BBB (Benar Benar Bodoh)

Setelah sukses dengan ngluyur 1, 2, dan 3, mungkin memang tiba saatnya aku mengalami apes. Karena cerita berikut akan penuh dengan kesedihan, kemeranaan, dan ketidak-beruntungan, jadi cerita ini juga akan penuh dengan ketidak-jelasan.

Hari Sabtu lalu, 9 Mei 2009, sebenarnya aku sudah berencana menghabiskan hari dengan berleha-leha di kosan setelah dua minggu yang sangat melelahkan, sekalian mengurus DPT ke Kelurahan. Ternyata hari Kamis malam, Siko memberi tahu tentang akan diadakannya suatu pertemuan yang sangat menentukan masa depan study-ku. Aku sempat bimbang, meskipun pada hari Jumat siang aku sudah memutuskan untuk pergi ke Bintaro dengan KRL. Namun tak dinyana, Jumat sore, pekerjaan yang kukerjakan selama seminggu terakhir harus direvisi dengan deadline hari Senin. Sementara ada pekerjaan lain yang juga jatuh deadline hari Senin. Hiks! Akhirnya dengan sangat sedih, aku kembali merubah rencana menjadi: pergi ke kantor di hari Sabtu.

Hari Sabtu pagi, pukul 09.30, aku sudah stand by di depan komputer kantor. Langit di luar mendung, sehingga udara pengap dan panas (gara-gara AC ga dinyalakan) yang biasa menyiksaku kalo lagi lembur-di-luar-jam-kerja tidak begitu berasa. Padahal aku sudah bersiap dengan memakai baju yang lumayan tipis. Pukul 12.00 pekerjaan tak kunjung memperlihatkan tanda-tanda akan selesai. Langit tambah gelap. Hujan mulai turun dengan suara guntur menggelegar bersahutan. Aku mengeluh sedih, sesak oleh rasa sepi. Pukul 01.00, aku mulai berkhayal, andai ada seorang malaikat yang bisa kupanggil untuk menemaniku. Pukul 02.00, listrik tiba-tiba mati. Aku tak bisa menelepon satpam di bawah karena telpon intern entah mengapa ikutan mati. Aku menjerit dalam hati, semakin merana dan putus asa. Sungguh berat bila harus turun 17 lantai ke bawah lewat tangga yang gelap, sendirian pula! Untunglah, lima menit kemudian listrik kembali menyala. Seperempat jam sesudahnya, seorang teman seruangan datang. Bukan malaikat memang, tapi aku sungguh bersyukur akan kedatangannya itu. Makasih Nyomen. ^-^

Aku masih meneruskan pekerjaan hingga pukul setengah 4. Sudah 90% selesai. Aku ingat ada seorang teman blogger, yang akhirnya menjadi teman fesbuk, hari ini meluncurkan buku keduanya. Aku memang tidak pernah bertemu dengan mas ini, namun aku diundang via fesbuk ke acara peluncuran itu. Bertempat  di museum Bank Mandiri, pukul 01.00-05.00. Aku sebenarnya tidak yakin, bila aku tetap ke sana, apakah acara itu masih berlangsung. Tapi karena Kota hanya berjarak setengah jam saja dari kantor, maka aku iseng saja berangkat –itung-itung mampir-.

Sayangnya, angkot M12 yang kutumpangi malah ngetem lama di depan Pasar Baru. Pukul empat lebih, aku baru bisa menginjakkan kaki di museum Bank Mandiri. Tak seperti kedatangan pertamaku ke sana, hari itu Museum BM lagi ramai sekali. Ada beberapa rombongan tur dan ada event nonton bareng Rider Digest Indonesia. Aku tidak nyaman dengan keriuhan itu. Tak kurasakan hawa syahdu yang membuatku terpesona dulu. Aku mencari acara peluncuran buku, namun aku hanya menemu pertunjukan deklamasi puisi dari satu perkumpulan sastra. Kalo ga salah, namanya “Komunitas Sastra Rabu Malam”. Aku clingak-clinguk di depan meja penerima tamu, mencari buku mas tersebut, tapi ga nemu. Setelah seharian dirundung kecewa, aku ga tahan terus berada di sana. Ya sudah, cabut aja deh!

Setelah berdesak-desakan di halte Kota, aku naik TJ jurusan Blok M. Turun di Harmoni, berdesakan lagi, naik ke jurusan Pulogadung. Perut-Jawa-ku mulai perih. Siang tadi memang hanya kuisi teh, sebuah pear, dan sepotong roti. Pikiranku masih melayang-layang mengingat segala kemeranaanku hari ini. Lepas halte Senen, aku berpikir, gimana kalo makan teppanyaki saja?! Di ITC lantai 5 ada gerai teppanyaki yang belum pernah kukunjungi mengingat Ncep ga suka masakan Jepang. Mumpung lagi jalan sendirian, kupikir ga ada salahnya aku mampir.

Halte Rawasari Selatan sudah lewat. Aku turun di halte Cempaka Mas. Langsung naik lift ke lantai 5. Stand teppanyaki mengingatkanku pada kedai soba. Aku memesan Chicken Teppanyaki. Masakan di-“goreng” langsung di depanku di atas “meja panas” (ga ngerti istilah2e). Tak seberapa lama, terhidanglah di depanku semangkok nasi putih beserta piring berisi:

  • setumpuk besar sayuran terdiri dari kol, tauge, dan wortel yang diiris serampangan, dibumbui garam dan merica;
  • dua potong tofu;
  • beberapa potong daging ayam yang dipotong bentuk dadu, disiram dengan saus teppan.

Entah mengapa, melihat masakan yang tampil acak-acakan itu, seleraku langsung menguap. Setelah mencicipi pun, ternyata rasanya memang amburadul. Belum lagi teh hangat yang disajikan dalam gelas plastik. Sangat-sangat tidak bercita rasa. Pelajaran buatku: jangan membeli masakan Jepang di tempat yang ga jelas. Tapi berhubung aku sedang kelaparan berat dan takut maag-ku merajalela, dengan terpaksa kuhabiskan juga makanan itu.

Setelah kenyang, aku disodori bon. Total habis 21 ribu. Aku merogoh tas, dan…astaghfirullah! Aku tak menemukan dompetku!! Hanya ada dompet wadah hp. Uang tersisa 20 ribu. Aku aduk-aduk tas, isinya cuma buku LAKIP dan barang-barang ga penting lain. Ga ada kartu ATM. Aku pucat. Bilang ke mbak-nya kalo aku lupa bawa dompet. Mbaknya setengah ga percaya. Mungkin berpikir, “Ni orang berani makan masakan Jepang, padahal ga kuat bayar!”. Aku menyerahkan uang 20 ribu. Mbak nya bilang, “Ga papa deh mbak, kurang seribu ini”. Mungkin kasihan padaku, mungkin mengejekku. Aku berpikir, apakah aku harus meninggalkan identitas, trus pulang dan balik lagi melunasi kekurangan?! Tapi kartu identitas yang kubawa cuma kartu NPWP dan kartu pegawai, ga ada KTP. Meninggalkan kartu pegawai pasti sangat memalukan. Masak pegawai departemen XXX ga punya uang? Atau kartu NPWP? Ah, kenapa pula aku bawa-bawa kartu ini?!

Di tengah kekalutan, aku menelepon Ncep. Memintanya menolongku. Alhamdulillah, Ncep bersedia. Aku menunggunya datang sambil cengar-cengir ga jelas. Memasang status di fesbuk: Benar-benar bodoh!!! Sudah pukul 05.45 ketika Ncep datang. Setelah membayar kekurangan, aku dan Ncep pergi. Ternyata dia kelaparan. Ganti aku mengantar Ncep ke KFC. Setelah makan, kami ke mushola. Sholat magrib. Sesudahnya, kami masuk lagi. Ncep ambil tambahan uang di ATM, aku masuk duluan ke Gramedia di Lower Ground. Aku mencari buku “Dawai Cinta di Kala Senja” itu, tapi ga nemu. Ncep mencari buku untuk bahan kuliahnya, juga ga nemu. Tiba-tiba perutku mules. Mungkin dampak makan telat plus ga jelas. Lagipula baju yang kupakai memang tidak layak diajak jalan malam. Aku menghiba ke Ncep, memohonnya untuk segera pulang. Sambil jalan pulang aku “meminta ampun” atas perbuatanku menyeretnya ke dalam masalahku. Udah memaksanya datang, sekarang memaksanya pulang. Ncep bilang gapapa. Sudah selayaknya seorang sahabat menolong sahabatnya. Aku malu. Akhir-akhir ini memang hubungan kami sempat renggang.

Ncep, ribuan terima kasih pun tak akan cukup untuk menggambarkan betapa aku sangat bersyukur akan kehadiranmu di hidupku.

Ini serius, dari dalam hati. Kita sudah membahasnya malam itu, bukan?!

Iklan

7 thoughts on “BBB (Benar Benar Bodoh)

  1. Wah, cerita yang mengharukan… 🙂
    Persahabatan bagai kepompong…

    Besok2 lebih ati2 Nur. Ingat2 bawa uang dan kartu identitas kalo bepergian. Selama ini meski dituduh pelupa, untuk dua hal itu aku berusaha selalu mengingatnya dalam kepalaku di urutan pertama.

    => Hehehe, iya ren… baru kali ini aku ketinggalan dompet 😦

    Biasanya kalo perginya deket2 kaya ke indomart, aku bawa identitas seadanya (NPWP itu, hahaha) Dan kalo jauh, musti bawa KTP + name tag (secara KTP-ku bukan KTP Jakarta). Entah kenapa, hari itu nge-blank banget. Mungkin keterlaluan stress-nya… T-T

  2. bukan bodoh, masalahnya saya nggak ngeliat satu pun kebodohanmu di ngluyurmu hari ini. Yang saya tangkap adalah ketidaksesuaian antara apa yang kamu harapkan dengan kenyataan. Tapi karena itu kan, setiap orang selalu keep on ngeluyur, mencari kenyataan diantara sejuta impian…

    => Iya. Betul. Memang hari itu banyak hal yang tidak sesuai kenyataan. 😦

    Baiklah. Aku tetep ngluyur, dirimu tetep mblusuk ya Wis?! ^-^

    Tapi mencari kenyataan diantara sejuta impian…?? Sepertinya aku hanya ingin menyingkirkan kegundahan.

  3. keinginanmu menyingkirkan kegundahan bukankah itu impian juga? Dan kamu mencari kenyataan itu…

    => Oh, jadi termasuk impian, ya? selama ini aku tak pernah merumuskannya seperti itu…

    Impianku sesederhana “ingin hidup bahagia”. Mungkin memang, menyingkirkan kegundahan adalah salah satu cara mewujudkannya. Tapi aku merasa, ngluyur sebenarnya bukan solusi terbaik. Bersyukur memang cara yang baik. Namun sebagian hatiku bilang, seharusnya masih ada cara lain, yang lebih tepat. Hanya aku belum tahu itu apa…

  4. aku ingat statusmu itu de fesbuk : Benar Benar Bodoh.
    tapi aku ga peduli, aku juga lagi merasa berbuat bodoh saat itu. hehehe.
    perasaan KTP dan uang kecil selalu ada di dompetku deh, jadi kecil kemungkinannya kalau sampai lupa.

    btw emang biasanya kamu pakai kata apa selain “aku” atau “ku”, nur? apakah “saya”, “guwe”, “inyong”, atau “ogut”?

    => Uang kecil?! OK, aku masih punya 20 ribu. Tapi tentu saja uang kecil ga akan cukup buat mbayar makanan Jepang 😀

    Cuma ngeliat tu tulisan kalimatnya pendek2, bersubyek “aku” semua. Jadi sebel sendiri. “Saya” kadang kupakai. “Guwe”?! Logatku medhok gini, ga pantes ngomong kaya gitu. “Inyong”? Sejak kapan aku jadi orang Tegal? “Ogut”? Kamu masih penasaran dan mencurigai “mas” itu, pin?! 🙄

  5. Ping-balik: Ngluyur: Nggolek Mala « C’est Moi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s