Ngluyur (part 3)

Hari minggu kemarin, sepulang dari tahsin, aku sengaja ke kantor untuk menyelesaikan beberapa keperluan. Lepas dhuhur dan setelah menunaikan ibadah sholat, aku berniat pergi ke kantor pos untuk membeli materai (hasil dicerewetin satu orang di kantor *huh!*). Menyusuri jalan Lapangan Banteng Timur, sampailah aku di Kantor Pos Pusat. Tentu saja, kantor pos tutup di hari minggu! Dudul banget dah!

Karena hari masih siang (pukul 13.00), aku iseng jalan terus ke utara, ke arah pasar baru. Maka tercetuslah ide “ngluyur” (lagi! hehehe). Padahal tas-ku sedang berisi PR yang harus segera diselesaikan. Ah, biar deh…

Persinggahan pertamaku adalah Gedung Kesenian Jakarta. Letaknya di dekat halte busway Pasar Baru. Aku baru tahu kalo gedung ini ada di sana. Melihat arsitekturnya, kupikir itu adalah sebuah museum. Namun setelah bertanya pada satpam, ternyata gedung tersebut masih aktif digunakan dan saat itu sedang diadakan pertunjukan balet. Wah, masuknya mbayar donk, Pak?! Yang langsung di-iya-kan sama si Bapak. Ah, kalo bayar sih, mending aku ga usah masuk. Hehehe…

Gedung Kesenian Jakarta

Berseberang jalan dengan Gedung Kesenian, terdapat sederet “kios” pelukis. Di sini orang bisa membeli lukisan ataupun memesan lukisan wajah/karikatur dari foto. Aku suka liat karikatur-karikaturnya. Ada satu yang menarikku, yaitu karikatur “masa jaya” Bapak AA yang pada saat ini sedang terjerat kasus pidana. Ah, Bapak, padahal saya kan nge-fans ma Bapak…

Deretan para pelukisGa berani motret lukisannya, takut melanggar hak cipta 😛

Menyeberang jalan, sampailah aku di gerbang Passer Baroe. Dari tulisannya, pasar ini berdiri sejak 1820. Wah, harusnya ganti nama tuh, kan banyak yang lebih baru dari dia… 😛

Namun sebelum masuk, mataku tertumbuk pada pita besar di atas gedung di sebelah kiri. Aku mendekat, dan ternyata itu adalah Gedung Dharma Bhakti Antara. Rupanya sedang diadakan pameran foto. Temanya Mind Passion, berlangsung dari tanggal 28 April-16 Mei 2009. Aku yang ga ngerti fotografi, memberanikan diri untuk masuk setelah melihat stiker “free of charge”. Kqkqkq.

Suasana pameran foto Antara 2009

Suasana pameran foto Antara

Ini adalah kali pertama aku ke pameran foto dan… aku terkagum-kagum! Aku jadi berpikir,  fotografi itu hebat ya, bisa menampilkan dunia dengan cara yang berbeda. Selama ini aku sering frustasi karena saat melihat sesuatu yang bagus, setelah kupotret, hasilnya jauh dari yang kuinginkan. Sebaliknya, pada foto-foto yang ada di sana, aku rasa seandainya aku yang melihat obyek aslinya, aku akan menganggapnya biasa saja. Namun setelah menjadi suatu foto, dengan pengambilan sudut gambar tertentu dan teknik-teknik yang aku ga tau namanya, foto itu seolah bercerita. Rata-rata berisi kritik sosial yang sangat menohok dan bikin aku senyum miris. Foto-foto tersebut secara umum dikelompokkan menjadi 2 jenis: foto beberapa orang yang tema dan tekniknya masih berkaitan, dan beberapa foto yang memang khusus mengambil tema-tema tertentu, misal tentang perjuangan seorang bidan di Kepulauan Seribu, kisah para pencari pasir Merapi, serangkaian foto tentang reruntuhan rumah seorang kapitan Cina, dsb.

Aku tak akan berpanjang lebar dengan fotografi karena memang bukan keahlianku. Aku sempat naik ke lantai 2. Di sana terdapat beberapa barang kuno yang dipakai para wartawan Antara tempo dulu, foto-foto para pendiri Antara, kisah/sejarah Antara, cuplikan berita-berita jaman dulu, dan beberapa foto jadul. Sayangnya aku tidak berani berlama-lama karena sepertinya ruangan itu masih difungsikan sebagai kantor (ternyata sebenarnya itu daerah restricted area, cuma karena ga tau dan ga ada yang nglarang, ya aku naik aja ^^).

Keluar dari Gedung Antara, aku masuk ke Pasar Baru. Tujuan pertama: cari makan. Waktu juga sudah menunjukkan pukul 2 kurang seperempat. Karena pengin irit, aku masuk ke gang kecil antara Toko Bata dan Toko Buccheri, melewati deretan WC umum, dan sampailah aku di aku di Warung Semarang. Makanan di sana lumayan enak, dengan harga yang murah, dan sangat cocok dengan lidah Jawa. Yah, kalau jijikan sih, ga kuanjurkan. Di dekat situ, ada rujak serut yang sangat enak, favorit orang-orang kantorku. Tapi harus jeli, karena penjualnya kadang suka ganti. Yang enak itu yang bumbunya langsung dibuat di tempat, digerus sesuai permintaan pembeli. Jadi beneran fresh. Hm, bintang 4,5 deh buat rujaknya!

Bagiku, pasar baru merupakan tempat yang aneh. Ada banyak toko kain, toko sepatu mahal, money changer untuk uang jadul, hingga penjual makanan-makanan khas Jakarta. Lucunya, lagu yang berkumandang di sini malah lagu India (bikin pengin joget:P). Namun seperti biasa, aku males jalan-jalan belanja. Aku cuma membeli 2 komik 3000an di depan Gramedia, dan barang lain yang tak perlu kusebut apa. Sempat terpikir untuk mampir dengan ke toko Melati. Toko ini sepertinya sudah berdiri dari lama, menjual berbagai barang peralatan rumah tangga. Tapi aku urung, karena tiap masuk ke sana aku jadi pengin dan ngebayangin punya rumah sendiri, punya suami, punya anak… hehehe. Habisnya, semua barang lucu-lucu itu ga bisa dibeli oleh lajang sepertiku. Bukan karena ga mampu, tapi karena ga butuh. Sayang sekali. 😦

gerbang passer baroe

Keluar dari Pasar Baru pukul 3 sore. Argghh…PR-ku!! Tapi ga nyangka, minggu ini masih sempat ngluyur juga. Hehehe…^-^v

Iklan

7 thoughts on “Ngluyur (part 3)

  1. di Pasar Baru cocoknya ya beli sepatu….
    hehehe…
    gak mahal kok,,,karna di situ dah diskonan smua…
    emang merknya merk2 mahal,,,tapi masih cucok lah ma kantong kita,,,spatunya lucu2 lagi…hehehe…
    i love it!!! ^^v

    => Oh, iya juga sih, ada yang sesuai kantong. Tapi lom pernah nemu yang sreg. Kakiku emang susah banget kalo mau nyari sepatu/sendal 😦

  2. wah muter2 enak yah, kapan2 dicoba ah. Penasaran tu ama Gedung kesenian Jakartanya.

    => Emang kapan mau ke jakarta, wis?! Iya, sebenarnya penasaran juga. Tapi takut masuk kalo misalnya pertunjukannya balet, biola, resital piano, dsb. Takut mbayarnya mahal… hehehe

    Ga tertarik pameran fotonya?! ^-^v

  3. *ngebayangin juga nanti pas kerja praktek*

    ^^

    => Oh, emang udah tradisi ya kalo anak2 “MIT” tu kerja prakteknya di sini?! Pantes, temen2 seangkatanku dulu banyak yang ke marih 🙂

  4. Ping-balik: Ngluyur: Nggolek Mala « C’est Moi!

  5. Gedung Kesenian awal dibangunnya 1811 deketan dengan Pembangunan Gedung Induk (A.A. Maramis I) yg dibangun 1809, sama-sama masa pemerintahan Daendels.

    Awalnya gedung kesenian berdinding bambu dan atap rumbia baru pas jaman Raffles dibikin gedongan, sementara Gedung Induk baru kelar jadi pas jaman Du Bus *itulah kenapa di prasasti tulisannya ada nama Du Bus*.

    Selain sebagai gedung kesenian (fungsi awal dan sekarang) pernah juga jadi Markas tentara, tempat sidang KNIP, Fakultas Ekonomi & Hukum UI, Akademi Teater bahkan Bioskop.

    => Wah, bapak tau sejarahnya. Matur nuwun atas infonya pak..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s