Ular dan Ayam

Kadang saya merasa, saya ini seperti ular.

Hm, bukan badan saya kurus panjang atau saya ganti kulit tiap bulan. Tapi seperti lidah ular yang bercabang, saya merasa punya dua muka. Singkat kata, sangat munafik. Dan sangat membahayakan!

Waktu SMP saya pernah membaca suatu cerpen Rusia terjemahan. Tentang seorang perempuan: baik, lemah lembut, tipe wanita yang harus dilindungi, yang seolah tidak akan menyakiti siapapun. Tapi ternyata justru dengan kelemahannya yang harus selalu dilindungi itu, dia menghancurkan kehidupan semua orang di sekelilingnya, orang-orang yang mencintainya. Semisal anak perempuannya yang tidak pernah menikah hanya karena terlalu takut, bagaimana bila nanti mamanya jadi kurang perhatian dsb dsb…

Saya tidak tepat seperti itu persis sih… Cuma kadang saya merasa betapa sikap saya ini seperti lidah si ular tadi. Ketika saya bercerita pada teman-teman, bahwa saya sudah dibeginiin atau digituin sama seseorang, bahwa saya (seolah-olah) sangat menderita, bahwa saya sudah didzolimi… lalu teman-teman jadi benci sama orang yang sudah mendzolimi saya itu. Cih! Bukankah saya sudah jadi seperti ular?!

Padahal kalau dirunut ke belakang, belum tentu saya benar-benar terdzolimi. Malah bisa jadi semua itu memang salah saya. Bahwa sayalah yang mula-mula membuatnya. Atau mungkin saya sebenarnya bisa mencegahnya, tapi tidak saya lakukan. Saya pernah melihat seekor ayam betina mematuk ayam betina yang lain. Apa reaksi si betina yang terpatuk?! Dia DIAM! Dan dia membiarkan dirinya dipatuk! Seolah-olah dia ga bisa lari. Padahal ga mungkin kan si pematuk akan bisa menangkapnya?! Kan ndak punya tangan. Palingan juga dikejar-kejar sepanjang pekarangan. Atau sukakah dia dipatuki seperti itu? Rasanya wajahnya menunjukkan kebencian juga…

Waktu melihat adegan tersebut, saya membodoh-bodohkan si ayam terpatuk. Tapi setelah merenung, ternyata saya sama bodohnya dengan dia.

Atau memang hukum karma yang berlaku?! Bahwa sebenarnya saya telah mematuk orang lain? Atau suatu saat nanti saya AKAN mematuk orang lain? Karena pada hadis yang pernah dikirim seorang kawan kepada saya, kurang lebihnya bunyinya: “seseorang tidak akan dibiarkan mati sebelum dia melakukan seperti apa yang dihinakannya”.

Mungkin memang, saya pernah mematuk orang lain. Ditambah lagi saya juga bodoh seperti si ayam. Maka kawan, janganlah risau bila kau lihat luka-luka patukan ini. Sungguh, semua ini memang saya yang membuatnya sendiri.

NB: Bahkan tulisan ini masih bernada mengadu domba. Ck!

Iklan

One thought on “Ular dan Ayam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s