Meracau

Sebelumnya mohon maaf buat Inke yang sudah saya jiplak gaya penulisannya di sini. Saya hanya menuruti saran (mantan) mbak kost dan tulisan terakhirmu bahwa menulis bisa menjadi semacam therapy untuk mengurangi stres. Ga terlalu mirip kok, ke. Saya kan ndak bisa gahul dan masih kepikiran macem-macem kalo mau nulis.

Saa, ikuzou!

Kemarin pas lewat di daerah Cempaka Putih ada pengerukan sungai. Tanah yang dikeruk dari dasar warnanya hitam legam. Jadi inget dulu pas SD ada buku terbitan 80-an, tipis saja, judulnya “Tirta”. Sangat sederhana, bercerita tentang perjalanan setetes air. Mau ga mau saya jadi mbandingin Tirta dengan nasib sebutir tanah dasar sungai itu. Sebutir tanah, pastinya dia sudah ada sejak jaman purba. Lebih lama dari umur manusia. Pasti dia telah melalui perjalanan selama jutaan tahun, mengalami berbagai kisah. Andai jadi dia, saya pasti sudah marah-marah. Ini manusia ga tahu malu! Udah numpang, ngrepotin yang punya rumah pula! Ngasih racun macam-macam sampai warnaku jadi hitam legam! (Sayang, sampai sekarang saya sendiri ndak bisa mandi tanpa memakai sabun, ndak bisa gosok gigi tanpa odol, ndak bisa nyuci tanpa deterjen. Maafkan saya, ya, bumi!)

Saya sangat bersyukur tidak lahir sebagai anjing. Betapa menderitanya bila dari lahir saya sudah dicap najis dan ndak boleh didekati, ndak boleh disentuh-sentuh. Benar-benar kutukan! Saya juga ga terima nama saya dijadikan umpatan. Ah, syukurlah pula bahwa Dia menciptakan binatang tanpa akal. Kalo saja saya anjing dan saya bisa berpikir, mana mau saya dikasih rantai di leher, diseret-seret, disuruh-suruh. Syukurlah saya bukan anjing…

Setelah ngefans berat dengan depapepe, dan sebelumnya juga cinta mati ma tetsu, akhir-akhir ini saya suka lihat cowok maen gitar. Lama-lama kagum dengan alat musik yang satu ini. Yah, secara saya ndak bisa main alat musik apapun. Kalo piano kan saya lebih suka ndengerin dia sebagai musik instrumental. Biola juga, mending main bareng-bareng alat musik lain mengiringi lagunya laruku misal. Sentuhannya sedikit saja, jangan kebanyakan. Tapi kalo gitar?! Cukup satu gitar dan kau bisa bernyanyi! Genjrang-genjreng sendiri udah jadi satu lagu. Padahal kliatannya “cuma” mindahin jari-jari gitu kan ya?

Dikdiyah: hayo, berarti mbaknur suka merhatiin pengamen!
Mbaknur: gitarnya!! Gitarnya doank!

Saya sedang suka dengan reff lagunya Pee Wee Gaskin. Saya ndak tahu band ini, hanya kemarin seorang teman mengirimkan liriknya kepada saya waktu saya lagi down. Diantara semua lirik, saya cuma suka kalimat “Berdiri terinjak, hadapi hidupku! Berdiri beranjak, kau bukan lawanku”. Saya suka ambiguitas yang terkandung di dalamnya. Yang pertama seolah-olah si fulan berkata, “Aku ga akan peduli padamu, semesta! Apapun yang akan kau lakukan padaku, itu tak akan cukup untuk merobohkanku. Aku akan pergi, bukan karena aku kalah, tapi karena aku ga ada waktu untuk meladeni kekerdilan jiwamu!” Yang kedua, bisa juga kalimat itu berarti, “Udah, cukup! Aku ga pengin membalasmu. Bukannya aku takut, tapi karena kau adalah temanku. Aku pergi sekarang, karena aku ingin, kita tetap berteman.” CMIIW

Saya lebih suka denger panggilan “nduk” atau “le” daripada “nak”. Mungkin karena udah luar dalem jawa, jadinya agak gimanaa gitu ndenger orang tua manggil anaknya “nak”. Padahal ya ga salah…Daripada panggilan-panggilan yang buruk. Tapi ndak tahu kenapa, kalo dipanggil “nduk” itu kok jadi merinding, ya?! Berasa sangat dilindungi, dieman-eman… @_@

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s