Minna, aishiteru!

“Nilai hidup seseorang dapat dilihat dari jumlah orang yang mengantarkan ketika ia meninggal”

(manga Rurouni Kenshin, narasi pada prosesi pemakaman Kamiya Kaoru)

Seorang wanita berusia 83 tahun ditemukan meninggal dalam rumahnya di kawasan Menteng. Seorang tetangga yang curiga dengan bau busuk dari rumah tersebut, menemukan mayat sang wanita yang telah meninggal 11 hari lalu. Di kamar lain, ditemukan pula satu-satunya manusia yang masih tinggal di rumah itu: adik perempuan almarhum, berusia 81 tahun, dalam keadaan lemah hampir sekarat. Pemakaman segera dilakukan. Sangat sederhana. Hanya dihadiri beberapa tetangga, beberapa orang anggota perkumpulan yang mereka ikuti, dan seorang saudara jauh. Tragis!

Usut punya usut, kedua wanita tersebut ternyata tidak pernah menikah. Hanya tinggal berdua, jarang keluar rumah. Jarang bersosialisasi kecuali ke perkumpulan, jarang bersua tetangga. Tak ada suami, tak ada anak, tak ada keluarga…

Dari kecil, selalu ditekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Ketika dewasa, bisa bekerja, punya uang sendiri, kadang manusia jadi takabur. Uang bisa memenuhi semua kebutuhan. Namun, seperti yang orang Jawa Timur bilang:

Lek mati opo kate ngglundung dhewe?!

(Saat meninggal, apa bisa mengubur dirinya sendiri?!)

Ya, tak ada manusia yang bisa hidup tanpa orang lain.

Lebih sebulan lalu, aku sempat memberikan minum pada seorang gadis yang sedang kejang di pinggir jalan. Seorang bapak membantu gadis itu. Dari obrolan orang-orang yang berkerumun, rupanya sang bapak adalah ayah si gadis. Aku jadi membandingkan dengan keadaanku. Perantauan. Tanpa saudara. Jika aku di posisi gadis tersebut, siapakah yang akan menolongku?! Apalagi aku sering ngluyur seorang diri. Kadang tanpa membawa name tag. Padahal hanya sekeping name tag itulah identitasku yang terkait dengan kota ini.

Maka hanya pada teman-temanlah aku bisa bergantung.

Sayangnya, aku tahu kelemahanku yang tak bisa menjaga pertemanan ini. Sudah sedari kecil! TK ke SD, tak ada teman SD. SD ke SMP, tak ada teman SD. SMP ke SMA, ada teman tapi yang dulu di SMP tak pernah akrab. Begitu seterusnya. Kadang aku iri dengan orang-orang yang punya sahabat sejati, sahabat sejak kecil, yang akan terus akrab bahkan sampai di usia tua.

Tapi tak mengapa…

Karena itu, dengan sifatku yang tak bisa menyatakan perasaan ini, maka di sini aku ingin mengatakan: AKU MENYAYANGI KALIAN, TEMAN-TEMAN. Maafkan bila selama ini Nur sudah merepotkan. Maafkan bila selama ini Nur hanya menyusahkan. Maafkan bila Nur terlalu sering membuat kesal. Tapi sungguh, di tempat ini, selain Tuhan, aku hanya punya kalian…

Minna-san ga honto ni aishiteru! *-*

Iklan

5 thoughts on “Minna, aishiteru!

  1. Sesama petualang juga begitu, saling bahu-membahu di jalan. Apalagi sesama blogger juga harus saling tolong-menolong. Pokoknya kalau kita tidak ingin sendirian, maka buatlah orang lain tidak sendirian juga.

    => Membuat orang lain tidak sendirian juga?!

    Tapi bagaimana bila dirimu tidak pernah dimasukkan dalam rencana orang lain? Tidak diberitahu… Tidak dilibatkan…
    Aku pernah komen ditempatmu tt “memasukkan sesuatu ke dalam impian” kan?!

    Hehehe…lg agak stres nih…

    Nyanyi lagunya pakde ebiet ah! ^-^v

    Cinta yg kuberi…setulus hatiku…
    Entah yang kuterima…aku tak peduli…
    aku tak peduli…ow..ow..
    aku tak peduli…

    [OOT: Aku lebih suka kamu pake email ini, Wis…”Wajah”-mu jadi pink. hehehe…]

  2. wajahku jadi pink kepriwe maksudmu?

    Maksudnya kita memberi tanpa perlu menerima, dalam hal ini, kita buat orang lain tak sendirian tanpa perlu kita mengharap kita akan tak sendirian.

    Tidak perlu kau tunggu dirimu terlibat, tapi libatkanlah dirimu langsung. Kalau memang lingkunganmu membuatmu terkucil, yang termudah adalah kau mencari lingkungan baru atau jika mau tantangan, ubahlah lingkungan itu.

    Jangan stress, yang penting jangan racuni pikiranmu.

    => Iya. Di fesbuk juga dapet nasehat senada. Hee… {nyengir}

    Hm… sebenarnya aku merasa sudah pernah mencoba. Tapi kalo udah mencoba masih gagal juga?! Sepertinya aku memilih keadaan2 yang selama ini berulang: bertemu untuk berpisah. Tokh tidak pada semua teman hal itu akan terjadi 😦

    [wajah avatarnya…kalo kamu pake gmail kan bentuknya yang segienam berlatar ijo itu… 😉 ]

  3. haagg.. mba Nur..nusyuk sekali.. aku mati gak bisa mengubur diri sendiri.. mungkin memang penting sekali yah ada nya silaturahmi..

    eniwei.. atashi mo Nur-chan ga aishiteru yo.. (bener gak ya tulisannya?) .. tapi aku cuma bisa do’a dari jauh aja untuk mba Nur, setjara.. terpisah oleh ruang dan monitor 😆

    => Arigato ne, Mari-chan… Iya, penting bangets ituh… mari tetap menjalin silaturahmi… ^-^

  4. Ping-balik: Nggolek Mala « C’est Moi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s