Sandhyakala Ning Majapahit

Judul : Sandhyakala Ning Majapahit

Penulis : Sanoesi Pane

Penerbit : Pustaka Jaya, cetakan pertama 1971

Membaca buku jadul dengan ejaan yang belum disempurnakan, buku ini merupakan cerita drama 5 babak yang dimuat secara berseri pada majalah Timboel sepanjang tahun 1932. Seperti layaknya sastra tahun 20-30 an, Sandhyakala juga merupakan karya sastra “pengobar semangat” yang menyelipkan nilai-nilai perjuangan di dalamnya.

Alkisah adalah seorang Damarwulan, ksatria dari Paluh Amba yang berjuang menyelamatkan Majapahit dari pemberontakan Bupati Blambangan, Menak Djingga. Keberhasilannya membuatnya dianugerahi kedudukan oleh Prabu Suhita untuk menjadi Ratu Angabaja (jangan tanya dimanakah posisi itu di struktur kerajaan). Baru 4 tahun berselang, fitnah menyerangnya dari para ksatria, bangsawan, dan pemuka agama yang tidak menyukai pengaruh besarnya di kalangan rakyat. Akibat fitnah itu, Damarwulan dihukum mati. Diceritakan bahwa setelah kematian Damarwulan, Majapahit mengalami kehancuran dan dimulailah zaman Islam di Djawadwipa.

Favourite quotes:

  • “Kamulah, pemuda, harapan bangsa, kami jang tua tidak berdaja”
  • “Aku serasa sebatangkara di dalam dunia, seorang pengembara di padang jang tidak berwatas, jang diliputi awan kelabu”
  • “Engkau ada dan tidak ada selama-lamanya”
  • “Aku seperti bermain dengan diriku”
  • “Kehidupan tidak bisa dipikir: hanja bisa dirasai”

My opinions:

  1. Pada babak pertama aku merasa bahwa Damarwulan sebenarnya adalah juga seorang pemikir cenderung filsuf. Terlihat dari pendapatnya tentang dunia, penyatuan diri dengan dunia, dunia dan kehidupan adalah ada sekaligus tiada. Hm… (ga mudheng aku mas!)
  2. Pesan: betapa kebencian begitu membutakan nurani, fitnah bisa sangat kejam, dan konspirasi selalu terjadi dalam pemerintahan manapun.
  3. Beberapa quote yang kukutip di atas kurasa merupakan cerminan pribadi Sanoesi Pane sendiri, seperti terkutip di halaman belakang buku: yang menganggap dirinya seorang kelana yang berjalan kemana-mana mencari kebahagiaan dan kemudian sadar bahwa kebahagiaan itu didapatinya dalam hatinya sendiri.
  4. Orang jaman dulu suka membuat tulisan yang pendek tapi bernas. Yah, aku hanya membandingkan dengan buku-buku/novel-novel tebal jaman sekarang. Buku ini cuma terdiri dari 86 halaman, dengan ukuran halaman seluas setengah folio, namun isinya bisa membuat pikiran “kemana-mana” dan memaksa kita untuk merenung. ^-^v
Iklan

8 thoughts on “Sandhyakala Ning Majapahit

  1. Wah, baca fiksi sejarah juga dirimu yah? ehehe. Rata-rata memang buku masa lampau itu selalu menyelipkan petuah-petuah yang harus direnungi dalam-dalam oleh pembacanya. Makanya kan pengarang juga berkewajiban untuk membuat pembacanya menjadi cerdas.

    => Hehehe, pinjem temen seruangan. Iya, hanya tulisan yang bernilai-lah yang akan abadi… 😉

    [eh, jadi tertohok, prasaan tulisan2 di blog ini tidak ada yg mencerdaskan..T-T]

  2. haaaa…setidaknya membuat para pembacanya untuk instropeksi diri lah 😀

    emangnya blogku juga mencerahkan po? hehehe

    => Ya iyalah…berguna menyebarkan informasi tt candi2 dan melestarikan budaya bangsa. Btw, kalo ga baca artikel “teorema cinta”-mu, aku juga ga bakal sering main2 ke sana. Menurutku artikel itu “mencerahkan”… ^-^v

  3. waduhaduh™… dasar mbak2 djadoel! wkwkwkwkwkwkk

    ada tuh temenku (kakak kelas kita beberapa tahun) di pajak yang djadoel juga, mbak. kali aja cocok tuh. hwehe…

    eh, jangan2 mbak juga punya serat centhini, nih. hoho.

    v(^_^)

    => Eh, pajak mana? Boleh juga tuh…Kenalin donk! 😀

    Serat centhini? beli kamasutra aja sekalian ya?! :mrgreen:

  4. gak kuat gimana, bang dino? hwehe…

    v(^_^)

    serat itu pan kegemarannya bung karno, mbak. gimana orang2 gak bakalan nyinggung bagian negatipnya, coba? dengan serat itu orang jawa dah dicap porno, loh. hwehe… yah, sama kek ada yang ngecap “injil” itu porno.

    v(^_^)

    kalo kubaca sekilas sih emang gak terlalu mendidik kok mbak. filsafatnya terlalu aneh, sarat akan kejawen. sejarahnya juga agak sedikit menyimpang.

    => Oh..gitu ya? Aku inget, SMP pa SMA gitu, baca majalah yg nyinggung serat itu…katanya dari serat itulah disimpulin bahwa budaya jawa jg mengenal homoseksual. Aku sendiri lom pernah baca 😛

    • kalo mbaca di link yang aku kasih itu(dari mbah gugel)…isinya positif…tapi ada beberapa yang memang vulgar… tapi untuk bukunya sendiri, kayaknya ga tertarik…

      iya ga betah baca buku ejaan jadul

      => justru disitu seninya…membatja buku-buku lama, dengan kertas kekuning-kuningan, dengan bau yang chas buku lama…menjenangkan sekali! 🙄

  5. haduh, sayang sekali, aku ga terlalu suka buku-buku sejarah, apalagi yang tebalnya mengalahkan buku Advance Calculus milikku.

    => Mas Samsuulll…tolong ya dibaca lagi…tu buku tebelnya cuma 86 halaman….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s