Yang Pertama

Akhir-akhir ini aku merasa, kebanyakan tulisanku berisi tentang pengalaman pertama. Rata-rata sih berupa hal-hal ga penting seperti pertama kali naik pesawat, pertama kali ke musium, pertama kali dateng ke pameran foto, dll.

Ah, kenapa ya, aku suka mengingat sesuatu yang terkait dengan “pengalaman pertama”?! Atau sebenarnya kecenderungan ini bukan pada diriku saja?

Khusus pembaca perempuan, boleh lanjut… hehehe ^-^v


Malam itu aku sudah diambang batas ketahanan tubuhku. Ngantuk banget, padahal deadline PR yang kukerjakan adalah besok. Lagipula ngantuk-ngantuk gitu, playlistku malah kuisi dengan lagu-lagu keroncong. 😆 Untuk mengusir kebosanan, maka aku menyapa seorang kawan lama via sms. Ternyata dia juga sedang mengerjakan tugas kantor. Maka mulailah obrolan a la cewek yang tentunya ga akan pernah jauh dari hal itu: urusan asmara! Hehehe. Ceritanya kawanku ini habis putus ma pacarnya. Ga perlu membahas kehidupan orang lah. Intinya aku minta maaf karena ga bisa mengerti perasaannya, karena aku ga punya pengalaman seperti itu. Aku sarankan, kalau dia udah mengambil keputusan seperti itu, maka sebaiknya dia konsisten dengan keputusannya. Dia jawab, susah nur. Trus aku nanya: emang berkesan banget ya?

Dan jawaban yang tak kusangka: He2. Berkesan coz dia cowok pertama yang menyentuhku.

Aku yang lagi setengah ngantuk langsung melek. Aku pun menggodanya: lho, menyentuh apa nih? Malem-malem gini aku tambah ngeres lho… (ngeres=piktor) Dia mempersilakan aku mengartikan sesukaku. Ah, tapi aku tahu persis, kawanku ini tak akan pernah melakukan sesuatu yang melanggar batas.

Aku jadi ingat percakapan ngalor-ngidul beberapa tahun lalu dengan salah satu mbak. Entah gimana caranya, obrolan tiba-tiba sampai kepada masalah ciuman. Maka mbak ini pun menasihati aku: jangan sampai melakukannya sebelum nikah, nur…

Aku dengan tampang lugu bodohku bertanya: emang kenapa, mbak?

Jawaban yang tidak kusangka pula kudapat: bikin nagih! jawab mbak yang menurut pengakuannya baru sekali melakukannya itu.

Ups! Oh, begitu, ya?!  Tapi sepertinya memang perempuan itu rata-rata akan menyimpan kenangan tentang “pengalaman pertama” selamanya. Aku pernah menemukan sebuah foto laki-laki yang disimpan oleh seorang wanita yang sudah menikah belasan tahun dengan laki-laki lain yang bukan laki-laki di foto itu. Aku tak bertanya kenapa wanita itu menyimpan foto usang tersebut. Tapi aku bisa menduga, bila tidak berkesan –bisa jadi cinta pertama atau paling tidak pacar pertamanya- maka tidak mungkin wanita itu akan terus menyimpannya.

Aku sendiri masih ingat “kebaikan laki-laki” yang pertama ku terima. Waktu TK dulu, sebagai ketua kelompok, visiku memang membuat anggota kelompokku selalu bahagia, sehingga aku hampir selalu mengalah untuk semua mainan. Selalu saja aku hanya kebagian puzzle bergambar aneh mengerikan yang saking seringnya kudapat, kurasa aku bisa menyusunnya dengan mata tertutup. Jika sedang main ayunan panjang pun, aku kebagian mendorong. Suatu hari, saat sedang jenuh di kelas, aku keluar dan melihat teman laki-lakiku sedang bermain ayunan seorang diri. Aku menghampirinya, bertanya apakah dia suka dengan mainan itu, tanpa berani berkata bahwa aku juga ingin main ayunan seperti dia. Tiba-tiba dia mempersilakan aku untuk memakai ayunan yang sedang dia pakai. Saat itulah untuk pertama kalinya, aku begitu terharu, karena ada seorang teman yang mau mengalah padaku, memberikan sesuatu yang berharga padaku. Aku lupa nama temanku itu, tapi aku ingat, di antara anggota kelompok, dia yang gambarnya paling bagus. Kegemarannya menggambar pesawat terbang. Tuh kan, yang begini saja aku masih ingat… hehehe.

Kesimpulanku, sebagai wanita, maka kita benar-benar harus ekstra hati-hati terhadap “pengalaman pertama”. Entah itu “melakukan sesuatu” atau sekedar “memberikan hati pada seseorang”, karena semua itu akan terus melekat dalam kenangan, mengendap diam-diam di sana dan tak mau hilang. Maka benarlah kata seorang kawan: berikan hatimu untuk suamimu saja.

NB: Tapi kadang ada juga yang saking keseringannya, jadi lupa kapan kejadian “pertama kali” yang dia alami. Wah, berarti harus sering-sering melakukan biar ga jadi kenangan, ya? Haisyah, kok jadi mengerikan… Kalo yang ini sih, aku sangat tidak menganjurkan. 🙄

Iklan

7 thoughts on “Yang Pertama

  1. hehehehe….

    tak kan pernah ada yang lebih indah dari ‘pengalaman pertama’…

    ^^v

    => Eh, iya ya…postingan ini lumayan cocok buatmu ya fi… kan kemaren abiz pertama kali makan “itu”, pertama kali “ngluyur”… hehehe. Bedanya kalo aku ngluyur sendiri, tapi dirimu ada yang nemenin. Kqkqkq…piss ya mbaaakk ^-^v

    • waduh…waduh…maksude opo iki Nur???
      hehehe…

      yo kamu mo ada yang nemenin juga po???
      ayo,,,ikutan kami jalan ajah,,,ben ono barengan-e ngluyur…hehehe…
      eh,,,ini serius loh tawaran-e…
      🙂

      ada ide buat ngluyur kmana lagi gak Nur???hihihi…

      => Hehehe, ampun fi… ga da maksud apa pun lho…

      Hm, boleh juga ngluyur bareng. Cuma kayaè minggu ni aku mau istirahat. Mau nonton Gokusen aja ^-^v

      Kemaren lewat deket monas, aku pengin ke museum nasional. Ada kalender kasubbag yang berisi foto2 barang2 di sana. Kayaè bagus. Sekitar situ juga banyak obyek lain. Tertarik?! tapi ga tau kapan…

      Eniwei, aku masih penasaran ma Ragusa-nya lho fi… kqkqkq 😆

      • Ayo ke Ragusa lagiiiiiiiii….hehehe…
        mantaaabbb Nur es krimnya…
        😛
        (biar Nur makin mupeng…hehehe…)
        ^^v

        => Fifi!!!! Kamu harus bertanggungjawab atas kemupenganku. Wes ngiler2 iki… 😦

  2. ahummmmmm….
    tetep inget koq nur..

    *loh koq curcol hahaha..tapi cuma inget doank…g lebih 🙂

    => Hehehe, kalo ceritanya se-“dahsyat” itu sih emang bakalan susah banget lupa mbak… hehehe

    Mungkin gapapa, diinget, tapi ga untuk diinget-inget terus 🙂

  3. pengalaman pertama kaliku ngeblog kapan yahhh???

    be-te-we, menganggapi sesuatu yang “bikin nagih”, itu kan sbenernya lebih banyak disebabkan oleh nafsu kita kan? Jadi…

    makanlah pas nggak ngerasa laper, belajarlah pas males belajar, tidurlah pas nggak ngantuk, cintailah pas nggak mencintai, dan mungkin beribadahlah pas nggak mau beribadah???

    => Wah, ni masuk kriteria kedua ya? yang keseringan jadinya malah lupa…^-^

    Hehehe, mungkin juga.

    Paragraf ketiga aku ga mudheng Wis… cuma kalimat cintailah pas nggak mencintai bikin aku inget ma “teorema cinta”-mu. 😀

  4. Pengalaman pertama memang kadang berkesan. Hal yang biasa saja pun bisa terasa istimewa.
    Tapi, banyak yang pertama yang kulupa…
    Mungkin karena aku ga menganggapnya istimewa, mungkin juga karena aku pelupa…
    🙂

    => Hm, entah. Aku bukan orang yang pandai menganalisa. Mungkin memang ini tidak berlaku ke banyak orang. Mungkin karena memang aku selalu antusias terhadap hal-hal kecil, semua jadi tampak istimewa. Tak apa kok Ren… ^-^

  5. Saat membaca “Khusus pembaca perempuan, boleh lanjut… hehehe ^-^v”, aku langsung klik tulisan “Lanjut Baca”
    (kalau dilanggar malah penasaran)

    aku ga setuju kalau cuma perempuan aja yang akan mengingat segala hal mengenai “kesan pertama” akan sesuatu, karena ini terjadi juga padaku, bahkan juga berlaku untuk semua laki-laki dan perempuan, atau semua makhluk hidup. (ya hewan, ya tumbuh2an, bahkan mungkin makhluk halus juga)

    karena yang dibahas di atas adalah asmara, aku juga ingin curcol sedikit. aku juga tidak bisa melupakan “kisah” asmara pertamaku, dan aku dibuatnya tersiksa. untung belum pernah ciuman, tapi apa bener ya bikin nagih? jadi kepengin!
    *tandukku udah mulai keluar kayaknya*

    => Oh, cowok juga ya? hehehe, harusnya aku inget kamu dulu baru bikin tulisan ini ya?! kqkqkq…

    Iya, tau, “kisah asmara pertamamu” itu.
    Eh, tuh kan, jadinya keluar tanduk. Kan udah kubilang kalo ini khusus pembaca perempuan. Larangannya dilanggar sih… Aku ga tanggung jawab! :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s