Ngluyur: sebuah postingan telat (bag. 2-habis)

7 Juni 2009

Untuk memenuhi keinginan ibu’ yang begitu menggebu-gebu ingin pergi ke BNS [biasa, dipameri rekan sekerja], sore itu kami sekeluarga: ayah, ibu’, aku, dan adikku, berangkat menuju BNS. BNS singkatan dari Batu Night Spectacular [namanya agak lebay ya…] merupakan tempat wisata baru di Malang, eh, maaf, Kota Batu dink… [mereka kan udah pisah ranjang]. Karena embel-embel night, maka aku berkesimpulan kalau wahana ini pastinya hanya seru di malam hari.

gambar dari flickr

Kami berangkat setelah Ashar. Perjalanan dari Malang Selatan Barat Daya ke Batu yang terletak di utara memakan waktu hampir 2 jam. Setelah sholat magrib di sebuah pom bensin, kami melanjutkan perjalanan. Ayah belum pernah ke sini. Jadi kami hanya melaju mengikuti petunjuk di jalan. Begitu nemu petunjuk pertama, kami langsung masuk ke jalan itu. Lho?! Katanya di Batu. Ini kan masih wilayah kabupaten Malang. Oh, mungkin masih jauh. Diteruskan, kok tempatnya serem gitu ya? Jalanan sangat sepi, kami jarang berpapasan dengan kendaraan lain. Tak terlihat rumah penduduk, kanan kiri hanya ada pohon-pohon besar, dan lampu penerang jalan hanya ada satu dua! Aku berpandangan dengan adikku dan tersenyum kecut. Wah, tempatnya layak buat syuting film hantu! Apalagi kami sempat melewati krematorium yang berdiri terpencil tanpa lampu satu pun! Hyaaahhh!! Serem banget!! [bersyukur menjadi orang yang ga pernah bisa liat penampakan] Baru bisa bernafas lega setelah menemukan rumah penduduk dan lampu-lampu. Ternyata memang kami salah jalan! Kqkqkq, ralat dink, salah pilih jalan. Jadi sebenarnya ada 2 jalan, dan “jalan resmi” ke BNS itu dari arah Kota Batu. Fiuh… untung ga terjadi apa-apa. :mrgreen:

Pertama kali liat BNS… jadi inget Puncak Pass. Di ketinggian gunung, di tengah kelamnya malam, tiba-tiba muncul obyek bercahaya! Kebanyakan pengunjung yang datang sepertinya dari Surabaya, mengingat banyaknya mobil pribadi berplat L di parkiran. Tidak ada bus wisata sekolah (mungkin karena masih pembukaan juga sih) Tempatnya terkesan “lumayan elit” dengan wahana-wahana bermain a la dufan mini, dari spin coaster, rumah hantu, hingga bioskop 4D. Tapi tiket masuknya murah, hanya Rp 10.000/orang. Itu pun dapat bonus diskon untuk beberapa jenis obyek di dalam [promo buk…]

Persinggahan pertama kami: bioskop 4Dimensi. Aku belum pernah nonton film 3 dimensi, apalagi 4 dimensi. Antrian lumayan panjang. Yang ngantri kebanyakan amoy-amoy (hush!). Masuk ke dalam, aku duduk bersebelahan dengan ibu’ , sedang adik dengan ayah. Dan dimulailah petualangan menuju tempat antah berantah, naik turun, dikocok-kocok… Seru banget sih! Aku sempat khawatir dengan keadaan ibu’, tapi ternyata beliau baik-baik saja [oh, jadi tahu bakat pencilakanku nurun dari sapa :p ]

Setelah dikocok-kocok, aku memutuskan persinggahan kedua harus tempat yang tenang. Pilihan jatuh ke taman lampion [bilang aja kamu milih yang ada diskonnya biar murah, nur!] Di taman lampion, ada banyak lampion beraneka bentuk, dari tokoh kartun, binatang, tumbuhan, hingga miniatur bangunan-bangunan terkenal, koyo to menara eiffel. Dari lampion berbentuk balon udara, kita bisa melihat kota bermandikan cahaya di bawah sana (benar-benar mirip Puncak). Di sini kami menyewa jasa tukang potret dan mengambil foto keluarga. Terpaksa, soalnya kamera hapeku ga punya blitz dan ga bisa dipake dengan cahaya remang macam gitu. Tarifnya Rp 15.000,hasilnya di print biasa. Tapi kami cukup puas karena foto keluarga lengkap terakhir yang kami punya adalah waktu pernikahan kakak sepupuku, 5 tahun lalu. Itu pun nebeng di acara pernikahan, dengan mengapit pengantin di tengah-tengah. Sangat ga pribadi. 😛

Image095
Kualitas fotonya jelek. Habisnya aku motret foto print-print-nan..

Selanjutnya: rumah hantu. Aku ngotot milih naik kereta. Setelah dibikin tegang beneran di perjalanan berangkat tadi, aku ga mau lah disuruh tegang-tegang lagi. Eh, ternyata jadi benar-benar ga tegang. Karena “tugas” kami adalah menembaki lampu merah agar bisa menjadi hijau sehingga hantunya bisa keluar. Walhasil, aku lebih konsen nembaki lampu-lampu, adikku menyetir, dan kami berdua tak peduli dengan hantu-hantu itu. Hihi… Adikku kecewa berat. Apalagi mendengar jeritan-jeritan dari bagian “pejalan kaki”, dia pengin balik lagi. Tapi sebagai pemegang keuangan malam itu, aku menjawab tegas: emoh!

Untuk mengobati rasa kecewanya, kuajaklah dia naik spin coaster. Udah bayar, udah masuk, udah duduk… lho, eh, spin coaster tu ada pengaman tengahnya ya?! Lha! Aku kan pake rok! Mana bisa?! Dasar dudul!! Kata mbak penjaganya, tiketku bisa ditukar dengan tiket bom bom car. Ne?! Seumur hidup aku belum pernah main bom bom car. Nyetir mobil, mana bisa?! Setelah adikku puas teriak-teriak di spin coaster, aku menawarkan tiketku. Laah, ternyata dia juga menolak karena ga yakin bisa mengendalikan bom bom car. [Huh, kenapa sih kami harus selalu mirip?!] So, hanguslah tiket itu. Yaaah…

Wahana terakhir: family swinger. Duh, jangan ketawa, ah! Ini kan nama doank. Bentuknya kaya komidi putar tapi isinya ayunan. Tentang ayunan ini, aku memang bersemangat sekali kalo liat ayunan. Aku naik hanya bersama ibu’, tentu saja di ayunan yang berbeda. Sekali lagi terkendala oleh rok, tapi kali ini ga pake pengaman tengah ga papa katanya. Jadi selama diputar di atas, aku berpegangan erat pada talinya. Enak, diayun gitu. Makanya jadi heran mendengar orang-orang lain pada jerit-jerit. 😀

Sebenarnya masih banyak wahana lain dan bisa dicoba. Juga ada pasar yang menjual berbagai souvenir. Tapi udah ah, udah malam… Kami pulang dengan perut kelaparan karena ga mau mampir di food court BNS yang pasti harga makanannya mahal. Akhirnya mampirlah kami di warung soto Lamongan di daerah Kebon Agung. Rp 4500/mangkuk udah puas banget. Sebenarnya ga perlu wahana mahal-mahal untuk meraih kepuasan, bukan?! ^-^v

Iklan

6 thoughts on “Ngluyur: sebuah postingan telat (bag. 2-habis)

  1. 1. Batu Night Spectacular….nggak seneng ma susunan kata-katanya. Kenapa nggak Wahana Rekreasi Malam Batu?

    2. Itu jalanan ndak sepi, cuma krn km ndak bisa “lihat” aja makanya sepi ^0^.

    3. Bersyukurlah warga Batu dan sekitarnya punya wahana rekreasi, jadi Ancol dan Dufan nggak penuh plat mobil L.

    =>
    1. Nah, ada satu lagi orang yang ga sreg ma namanya. Tapi masih mending, Wis, daripada “Wendit Water Park”. Duh, padahal itu tempat maen waktu kecil, tempat kera2 liar, diucapin dalam bahasa Jawa sebagai Mendit, kok tiba2 dpt embel2 water park… bikin mulut gatel aja… 😆

    2. *nimpuk wijna* enak aja!! 😀

    3. Orang Surabaya ke Dufan ya kejauhan lah, Wis… Yang aku herankan kenapa jarang sekali mobil plat N disana…:)

  2. adeknya nurnur kayaknya cakep *ehm kedip2*

    => Hoho…foto jeleknya aja masih dibilang cakep…

    Emang, Ta, udah banyak yang bilang gitu… hehehe 😀

    [kok mbaknya nggak, ya?! 😦 ]

  3. Kualitas fotonya jelek. Habisnya aku motret foto print-print-nan..

    kenapa ga discan aja?

    => Lha aku bingung nggolek scan-scanan ndek desoku sing mblusuk iku ndek endi è… 😀

    (Eh, baru menyadari perbedaan penggunaan kata “mblusuk” di jateng dan jatim :P)

  4. betul! hedon is minimalis.. ;P

    => Nyomeeenn!!! Dasar ceroboh! (eh, yang ceroboh itu Nur, ya?! lupa sign out sblm pergi :p)

    Yah, terpaksa deh, aku utak-atik komen. (perbuatan tidak terpuji)

    Yup, betul, sebenarnya kita bisa hedon dg minimalis… 😀

    [Walah, gambar mukanya masih pake avatarku. Yasud deh… Hihihi, ga pantes kamu pake lambang bunga krisan, Men!]

  5. Ping-balik: Boku no Imoto « C’est Moi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s