Kuliah 2: Cinta dan Pernikahan

Memenuhi tugas kedua mahasiswa pemula, saya terpaksa membongkar kembali koleksi buku saya. Dari dua tema yang diberikan, kebetulan saya punya buku baik yang terkait dengan pernikahan maupun kesehatan. Namun kenapa saya milih tema pertama? Hahaha, semata karena buku yang ini yang sudah berhasil saya khatamkan. 😀 Sekedar antisipasi pertanyaan kenapa saya bisa memiliki buku ini: satu-satunya-buku-tentang-pernikahan-yang-saya-miliki ini diberikan oleh murobbiyah saya (dulu! Sekarang ga pernah liqo lagi :p)

Judul : Saatnya untuk Menikah

Penulis : Mohammad Fauzil Adhim

Penerbit : Pro-U Media cetakan ketiga Desember 2007

yang kupunya, covernya sih bukan kaya gini

Agaknya murobbiyah saya sangat tepat memberikan buku ini kepada lajangers seperti saya, karena buku ini memuat penjelasan tentang apa saja yang perlu dipersiapkan sebelum menapak ke jenjang pernikahan. Bila buku-buku tentang pernikahan umumnya “hanya” membahas pernikahan dari segi hukum-hukum Islam (ketahuan dah lumayan sering baca) atau (yang agak seru) tentang kehidupan setelah menikah, maka buku ini dengan bahasanya yang ringan mencoba merinci apa saja yang perlu dipersiapkan, apa saja yang perlu dilakukan sebelum menikah, bahkan jawaban bila “sang jodoh itu tak kunjung datang”.

Entah kenapa, saya yakin banyak di antara anggota mahasiswa pembaca yang sudah menamatkan buku ini dari lama. Maka sebenarnya saya tak perlu mengulas banyak-banyak, tokh semua orang juga sudah tahu. Oleh karena itu, uraian berikut hanya bersifat resume (subyektif) dari saya. Agar lebih mudah, saya akan merinci isi tiap bab-nya beserta highlight hal-hal yang menurut saya menarik:

1. Bekal yang wajib dipunya setiap orang yang akan menikah:

a. Bekal ilmu

Ilmu di sini adalah ilmu tentang rumah tangga, apa kewajiban dan hak suami/istri, dsb

b. Kemampuan memenuhi tanggung jawab

Di sini diingatkan kembali bahwa tanggung jawab suami tidak sekedar memberi nafkah finansial, melainkan juga nafkah batin

c. Kesiapan menerima anak

Meski banyak pasangan yang pengin punya bayi lucu, tetap saja harus diingat bahwa kehadiran anggota baru ini merupakan tanggung jawab baru yang harus diemban suami istri

d. Kesiapan psikis

Kesiapan emosional, menerima kekurangan pasangan, dan hal-hal lain yang tidak sesuai harapan

e. Kesiapan ruhiah

Kesiapan yang paling utama. “Sebab orang yang bagus kesiapan ruhiyahnya dapat mengarahkan dirinya untuk belajar apa yang belum ia memiliki ilmunya, berhati-hati dalam bertindak, serta mentaati orang-orang yang berakal.”

2. Khusus buat yang cowok:

a. Mengenal istri

“Cara untuk belajar menjadi istri yang terbaik, hanyalah melalui suami. Cara untuk menjadi suami yang baik, hanyalah melalui istri.”

b. Kesiapan memberi nafkah

Yang dipentingkan adalah kesiapan memberi. Dan nafkah tidak terikat dengan profesi. Jadi meski belum punya pekerjaan tetap, namun bila sudah mampu memberi nafkah atau sudah punya tekad yang kuat untuk memberi nafkah, maka monggo jalan terus. (Iya, kalo programmer yang satu program bisa laku berjut-jut ya aku rasa ga perlu pekerjaan tetap tuh :D)

3. Beberapa hal terkait jodoh

Apa yang nampak di luar tak selalu sama dengan apa yang ada di hati, karena itu lihatlah akhlaknya, bukan rupa. Dan laki-laki baik untuk perempuan baik, laki-laki jahat untuk perempuan jahat. Vice versa. Jikalau terjadi hal sebaliknya, mungkin itu adalah batu ujian untuk mukmin tersebut.

4. Kriteria sang Informan

a. Mengenal “calon” secara pribadi

Bahwa yang paling mengenal pribadi seseorang, adalah tetangganya, orang yang pernah seperjalanan dengannya, atau orang yang pernah berkonflik dengannya,

b. Tidak memiliki kepentingan khusus

(Ya kalo sahabat/sodara sendiri mana mungkin ngejelek-jelekin sih?)

c. Dapat dipercaya

d. Agama itu ada bekasnya

Jangan mencoba mengenali orang “hanya” dari perdebatan dengannya. Tapi cobalah liat amalan-amalan yang dia perbuat

Dari semua hal itu, boleh juga dipadukan informasi dari beberapa informan atau mengumpulkan informasi pembanding, sehingga datanya akan lebih valid.

5. Kriteria yang sangat tinggi

Kadang kita sendiri yang mempersulit pernikahan dengan mematok kriteria yang terlalu tinggi. Padahal, kadang kita lupa bercermin, apakah diri kita sudah layak bersanding dengan seseorang yang sesuai dengan kriteria kita itu? (ngarepin bidadari? ngaca dulu sono!)

6. Tentang nazhar (“melihat” calon suami/istri)

Proses ini ditujukan agar niat dari sang calon suami untuk menikahi sang calon istri akan semakin mantabz. Namun, sedikit timbul masalah. Ini terkait dengan hadist yang berbunyi “melihat apa yang tertarik untuk menikahinya”. Dari sini timbul pertanyaan, bagian tubuh manakah yang dimaksudkan boleh untuk dilihat itu? Karena Nabi s.a.w tidak memberi penjelasan, maka ada banyak penafsiran. Umar bin Khaththab diceritakan menyingkap kain Ummi Kultsum untuk melihat betisnya. Akhirnya ada yang berpendapat “muka dan telapak tangan” (yang tentu bertentangan dengan kisah Umar), ada yang berpendapat “leher, betis, tangan, dan bagian lain selain aurat” (ini diterima banyak pihak), dan ada yang berpendapat “seluruh tubuh” (tenang, saya juga menjerit waktu membacanya). Agar tidak timbul salah tafsir akibat penjelasan saya, saya harap sangat agar Anda membaca sendiri dari bukunya.

7. Lagi lagi tentang nazhar

Hm…kenapa sampai perlu dibahas dalam 2 bab? Karena menurut sejarah, nazhar ini penting sekali demi kelanggengan pernikahan nanti. Dan tak cuma bagi calon suami saja, calon istri pun perlu melihat calon suaminya. Efek buruk dari tidak melakukan nazhar ini dicontohkan pada seorang ikhwan yang pingsan setelah ijab qobul begitu melihat istrinya yang jauh dari harapan (lebay banget, sik?). Sebaliknya dikisahkan pula tentang istri Tsabits bin Qais yang minta cerai akibat baru mengetahui setelah menikah jikalau suaminya berwajah buruk rupa. Tapi tentu saja, nazhar di sini juga harus mematuhi etika, salah satunya adalah tidak menyebarkan aurat wanita yang telah dinazhar. Pun pihak lelaki juga harus benar-benar dalam niat pernikahan ketika akan melihat. Jangan sampai, niatnya “pengin liat doank” trus ditinggal. Lha kok nyimut?!

8. Di ujung penantian

Bila kita tidak meninggikan kriteria, sudah berusaha, namun jodoh belum juga ada, mungkin memang ini saatnya kesabaran kita sedang diuji.

9. Bila seorang wanita menawarkan diri

Justru adalah suatu kemuliaan bila seorang wanita yang karena takut mendekati zina, menawarkan diri pada laki-laki dia nilai baik agamanya.

Ada pertanyaan? Saya yakin, semua sudah jelas. ^-^v

Iklan

4 thoughts on “Kuliah 2: Cinta dan Pernikahan

  1. kalau ada “Khusus buat yang cowok”, kok ga ada yang “Khusus buat yang cewek”?
    kalau ada “(ngarepin bidadari? ngaca dulu sono!)” kok ga ada “(ngarepin laki2 baik? ngaca dulu sono!)”?

    It’s not fair!! 😀

    aku sangat setuju bahwa perempuan yang baik itu untuk laki2 yang baik. semoga semua orang mendapatkan yang terbaik dalam setiap langkah kehidupannya. amiin.

    => Hem, masalah bidadari itu sebenarnya sama aja baik buat cewek maupun buat cowok. Kan biasa itu, pake he/him buat sesuatu yang umum. Jadi ga usah mbahas dua-duanya, tapi itu udah berlaku untuk semua. Kalo masalah yang “khusus buat cowok”, lha subbab-nya judulnya memberi nafkah je… kan itu urusan cowok. Tapi kalo masalah mengenal istri, cewek juga seharusnya belajar mengenal suami. ^-^

  2. “Justru adalah suatu kemuliaan bila seorang wanita yang karena takut mendekati zina, menawarkan diri pada laki-laki yang dia nilai baik agamanya. ”

    emmm, syukurlah berarti apa yang pernah aku lakukan ternyata bukan hal yang memalukan.. yahhh, kan orang Jawa itu ketat dengan adatnya, apalagi dalam masyarakat pada umumnya seorang wanita itu harus menjaga harga dirinya untuk menahan dan membiarkan pria yang menawarkan pernikahan terlebih dahulu.. 😉

    => Oya? Pernah melakukannya? wah, aku harus berguru nih… tapi sampai sekarang aku masih keukeuh menganut falsafah orang jawa itu je… masih belum kepikiran untuk melakukankan hal sepertimu. Mungkin, akan jadi jurus terakhir kalo udah kepepet?! hehehe… :p

  3. Aku malah blom pernah baca buku2 yg ky gini. Modal nekat doank. Klo gt berguru sm mba nur dulu nih!!

    => Orang bilang pengalaman adalah guru yang paling berharga. Nah, aku yang cuma baca buku pasti kalah jauh lah sama yang mraktekin… hehehe ^-^v

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s