelah dipikir-pikir, justru suasana sepi ini yang menyenangkan. Daerahnya amat tenang dan sejuk karena banyak pohon rindang. Seingatku aku tidak melihat angkot lewat. Yang ada hanya becak. 🙂

alun-alunAlun-alun yang sepi (gambar dari http://www.m4sjoy.blogspot.com)

Karena penasaran, aku bertanya pada orang sana dimanakah pusat kota Bojonegoro, yang dijawab bahwa pusat kota memang tidak di situ. Tapi memang, hanya terpusat di satu jalan yang letaknya jauh baik dari hotel tempatku menginap maupun dari kedua kantor yang kukunjungi. Menurut pihak hotel, wisata yang sedang terkenal adalah Api Kayangan. Bentuknya semacam api abadi, sehingga akan jauh lebih menarik jika dikunjungi di malam hari.

Makanan khas Bojonegoro adalah pecel. Rasanya seenak pecel Madiun atau Kediri. Sedang oleh-oleh yang terkenal adalah Ledre. Bentuknya seperti kue semprong (malangan: opak gambir) yang -menurut orang sana juga- dibuat dari pisang. Rasanya sedikit manis dengan rasa pisang yang samar. Kalo pengin nyobain, tuh masih ada sebagian di kostan. Hehehe…

Hari Rabu siang, aku sudah berada dalam perjalanan menuju Tuban. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke sana. Sebelum masuk kota, kami melewati Goa Ngerong. Letaknya di pinggir jalan, di bawah jembatan pula! Sekilas aku melihat beberapa orang lagi mandi. Menurut pak Sopir, gua tersebut dihuni oleh ribuan kelelawar. Melengkapi keterangan pak Sopir, kubaca di brosur hotel bahwa di sana juga ada ribuan ikan yang sayangnya tidak bisa dikonsumsi karena makanannya adalah kotoran kelelawar-kelelawar itu dan biji kapuk (ckckck…langsung ditelen gitu?!) Eh, jadi orang-orang tadi mandi bersama ribuan ikan, ya?!

Gua NgerongGerbang masuk tempat wisata Gua Ngerong (gambar dari http://www.abay-kun.blogspot.com)

Tuban terletak di bagian utara Jawa Timur sehingga termasuk jalur pantura. Karena dekat laut, udaranya jauh lebih panas daripada Bojonegoro. Tanahnya sebagian besar tersusun dari kapur, yang menyebabkan Tuban memiliki banyak gua. Selain Gua Ngerong tadi, ada juga Gua Akbar yang ditemukan di bawah pasar besar Tuban (aku belum pernah ke sana, jadi aku ga akan cerita) dan Gua Maharani (sebenarnya masuk Tuban apa Lamongan ya?) yang sudah tertata baik dan pemandangannya bagus banget (aku dah kesana 2 kali).

Selain wisata gua, Tuban kalo ga salah juga memiliki wisata pantai. Namun sayang, pantai yang dekat hotel adalah pelabuhan nelayan yang airnya alih-alih berwarna biru, ini malah berwarna coklat. Diceritakan bahwa dahulu Laksamana Cheng Ho mendarat di pelabuhan itu (menurut sejarah, Cheng Ho memang pernah medarat di Tuban). Terkait cerita tersebut, di pinggir pantai terdapat satu klenteng yang bentuknya cukup unik. Di atas gerbangnya, bertengger seekor kepiting besar! (aku lewat saja, ga sempet masuk)

pintu masuk klenteng Cheng HoJadi pengin makan… (gambar dari http://www.kelenteng300.blogspot.com)

Setelah makan malam, kami sempat puter-puter kota. Seperti biasa, tujuan utama adalah alun-alun. Kata orang sana, Tuban punya Disneyland!! Namanya: Masjid Agung Tuban.

Masjid Agung TubanHehehe, habisnya masjidnya lucu banget. (gambar dari http://www.bocahbancar.wordpress.com)

Di satu sisi alun-alun, terdapat makam Sunan Bonang, salah satu dari 9 wali yang pernah menyebarkan ajaran agama Islam di pulau Jawa. Katanya kalo lagi haul, jalan di situ bakalan macet banget. Untunglah malam itu lagi sepi. Sekilas kulihat, bersebelahan dengan gerbang kompleks makam Sunan Bonang, berdiri sebuah gedung berwarna putih dengan nuansa Belanda: Musium Kambang Putih.

Yah, hanya itu beberapa tempat yang sempat kulihat. Kalo soal makanan, seingatku Tuban terkenal dengan air dan buah siwalan, cuma kemaren ga sempat icip. Pohon siwalan bentuknya seperti pohon kelapa. Daunnya yang terkenal dengan nama lontar dahulu dipakai orang sebagai media menulis. Air siwalan kalo kebanyakan diminum bisa memabukkan yang memang merupakan bahan dasar pembuatan tuak.

Oleh-oleh? Mengingat tempatku menginap berasa di dekat pantai, pusat oleh-oleh penuh berisi makanan berbau ikan seperti rengginang udang, kripik dan krupuk ikan, ikan-ikan yang diawetkan, hingga trasi. Akhirnya aku pulang bawa ikan asin! Lumayan, penambah gizi anak kost. 😛

Kamis siang, kami harus segera kembali ke Surabaya. Penerbangan sore jam 5 cukup mendebarkan, apalagi kalo ingat cerita de Saint Exupery tentang Terbang Malam. Sialnya, pesawat benar-benar sempat mengalami keadaan darurat karena cuaca yang buruk. Arrggh… serem sekali melihat kilat dari atas. Tapi sebelum bertemu kilat, aku menikmati sekali pemandangan langit senja yang bersemburat jingga. Ternyata, awan bisa tampak seperti daratan dengan gunung dan dataran rendah yang terhampar, bergumpal-gumpal seperti kapas. Setelah lepas dari badai pun, aku masih sempat melihat keindahan lampu-lampu Jakarta di malam hari. Ah, kota ini kadang cantik juga. Hm, jadi pengin terbang lagi… hehehe…

Catt: saking antusiasnya terbang, di penerbangan pertama keudikanku “tercium” oleh Bapak yang duduk di sebelahku. Waktu snack dibagikan, aku minta teh panas. Karena perutku masih bergolak akibat sarapan oatmeal jam 4 pagi, aku mencoba meredakannya dengan menggenggam terus gelas teh panas itu, maksudku sih biar dapet angetnya. Tiba-tiba Bapak di sebelahku membuka meja yang ada di bangku depannya. Padahal tadi dia tidur-tiduran dan menolak segala makanan yang ditawarkan pramugari. Kami berpandangan, kemudian Bapak itu menutup mejanya kembali dan… ups, aku baru sadar => jangan-jangan Bapaknya ngira aku ga tau kalo yang dilipat di depanku itu meja, karena aku terus memegang gelasku, jadi beliau ingin memberi aku contoh “cara membuka meja di pesawat”. Hahaha, iya Pak. Maklum, pertama kali terbang 😛

Iklan

9 thoughts on “Ngluyur?! (another story of ngluyur)

  1. Assalamu’alaikum..

    cerita soal bojonegoro, jadi kangen mau pergi ke sana..

    salam jawa..

    Jazakallahu khayran

    => Wa’alaikumsalam.

    Bojonegoro tempat yang tenang. Udaranya juga nyaman, ga terlalu panas/dingin.

    Hehehe, salam Jawa! 🙂

  2. jadi ingat penerbangan pertamaku… hehehe…
    menyenangkan ngeliat awan dari atas… kayak pulau, jadi pengen mampir…

    => iya, jadi pengin lompat dari pesawat… keliatannya empuk. Hehehe 😆

  3. senyum-senyum baca cerita ‘catt’.
    awannya bagus bgt y dari pesawat, kaya dinegeri dongeng…

    => Hehehe…
    Iya, bagus banget! ^-^

  4. Subhanallah… Bagus bener masjidnya!! @_@ Sungguh terharu saya… 🙂

    *membayangkan nanti bekerja banyak bepergian ke luar kota*

    => Hehehe, iya, sebenarnya bagus. Cuma gara-gara malam itu aku sudah terprovokasi dengan bayangan “disneyland”, aku jadi ikut2an menganggapnya lucu.

    Sering jalan?! Hm, ga tau juga. Kan semua tergantung apa pekerjaan kita. ^-^

  5. Terima kasih foto alun-alun Bojonegoro ditempelkan,he he he….
    sekarang alun-alun nya dirombak total lho….

    => hoho, maaf ya ga di-link. Postingnya keburu, jadi kalo pake nge-link2 jd lama. :p

    O ya? pagi itu saya naek becak, udaranya bagus ^-^

  6. mohon info menginapnya di hotel mana ya?

    => hiks, saya sudah lupa nama hotelnya pak… Kalo ga salah deket alun2 (ke alun2 tinggal jalan kaki). Bentuknya kaya wisma gitu. Maaf tidak terlalu membantu:(

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s