Jagalah Lidah

Lupa-lupa ingat tentang satu kisah, diceritakan bahwa suatu hari Raja meminta seorang bijak di negeri untuk menyajikan masakan terlezat di dunia. Tak seberapa lama, sang Guru datang dengan membawa nampan berisi penganan. Raja mencicipi dan beliau sangat terbuai oleh rasanya yang benar-benar nikmat.
“Wahai Guru, daging apakah ini?!”
“Itu adalah daging lidah dan hati, Yang Mulia”
Terkesan oleh kepandaian sang Guru, Raja ingin menguji lagi. Kali ini, dia minta dibuatkan makanan yang paling tidak enak di dunia. Sang Guru keluar, lalu kembali dengan nampan yang berbeda. Sekali lagi Raja mencicipi, baru satu suap, makanan itu langsung dimuntahkan.
“Hieks, rasanya pahit dan amburadul sekali. Makanan apakah ini, Guru?!”
Sang Guru tersenyum, “Itu adalah daging lidah dan hati, Yang Mulia”.
“Wahai Guru, aku tak mengerti, bagaimana bisa dari daging yang sama, tercipta dua makanan yang bertolak belakang cita rasanya?!”
“Itulah Yang Mulia, dua kerat daging yang sifatnya seumpama pedang bermata dua. Saat hati baik, dan lidah hanya mengucap yang baik-baik, maka menjadi mulya lah si pemilik hati dan lidah. Namun saat hati butuk, dan lidah sering mengucap kata-kata terkutuk, maka sungguh pemiliknya adalah manusia terburuk.”

(Buat tuan dan puan yang lebih tahu kisah asli atau lengkapnya, silakan meralat) ^-^v

Akhir-akhir ini, aku sering bertengkar dengan temanku. Masalahnya sepele, silap lidahku menyakiti hatinya dan silap lidahnya menyakiti hatiku. Juga entah kenapa aku jadi sering mengalami, ucapan seorang yang lebih luas pengetahuan agamanya, atau yang lebih tinggi kedewasaannya, sungguh-sungguh menghujam ke ulu hati, membuat dada terasa nyeri. Sementara aku tak memungkiri, telah sering menyebar fitnah, atau berbuat ghibah. Hingga terpaksa aku menghiba, memohon maaf pada orang-orang tersebut.

Ada juga kisah temanku yang karena lidah seseorang, terpaksa mendapat marah dari para atasan. Atau cerita seorang senior yang di-“ganjal” teman sendiri hingga karier dan rejekinya mandeg. Duhai, betapa berbahayanya daging yang satu ini.
Dan tak cuma ucapan. Orang bilang, tulisan sama seperti perkataan. Yang ini bisa lebih runyam. Karena tidak bertemu muka, dan dalam kalimat pendek-pendek yang terbatas, orang jadi sering salah sangka. Repotnya, salah pahamnya tak bisa langsung diluruskan pula!

Karena itu, walau masih seminggu lebih jelang Ramadhan, di kesempatan ini Nur ingin meminta maaf untuk siapapun yang merasa telah Nur sakiti melalui perkataan, baik ucapan langsung maupun tulisan-tulisan. Sungguh, diriku hanya manusia yang jauh dari sempurna, yang penuh dengan khilaf dan alpa.

Honto ni, sumimasen ga…
(Sungguh-sungguh minta maaf…)

Jagalah lidah,
Agar tak jadi hina(h)
Jagalah lidah
Dari ghibah dan fitnah

Salam sayang selalu… ^-^v

[NB: Hehehe, lagune sing baris kedua mekso ya?! 😀]

Iklan

3 thoughts on “Jagalah Lidah

  1. Mohon maaf juga dari diriku untuk Nur apabila ada silap komentar yang tak berkenan di hati.

    Aaaaah, dunia yang penuh dengan kepolosan. Mungkinkah? dan nyamankah?

    => Iya, makasiihh…^-^

    Dunia penuh kepolosan, rasanya ga mungkin. Tapi kenapa kau ragu bahwa hal itu tidak akan nyaman?! @_@

  2. aku juga minta maaf ya nur, atas perbuatan, perkataan atau tulisan yang ga berkenan di hati. saling mendoakan ya, semoga Ramadhan kali ini kita bisa menjalankan ibadah puasa dengan baik. 😀

    => Amiin…^-^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s