Nggolek Mala

Setelah mengalami ngluyur yang sukses, ngluyur yang sial, ngluyur yang biasa-biasa aja, hingga ngluyur yang sangat menyenangkan, kali ini ngluyurku benar-benar nggolek mala alias “nyari penyakit”.

Sabtu, 15 Agustus 2009, karena ada suatu kepentingan bertemu dengan seseorang, aku pergi ke daerah Jatinegara. Dari kos naik mikrolet 37, turun Senen, oper 01A. Berangkat saja sudah deg-degan. Itu mikrolet 01A ngebut banget! Sepanjang jalan aku cuma bisa komat-kamit, hasbunallah wa ni’mal wakil… Mana (lagi-lagi) aku lupa ga bawa name tag. Tapi meski ngebut begitu, ternyata mas sopirnya baik banget. Karena aku belum pernah ke stasiun Jatinegara, dia nurunin tepat di depan stasiun, ngasih tarif yang benar, bahkan nunjukin tempat beli tiketnya ^-^

Turun dari mikrolet, ngecek HP, dan oww…ternyata sang bapak berhalangan dan baru bisa ditemui pukul 11. Padahal kami janjian jam 10 tepat. Ya sudah, kebetulan sebelum ke sana aku sempat browsing nyari tahu tentang Jatinegara, kabarnya pasar Jatinegara cukup layak untuk disusuri dan ada PASAR BURUNG! Yay! Sebagai penggemar bangsa aves, tentu aku ga akan melewatkan kesempatan ini. Lagipula 1 jam jalan-jalan menurutku lebih baik daripada aku menyumpah serapah sendirian…

Pasar Jatinegara

Ternyata pasar Jatinegara memang unik. Tokonya tua-tua. Aku lihat kaset Rhoma Irama asli yang entah dari tahun kapan. Toko sepatu jadul, toko kue jadul, bahkan ada tempat khusus nggiling kopi! Kopi robusta yang hitam itu…hmm…aromanya bikin kangen rumah! Masuk gang pertama yang kutemui (aku jalan dari arah stasiun), ada pasar unggas. Hasrat liarku untuk mengelus bayi-bayi unggas itu pun kambuh. Anak ayam, anak itik…Hehehe. Jalan terus ke dalam, ternyata masuk perkampungan. Karena lagi iseng, aku terus saja masuk gang. Gangnya kecil, tapi asri sekali. Rumah-rumah terlihat tua-tua, dengan gaya 70an hingga 90an. Semuanya penuh dengan bunga di halaman sempitnya. Wah, meski tinggal di Jakarta yang uyel-uyelan, kalo lingkungannya seperti itu boleh juga. 😀

Jalan terus, mentok, ternyata tembus ke tengah pasar burung. Wah, banyak burung unik! Agak sungkan juga jalan di situ karena kebanyakan pengunjung adalah laki-laki (tanya kenapa?!) Tapi sayang, di sini ga mungkin bebas ngelus-ngelus karena pasti langsung ditanyain sama penjualnya. Akhirnya aku memutuskan untuk jalan ke arah pintu keluar. Ternyata sebelum keluar, ada zona binatang-binatang air (ikan, penyu, dsb) sehingga daerahnya basah dan becek (dan bau) banget. Sudah itu adalah zona mamalia dan reptil (ada yang jual TOKEK!!Hiii) Berikut percakapan “mengenaskan” yang kudengar:
Bapak 1: Anak macan berapa, bang?
Bapak 2: Sejuta.
Bapak 1: Yah, mahal banget! 700 ya…
Binatang yang mereka bicarakan itu berupa seekor “kucing” kecil yang imut sekali. Aku ga tau jenis harimau apa, tapi memang masih keluarga felix sih. Sedih saja melihat binatang yang hampir punah kaya gitu masih diperdagangkan…

Mala 1: Transaksi

Eh, ternyata bapaknya dah datang. Segeralah aku meluncur ke lokasi. Agak bingung mengikuti petunjuk di telepon, namun akhirnya aku bisa juga menemukan “kantor” yang dimaksud. Tapi…tapi…kok gitu ya?! Jalannya sepi, jarang dilalui orang. Gedung-gedungnya tua, bercat putih, dan terlihat kotor. Lingkungannya mirip tempat yang biasa dijadikan syuting adegan kejahatan di film-film. Aku langsung menyesal kenapa jalan sendirian dan ga bawa teman untuk urusan sepenting itu.

Sang bapak memberi petunjuk agar aku langsung pergi ke lantai 2. Aku menaiki tangga yang udah cuil di sana-sini. Temboknya penuh coret-coretan. Hawanya benar-benar menyeramkan! Di otakku terbayang narasi, “korban terakhir terlihat memasuki kawasan… sesudah itu tak pernah terlihat lagi”. Hiks!

Masuk ke ruangan yang lebih mirip kantor era 90-an. Suasana tetap mencekam. Nuansa muram, tumpukan barang-barang, terasa tak pernah ada sentuhan wanita, dan meski 2 lampu nyala, ruangan tetap remang-remang. Sebuah kipas angin berbaling 3 hanya menempel di langi-langit, tak berputar. Rasanya seperti mau melakukan transaksi narkoba! Di ruangan sengeri itu, hanya berdua dengan seorang bapak yang tak pernah kutemui sebelumnya, aku cuma bisa berdoa dalam hati, memohon keselamatan.

“Transaksi” berlangsung sekitar setengah jam. Namun bagiku terasa sangat panjang. Hingga saat berjalan keluar pun aku masih meruntuki diri, kenapa berani sekali datang sendirian ke tempat seperti itu! Nggolek mala ae! Y-Y

Mala 2: Kucing Garong

Keluar dari sana, aku bingung. Mana mikrolet yang ke arah Senen? Dan herannya, jika tiap kali ngluyur atau nyasar aku selalu bertanya pada orang, kali ini aku benar-benar males nanya. Masih pukul 11.30. Dan seperti biasa, pikiran usil kembali muncul. Ini Jatinegara, kan?! Ke Senen naek KRL napa? O iya! Lagipula sudah hampir dua tahun aku ga pernah naik KRL lagi. Akhirnya, aku memutuskan naik KRL ekonomi (non AC) dengan harga tiket Rp1500. Jam keberangkatan: 12.05

Awalnya sambil menunggu, aku mau autis saja, on line fesbuk atau nyari-nyari apa gitu di internet. Syukurlah ga jadi dan malah terlibat pembicaraan ngalor-ngidul dengan seorang ibu yang juga sedang menunggu KRL. Beliau mau ke Kota. Seperti biasa, aku dikira masih anak kuliahan (terima kasih bu, tidak menganggapku anak SMEA 😀) dan dipanggil adik.

Pukul 12.05 lebih dikit, KRL pun datang. Aku mempersilakan ibu tersebut naik terlebih dahulu. Kereta lumayan padat. Ibu tadi mengajakku berdiri di tengah, tapi aku menolak karena jarak Jatinegara-Senen memang cuma selisih 2-3 stasiun. Walhasil aku berdiri di antara dua pintu, diantara orang-orang yang semuanya lelaki.

Waktu itu, aku bawa backpack. Semua uang, dompet, dan HP ada di dalamnya. Seperti biasa, demi keamanan, tas kuletakkan di depan dada. Kereta berangkat. Tak ada yang aneh kecuali seorang mas-mas yang berdiri di dekatku, dengan backpack hitam yang juga tergantung di dada, yang menurutku berkelakuan mirip orang gila, meracau dan memainkan pisau cukur sekali pakai (tau kan, yang kuning itu) di dagunya. Perasaanku mulai ga enak. Beberapa kali mataku bersitatap dengannya. Tiba-tiba saat kereta mengerem, tubuhnya “jatuh” ke tubuhku. Keras sekali hingga aku mundur selangkah. Aku kaget. Cukup lama kami beradu tas di dada dengan posisi dia terus mendorongku. Aku sadar, kereta cuma mengerem sebentar dan tidak sekeras itu. Segera terpikir: ADA YANG TIDAK BERES! Pada satu sentakan aku segera berbalik, dan benarlah: RESLETING TASKU YANG BAGIAN DEPAN SUDAH TERBUKA! Aku masih sempat melempar pandangan tak percaya pada laki-laki itu. Tapi setelah aku menutup kembali resleting tasku, laki-laki itu sudah menghilang.

Dalam keadaan shock, seorang bapak di sampingku berbisik padaku, “Hati-hati, dik! Di sini banyak kucing garong!” Aku membalas setengah sadar, “Iya pak, barusan juga…” Aku mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Wajah-wajah asing yang tidak bersahabat, sangat mencurigakan. Aku jadi merasa seperti seekor ikan di tengah kawanan kucing kelaparan. Untunglah, bapak itu menenangkanku. Beliau menyuruhku (sambil berbisik tentu) agar aku berdiri agak menyamping, mencari pegangan, dan menaruh tasku sedekat mungkin dengan body kereta, menjauhi pintu dan orang-orang. Sedangkan bapak itu berdiri di belakangku.

Satu stasiun… dua stasiun… perjalanan seperempat jam berasa sangat lama ditingkah jantungku yang masih deg-degan. Bahkan aku mulai curiga, jangan-jangan bapak itu juga berniat ga baik. Bukankah pencopet itu biasanya tak pernah sendirian?! Mungkin merasa aku risih karena dia berdiri terlalu dekat di belakangku, bapak itu bergeser dan berdiri di sampingku. Aku tersenyum kecut padanya. Padahal mau bilang terimakasih, tapi ga bisa. Detik itu juga, aku merasa seorang lain menempel di punggungku. Refleks aku menoleh. Seorang anak laki-laki seumur adikku, berdiri dengan muka cuek. Sekali lagi, jantungku berdebar keras.

Akhirnya sampai juga di stasiun Senen. Penumpang berdesakan turun. Bapak tadi sekarang di depanku, berteriak, “Pelan-pelan! Pelan-pelan!”. Sementara “adik” itu tetap menempeli punggungku. Aku berkelit di antara banyak orang, menjaga penuh tasku, memegangi resleting utamanya hingga menjejakkan kaki di peron. Belum sempat mengambil nafas, seorang ibu dengan tampang “kumuh” membisikiku sambil lalu, “Hati-hati, uangmu tadi hampir diambil!” Masih shock (lagi) setelah perjuangan turun tadi, dengan tak sadar aku memburu ibu itu, “Eh, maaf bu…siapa ya?” Benar-benar pertanyaan ngaco. Si ibu memandangku dengan tatapan menghina sehingga aku langsung sadar betapa bahayanya bila dia sebagai “orang jalanan” membocorkan rahasia seperti itu padaku. Namun tak urung aku jadi berpikir, siapa yang dimaksud oleh ibu itu. “Adik” tadikah? Atau malah bapak itu?

Aku berjalan keluar stasiun. Badanku terasa gemetaran. Perjuangan meloloskan diri 2x dari pencopet sungguh-sungguh menguras tenaga.

Terima kasih ya, Allah… Kau masih melindungiku… T-T

Tips naik KRL:

  • Lebih baik berdiri di tengah kereta, menghadap ke penumpang yang sedang duduk.
  • Jika terpaksa berdiri di pintu, arahkan tas pada body kereta. Jangan ditaruh menghadap orang lain yang juga sedang berdiri.
  • JANGAN PASANG TAMPANG LUGU. Jangan kikuk, dan bersikaplah bahwa anda sudah beribu kali naik KRL. (Paling aman sih tampil mbambes!)
Iklan

4 thoughts on “Nggolek Mala

  1. wah, salut dengan gaya berceritanya yang didramatisir…sanggup membuatku membaca dari awal sampai akhir…

    Pengalaman yang menarik…

    => Hem..emang nur ga biasa nulis esai, lebih biasa nulis cerpen…jadi ya gini. Tapi makasih dah baca curhat panjang ini.. 🙂

  2. Ping-balik: Ada Bunkasai di STAN « C’est Moi!

  3. Ping-balik: Ngluyur (part 6): nyasar | Cahaya Rembulan Usai Hari Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s