Atashi no Ototo é

Hari ini, 19 tahun yang lalu. Kamu lahir setelah aku merengek-rengek ke ibuk, minta adhek, buat teman… karena rumah kita di dalam kompleks sekolah dasar itu jauh dari tetangga. Lalu kamu hadir, cucu laki-laki pertama dari garis keluarga Kediri. Kamu begitu disayang, begitu dibanggakan. Tak heran, karena kamu memang begitu manis, lucu, dan menggemaskan.

Aku ingat, betapa gendutnya dirimu waktu itu. Tak kuat aku menggendongmu dengan tubuh kurusku (waktu itu masih kurus je). Kamu juga ga pernah nangis. Hahaha, itu sebabnya, aku ga pernah bisa momong anak kecil. Lha adhekku sendiri ga pernah rewel piye jal?! Cuma sekali kamu nangis gila-gilaan, waktu malam-malam, kita ditinggal ayah ma ibuk ke pasar. Ah, untung jauh dari tetangga, ga ngganggu, karena tangismu itu keras sekali tau! 😀

Agak gedean dikit, kalo ngambek kamu suka nggigit. Itu senjata ampuhmu. Berasa mirip angsa aja: nyosor! Dan gigitanmu sakit sekali! Hiks! Membekas, setengah jam baru hilang. Trus hobimu teriak-teriak: “Mbak Diyaaaahh…. uweeeesss!!!” Itu kalo kamu habis e’ek dan minta dicebokin. Kedengeran sampe ke kampung di belakang sekolah, pas aku lagi ngerjain tugas kelompok di rumah Utrik. Kalo marah kamu juga nyeremin. Inget ga, kamu pernah ngejar aku sambil bawa-bawa sapu. Aku juga lupa kenapa kamu bisa semarah itu. Aku segera kabur, lompat tembok pagar, sembunyi di kuburan. Ngintip sedikit dari tembok, dirimu masih dengan mata jelalatan dan sapu teracung, mencari-cari keberadaanku. Lama baru aku berani pulang.

Masa sekolah di Saptorenggo cuma berlangsung setahun. Kelas 2, kita pindah ke Ngadirejo. Di sinilah karaktermu terbentuk. Lebih dekat dengan tetangga, kamu lebih bisa bersosialisasi daripada aku (sedang aku juga sibuk dengan sekolahku yang jauh). Di kampung itu, jika bertanya letak rumahnya Bu Kasiati atau rumahnya Aziz, pasti semua tahu. Lha kalo Nur atau Pak Imam, jadi bingung. Nur siapa? (ga ada yang kenal) Pak Imam yang mana? (karena ada 3 orang bernama Imam, hehehe)

Pergaulanmu luas, apalagi sejak ikutan pramuka dan lomba siswa teladan. Temanmu sampe desa sebelah, sampe daerah kecamatan. Jujur aku suka melihatmu seperti itu. Seperti membalas dendam atasku yang ga bisa bersosialisasi ini. Tak apa aku terpuruk di pergaulan, tapi kamu harus mewarisi bakat ayah dan ibuk yang gampang bergaul itu.

Sampai sekarang, orang-orang masih suka membandingkan prestasi akademik kita. Tapi kamu tahu?! Ibuk sangat percaya padamu. Aku cuma menang beruntung, menang rajin, makanya aku bisa seperti ini. Kamu punya bakat. Ibuk percaya itu. Dan aku juga mempercayainya.

Masa ABG, banyak orang memuji-muji ketampananmu. Hahaha, memang, kamu tumbuh jadi pemuda yang cakap dengan postur tubuh yang bagus. Darah keluarga Malang benar-benar mengalir di tubuhmu. Ganti aku yang minder: mbake gini kok adhiknya gitu?! Hihihi… rasanya memang beberapa orang ga percaya kalo kamu adik kandungku. Tapi gapapa. Aku bangga. Bangga donk punya adhek cakep! Dan aku senang sekali pas kamu beberapa kali menang lomba peragaan busana muslim di sekolah, meski semua yang kamu pake merupakan barang pinjeman. Hadiahnya dibagi rata, ke teman-teman kelas dan teman-teman yang meminjamimu baju dan sendal. Salut aku, Ziz!

Banyak hal lain yang kukagumi darimu. Sikap hematmu, jauh lebih hemat dari aku. Dengan penataan keuangan yang luar biasa sehingga kamu bisa membeli baju untuk dirimu sendiri, dengan tetap gaul (mengeluarkan “social cost”) bersama teman-temanmu. Sikap nrimomu, yang ga pernah nuntut apa pun dari ibuk, ga pernah marah atas keadaan (malah aku yang marah). Sikapmu di pergaulan, gaul tapi syar’i. Disayang guru agama, tapi juga berteman dengan anak sasana. Ikutan mbangun panggung untuk Isra Mi’raj, tapi jangan coba ada yang berani mengganggumu, karena teman-temanmu termasuk orang yang “selalu siap bertarung” (iya, aku tahu, kamu ga pernah ikutan tawuran yang sebenarnya). Kamu juga ga pernah pacaran, meski banyak juga cewek yang mengejarmu (aku juga tahu itu).

Namun tetap saja, dengan semua itu, aku masih suka menganggapmu anak kecil. Kamu memang masih suka bermanja, tiba-tiba ke kamar pas aku pulang, ndusel-ndusel kaya anak kucing. Mungkin selamanya aku akan menganggapmu anak kecil.

Tapi kemarin, kamu sukses membuatku menangis. Waktu kamu cerita tentang impianmu, waktu kamu menjelaskan tentang plan A, B, dan C dari hidupmu. Aku terkejut. Aku gugu. Dirimu yang sanguinis bisa membuat rencana hidup sedetail orang melankolis?! Bahkan berani mengambil resiko sebesar itu?! Yang aku sendiri tidak bisa membayangkannya, tidak bisa menerimanya. Bahkan ketika aku mencoba menunjukkan halangan yang mungkin ada, kamu bisa menjawabnya dengan baik. Sepertinya aku terlambat menyadari, kau kini telah dewasa. Jauh lebih dewasa daripada aku.

Ya. Kamu sudah berubah. Bukan lagi anak kecil. Kamu sekarang seorang laki-laki dewasa. Laki-laki yang siap menghadapi dunia. Laki-laki yang mengerti bahwa hidup itu memang keras namun harus tetap dijalani.
Tak mengapa sedikit bermanja, karena justru aku sering kangen dengan kemanjaanmu.

Maka di hari ini, aku cuma bisa berdoa, semoga rencana terbaikmu, semoga segala impianmu, dapat terwujud. Semoga sisa usia adalah usia-usia yang semakin membawa berkah. Semoga terus ditetapkan dalam keimanan. Semoga dirimu selalu terjaga kesehatan, dilindungi dari kejahatan, dan dilimpahi rizki yang barokah. Mbakmu ini ya cuma bisa berdoa, mbantu dikit-dikit kalo bisa… karena ini adalah hidupmu sendiri.

Itsumademo, kimi ga atashi no ototo desu!

Otanjoubi omedetou gozaimasu…

Iklan

4 thoughts on “Atashi no Ototo é

  1. Selamat ulang tahun juga buat Aziz. BTW, dulu pas masih kecil, aku sama adekku tiap hari bertarung jew.

    => Trimakasih… ^-^

    Ckck… Kamu udah lebih gede, cowok pula! Kan kasihan adikmu… :p

  2. trima kasih mbak selama ini aku ngerti banget wiz akeh ngrepoti sampeyan!! sepurane lek aku wz akeh duso nang sampeyan…,,,,

    => iyo ziz, podho2…

  3. waktu baca paragraf2 awal…aku sepert melihat diriku dengan adikku, bedanya imotou (ade perempuan). Perasaaan minder yang sama, perasaan ‘kok bisa nrimo kaya gitu seh?’ yang sama, hahaha…

    Baru sadar aku sayang banget sama adekku waktu aku harus merantau untuk belajar di ibukota…waktu liburan berasa seneeeng banget…

    => kalo jauhan itu rasanya “pasti” makin sayang deh… 🙂

  4. Ping-balik: Boku no Imoto « C’est Moi!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s