Mereka Memilih Agamanya

Suatu hari selepas sholat ashar, tiba-tiba senior saya ngomong:

“Suami saya, nur, kalo kami lagi tengkar tuh, suka bilang gini…’Bu, sholat dulu yuk!’ trus saya bilang ‘Emoh! Ga mau sholat!’. Trus dia bilang lagi, ‘Eh, ibu, dalam keadaan apapun, sholat itu ga boleh ditunda..’ Yaaa, akhirnya kita sholat bareng deh. Trus, udahan deh marahannya…” [dengan muka malu-malu]

Aku bengong beberapa detik, lalu cuma bisa berkata, “Sooo sweeettt….!!!”

Sudah itu mengalirlah cerita tentang pernikahannya. Dikisahkan bahwa ketika bertemu dulu, suaminya masih bekerja di proyek (mbangun-mbangun gedung gitu lah!) Mereka menikah dengan kondisi pendapatan senior saya, yang meski masuk PNS sebagai golongan I, masih lebih tinggi dari pendapatan suaminya. “Saya milih dia karena agamanya, nur. Saya liat dia sholatnya rajin. Orangnya juga sabar dan telaten banget. Ngemong banget gitu lah”

Awalnya keadaan masih berjalan mulus sebagai pengantin baru, meskipun ada kekhawatiran akan sulit mendapatkan momongan gara-gara sesuatu hal. Tapi suami senior saya bilang dengan tenangnya bahwa dia siap kalau mereka sampai terpaksa mengangkat anak. (Wow, sungguh kebesaran hati yang sangat!) Satu hari ketika ada kesempatan mengambil KPR, senior saya mengambil rumah di daerah Bekasi. Mereka pindah ke rumah baru. Baru beberapa bulan, tak disangka, suaminya tiba-tiba dipecat dari pekerjaan. Padahal gaji senior saya sudah sebagian terpotong untuk membayar KPR. Di tengah kekacauan itu, senior saya hamil. Kehamilan yang seharusnya sudah ditunggu-tunggu, namun kebahagiaannya terpaksa ternoda oleh kekalutan bagaimana cara mendapatkan uang. Selama dua tahun, hingga lewat kelahiran anak pertama itu, suaminya kerja serabutan. Dari ngojek sampai ikut borongan. Begitulah, mereka mencoba terus bersabar.

Sekarang, suami senior saya sudah bekerja kembali di proyek yang lain. Bahkan jabatannya jauh lebih baik dibandingkan dulu. Anak pertama mereka juga tumbuh dengan sehat. Terakhir aku dengar mereka sedang merenovasi rumah. Sepertinya, mendung itu telah berlalu.

Cerita ini membuat saya terkenang pada kisah ibu saya sendiri. Ibu’ juga pernah cerita, dasar beliau untuk memilih ayah adalah agamanya. Memang, dibanding laki-laki lain yang waktu itu mengejar ibu’: tentara yang gagah, atau teman guru dengan warisan yang banyak, ayah seolah tak ada apa-apa. Laki-laki kurus ceking dari Kediri, dengan muka pas-pasan pula, dan pangkat golongan yang sama persis dengan ibu’. Bedanya, ayah lulusan PGA. Seorang guru agama. “Hidup itu kan ga cuma di dunia. Ibu’ pengin di akhirat ibu’ juga selamat”, begitu kata ibu’ dalam bahasa Malangan. (Insyaallah, bu’, amiinn..)

Maka begitulah, mereka memilih (berdasar) agamanya. Dan mereka bahagia.

Eits, ini bukan berarti saya lagi dalam keadaan bimbang mau memilih, lho! Nggaaak, nggak ada proposal di depan saya. Hihihi. Cuma ingin berbagi kisah teladan. Sayang kan, kalau saya saja yang menyimpannya sendiri. [kedip]

Shiawase kudasai, minna san! ^-^v
(=berbahagialah semuanya!)

Iklan

One thought on “Mereka Memilih Agamanya

  1. iyah mba Nur !! kisah ini jangan disimpan sendiri~ *2matanya kedip2*

    ahhh aku senang sekali mbaca ini mba Nur, makin termotivasi dan semangat dalam memilih apa-apa berdasarkan agama..
    insya Allah, hawa nafsu yg tak berguna jadi kocar kacirr

    (*n*)9 .. osu~!

    heheu..so sweet..

    => Hai’, atashi mo gambarou! ^-^9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s