Two Way Monolog

  • Mbak Nur : Hei kamu!
  • Dik Diyah : [menoleh] Kenapa sih, mbak?!
  • Mbak Nur : Main terus! Kerjaanmu maiiinn mulu’ tiap hari! [cemberut]
  • Dik Diyah : Yee…daripada mbak… CEMBERUUUTT terus tiap hari…!!
  • Mbak Nur : Aku kan MIKIR! MI-KIR!! Hidup itu serius! Harus dijalani dengan serius!
  • Dik Diyah : [memandang polos, trus senyum2] Hee…[nyengir] Kerutan di dahi mbak jadi kliatan tuh…
  • Mbak Nur : KAMU!!

Hening

  • Mbak Nur : Capek ya…
  • Dik Diyah : Ne?!
  • Mbak Nur : Capek juga hidup kaya gini…
  • Dik Diyah : Itulah sebabnya Dik Diyah ada untuk mbak…[menaruh kepala di pundak mbak Nur]
  • Mbak Nur : Iya…[menghela nafas]
  • Dik Diyah : [mengangkat kepala, memandang wajah mbak Nur] Dik Diyah ada untuk menikmati hidup. Karena dengan begitu, mbak jadi ikut menikmati hidup…
  • Mbak Nur : Terima kasih…
  • Dik Diyah : Demo gomen ne, Dik Diyah ga bisa ngurangin beban mbak…
  • Mbak Nur : Ga papa. Itu kan tugasku. Aku akan terus bertahan agar kita dapat terus hidup…
  • Dik Diyah : Hai’… [meraih tangan mbak Nur, menggenggamnya] Dua untuk satu ya…
  • Mbak Nur : Iya, dua untuk satu…
  • Dik Diyah dan Mbak Nur : [saling memandang] Karena kita adalah satu tubuh…

Keduanya tersenyum bersama

Iklan

2 thoughts on “Two Way Monolog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s